MEMASUKI pertengahan hingga akhir bulan Rajab, masyarakat Muslim di Indonesia biasanya mulai disibukkan dengan berbagai persiapan peringatan Isra Wal Mikraj Nabi Muhammad SAW. Tradisi yang telah berjalan harmonis selama berabad-abad ini belakangan sering kali mendapat sorotan tajam.
Muncul pertanyaan di tengah umat: Apakah merayakan Isra Mikraj itu termasuk bidah? Benarkah peristiwa agung tersebut terjadi pada tanggal 27 Rajab? Tulisan ini disadur dari penyampaian Gus Ajir Ubaidillah dalam Youtube.
Kontroversi Tanggal Isra Mikraj: Benarkah 27 Rajab?
Salah satu poin yang sering diperdebatkan adalah kepastian waktu terjadinya Isra Mikraj. Sebagian kalangan menyatakan bahwa tidak ada riwayat sahih yang secara presisi menyebutkan tanggal kejadiannya. Namun, jika kita menelaah literatur klasik, terdapat ragam pendapat ulama mengenai hal ini:
- Pendapat Pertama: Terjadi pada bulan Rabiul Awal (setahun sebelum hijrah). Ini merupakan pendapat yang didukung oleh Al-Imam An-Nawawi dalam sebagian kitabnya.
- Pendapat Kedua: Terjadi di bulan Ramadan atau Syakban, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir.
- Pendapat Ketiga (27 Rajab): Pendapat ini memiliki legitimasi kuat karena bersumber dari Ummul Mukminin Aisyah RA. Beliau menyatakan peristiwa ini terjadi satu setengah tahun sebelum hijrah, tepatnya di bulan Rajab.
"Yang menyatakan 27 Rajab tidak tanggung-tanggung Ummul Mukminin, orang terdekat Nabi SAW, orang yang secara khusus dipuji Nabi SAW dalam banyak hadisnya. Pendapat ini mendapat legitimasi para ulama," tutur Ajir.
Pendapat yang menguatkan 27 Rajab sebagai malam Isra Mikraj juga didukung oleh banyak ulama besar, di antaranya:
- Al-Hafiz Abdul Ghani Al-Maqdisi: Menyebutkan bahwa pendapat yang unggul (rajih) adalah malam 27 Rajab.
- Al-Imam Ibnu Jauzi: Dalam kitab Al-Muntadzim, beliau secara tegas menyebutkan 27 Rajab tanpa menyebutkan adanya khilaf (perbedaan).
- Al-Imam An-Nawawi: Dalam kitab Ar-Raudhah, beliau mengisbatkan pendapat bulan Rajab mengikuti Imam Ar-Rafi'i.
Menjawab Tuduhan Bidah dalam Peringatan Isra Mikraj
Kritik yang sering muncul adalah bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah merayakan Isra Mikraj secara seremonial. Lantas, bagaimana ulama menyikapi hal ini? Al-Imam As-Suyuti dalam kitab Al-Hawi lil Fatawi memberikan penjelasan menarik menggunakan analogi hadis Bukhari tentang puasa Asyura.
Ketika Nabi SAW tiba di Madinah dan melihat kaum Yahudi berpuasa di hari Asyura sebagai bentuk syukur atas selamatnya Nabi Musa AS dari Firaun, Nabi SAW bersabda, "Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian." Beliau kemudian memerintahkan umat Islam untuk berpuasa.
Dari sini, Imam As-Suyuti menyimpulkan bahwa fi'lus syukrillah (perbuatan syukur kepada Allah) atas nikmat besar yang terjadi di hari tertentu boleh diulang setiap tahun. Isra Mikraj adalah nikmat terbesar bagi Rasulullah SAW karena beliau bertemu langsung dengan Allah SWT dan menerima perintah salat lima waktu.
Esensi Peringatan: Bukan sekadar Seremonial
Peringatan Isra Mikraj di Indonesia umumnya diisi dengan pembacaan selawat, tilawah Al-Qur'an, silaturahmi, dan ceramah agama. Berdasarkan Fatawa Al-Azhar (Juz 10, hal 160), peringatan momentum bersejarah hukumnya diperbolehkan selama tujuannya (maqsud) adalah sesuatu yang disyariatkan.
"Kesimpulannya, peringatan dengan kesempatan apa pun yang baik tidaklah masalah, selagi tujuannya disyariatkan dan caranya masih dalam batasan agama." (Fatawa Al-Azhar).
Baca juga: Bisakah Melihat Rasulullah secara Terjaga Ini Hadis dan Kisah Ulama
Hikmah Isra Mikraj bagi Umat Islam Modern
Tujuan utama dari peringatan ini bukanlah sekadar berkumpul, melainkan untuk:
- Meningkatkan Kualitas Salat: Mengingat kembali bahwa salat adalah "mikraj"-nya orang mukmin.
- Mengenal Perjuangan Nabi: Memahami betapa beratnya beban yang dipikul Rasulullah SAW sebelum peristiwa tersebut (Tahun Kesedihan).
- Mempererat Ukhuwah: Menjadikan majelis ilmu sebagai sarana memperkuat tali persaudaraan antarumat.
Baca juga: Sering Salah Kaprah, Benarkah Juz Amma Berarti Juz 30 Ini Penjelasan Asal-usulnya
Pertanyaan Sering Diajukan Terkait Isra Mikraj
1. Apakah ada ibadah khusus di malam 27 Rajab?
Secara khusus tidak ada tuntunan salat atau puasa spesifik terkait Isra Mikraj. Namun, mengisi malam tersebut dengan zikir, salat malam, dan syukur secara umum sangat dianjurkan.
2. Mengapa tanggal Isra Mikraj berbeda-beda di buku sejarah?
Karena pada masa itu, pencatatan tanggal belum menjadi prioritas utama dibandingkan dengan esensi pesan dari peristiwa itu sendiri. Namun, mayoritas ulama mu'tabar tetap menghargai tradisi 27 Rajab.
Baca juga: Bacaan Doa Sayyidul Istighfar Arab, Latin, dan Arti
3. Apa inti dari peristiwa Isra Mikraj?
Intinya adalah perintah salat lima waktu dan menunjukkan kekuasaan Allah SWT yang melampaui batas ruang dan waktu.
Peringatan Isra Mikraj 1446 Hijriah tahun ini hendaknya menjadi momentum bagi kita untuk tidak terjebak dalam perdebatan yang memecah belah. Fokuslah pada substansi: Apakah setelah peringatan ini salat kita menjadi lebih baik? Apakah kecintaan kita kepada Nabi SAW bertambah? Itulah keberhasilan sebenarnya dari suatu peringatan.
