SETELAH wafatnya Abu Thalib, perlindungan politik bagi Nabi Muhammad SAW di Mekah praktis menghilang. Kaum Quraisy yang sebelumnya segan, mulai berani melakukan intimidasi fisik secara langsung.
Dalam situasi genting ini, Nabi Muhammad SAW berangkat menuju Thaif dengan harapan mendapatkan suaka dan dukungan dari Bani Thaqif. Beliau pergi dengan berjalan kaki bersama Zaid bin Haritsah untuk menghindari kecurigaan kaum Quraisy.
1. Penolakan Menyakitkan dari Pemimpin Thaif
Setibanya di Thaif, Rasulullah SAW menemui tiga bersaudara pemimpin Bani Thaqif yaitu Abdu Yalail, Mas’ud, dan Habib. Beliau mengajak mereka untuk memeluk Islam dan membantu melindungi dakwahnya.
Namun, jawaban yang diterima sangatlah kasar dan menghina. Salah satu dari mereka berkata, "Jika Allah mengutusmu, aku akan merobek kelambu Ka'bah." Yang lain berkata, "Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain dirimu?"
Tidak hanya menolak secara lisan, mereka juga memerintahkan para budak dan anak-anak kecil untuk berdiri di sepanjang jalan keluar kota guna menyambut Nabi dengan makian dan lemparan batu.
2. Tragedi Pelemparan Batu dan Luka Fisik
Saat Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah melangkah keluar dari Thaif, hujan batu menghujani mereka. Zaid bin Haritsah berusaha menjadi tameng hidup, melindungi kepala Nabi hingga kepalanya sendiri terluka parah.
Rasulullah SAW mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya. Darah mengalir hingga membasahi dan mengering di dalam alas kaki (sandal) beliau.
Dalam kondisi yang sangat lemah dan terluka, beliau berhasil mencapai kebun anggur milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah. Di sana, beliau beristirahat dan memanjatkan doa yang sangat masyhur, pengaduan tulus kepada Allah tentang kelemahannya di hadapan manusia.
3. Tawaran Malaikat dan Puncak Kasih Sayang
Di tengah kondisi yang sangat memprihatinkan tersebut, Allah SWT mengutus Malaikat Jibril bersama Malaikat Penjaga Gunung. Malaikat tersebut menawarkan untuk menghimpit penduduk Thaif dengan dua gunung besar (Al-Akhsyabain) sebagai balasan atas perlakuan kejam mereka.
Namun, di sinilah karakter agung Rasulullah SAW bersinar. Beliau menolak tawaran tersebut dan justru berdoa, "Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui. Aku berharap agar Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."
Baca juga: Ujian Keimanan setelah Isra Mikraj, Belajar dari Abu Bakar
4. Mengapa Peristiwa Thaif Terjadi sebelum Isra Mikraj?
Secara spiritual, peristiwa Thaif merupakan ujian kelayakan terakhir sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat ke langit. Ada beberapa hikmah mengapa urutan ini terjadi:
- Pembersihan Jiwa: Nabi Muhammad SAW dibawa ke titik terendah secara kemanusiaan agar saat beliau mencapai titik tertinggi (Sidratul Muntaha), beliau tetaplah hamba yang tawadhu.
- Kepastian Pertolongan: Setelah ditolak oleh penduduk bumi (Mekah dan Thaif), Allah menunjukkan bahwa penduduk langit menyambutnya dengan sukacita.
- Keseimbangan Dakwah: Isra Mikraj memberikan kekuatan mental bagi Nabi untuk menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan, termasuk hijrah ke Madinah.
Baca juga: Mengapa Isra Mikraj Terjadi pada Malam Hari Ini Penjelasannya
5. Sisi Lain yang Jarang Dibahas
Banyak literatur hanya fokus pada penderitaan fisik Nabi. Namun, poin penting yang sering terlewat adalah peran Zaid bin Haritsah. Kisah Thaif adalah bukti kesetiaan luar biasa seorang sahabat yang rela mati demi melindungi gurunya.
Selain itu, pertemuan Nabi dengan Addas (seorang budak Nasrani di kebun anggur) menunjukkan bahwa di tengah ribuan orang yang menolak, Allah selalu mengirimkan satu jiwa untuk memberikan penghiburan kecil.
Baca juga: Alasan Allah Perjalankan Nabi Muhammad SAW dalam Isra Mikraj
Hikmah dari Peristiwa Thaif
- Keteguhan Niat: Kegagalan di satu tempat (Thaif) bukan berarti akhir dari perjuangan.
- Manajemen Emosi: Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan doa kebaikan.
- Optimisme Jangka Panjang: Nabi melihat potensi kebaikan pada keturunan orang-orang yang menyakitinya.
- Tawakal Mutlak: Mengadu hanya kepada Allah saat merasa lemah di hadapan manusia.
- Persiapan Mental: Luka di bumi seringkali merupakan pembuka pintu kemuliaan di langit.
Baca juga: Tafsir Ayat Isra Mikraj dari Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Wahbah Zuhaili
Pertanyaan Seputar Dakwah Nabi ke Thaif
- 1. Berapa lama Nabi berada di Thaif?
- Rasulullah SAW berada di Thaif selama kurang lebih 10 hari untuk berdakwah kepada para pemimpin dan penduduknya.
- 2. Siapa sahabat yang menemani Nabi ke Thaif?
- Zaid bin Haritsah, yang saat itu sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Nabi.
- 3. Apa doa yang dibaca Nabi saat di kebun anggur Thaif?
- Doa tersebut dikenal sebagai Doa Thaif, yang diawali dengan kalimat: "Allahumma ilaika asyku dhu'fa quwwati..." (Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku...).
- 4. Siapa Addas dan apa perannya?
- Addas adalah seorang budak beragama Nasrani yang memberikan anggur kepada Nabi dan akhirnya memeluk Islam setelah mendengar Nabi menyebut nama Allah.
- 5. Mengapa Nabi tidak menerima tawaran Malaikat untuk menghancurkan Thaif?
- Karena Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil 'Alamin), bukan sebagai penghancur.
- 6. Apakah ada penduduk Thaif yang masuk Islam saat itu?
- Hanya Addas yang tercatat masuk Islam secara langsung pada saat kejadian tersebut.
- 7. Apa hubungan Thaif dengan Amul Huzni?
- Perjalanan ke Thaif dilakukan tak lama setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, sebagai upaya mencari jalan keluar dari kesedihan dan tekanan di Makkah.
- 8. Bagaimana kondisi fisik Nabi setelah dari Thaif?
- Nabi mengalami luka-luka yang cukup parah hingga darahnya membeku di sandal beliau, menunjukkan betapa brutalnya pelemparan batu tersebut.
- 9. Berapa jarak antara Makkah dan Thaif?
- Jaraknya sekitar 60-70 kilometer, yang ditempuh Nabi dengan berjalan kaki melewati medan pegunungan yang terjal.
- 10. Kapan peristiwa Isra Mikraj terjadi setelah dari Thaif?
- Sebagian besar ulama berpendapat Isra Mikraj terjadi beberapa bulan setelah peristiwa Thaif, sebagai bentuk hadiah dan penghiburan dari Allah.
Baca juga: Pendapat yang Menguatkan Isra Mikraj pada Malam 27 Rajab
Kesimpulan
Peristiwa Nabi dilempar batu di Thaif adalah puncak dari ujian kesabaran seorang Rasul. Di kota inilah, nilai kemanusiaan dan kenabian berpadu dalam sebuah sikap pemaafan yang tak tertandingi.
Dengan menolak menghancurkan mereka yang menyakitinya, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa dakwah bukan tentang menaklukkan wilayah, melainkan memenangkan hati. Luka-luka di Thaif inilah yang kemudian dibasuh oleh Allah melalui perjalanan Isra Mikraj, membuktikan bahwa setelah kesulitan yang amat sangat, pasti akan datang kemudahan dan kemuliaan yang tinggi. (I-2)
PENAFIAN
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.
