PERDEBATAN mengenai kemungkinan berjumpa dan melihat Rasulullah SAW secara langsung dalam keadaan terjaga (yaqzah) sering kali menjadi topik hangat di kalangan umat Islam.
Jika bertemu Nabi melalui mimpi adalah hal yang disepakati kebenarannya, melihat beliau secara terjaga sering kali dianggap sebagai khurafat oleh sebagian kalangan.
Namun, benarkah demikian? Mari kita bedah berdasarkan literatur hadis dan catatan para ulama kredibel.
Artikel ini disadur dari kajian berjudul Bertemu Nabi Secara Sadar, Bisakah? oleh KH Ma'ruf Khozin di Youtube Nabawi TV.
Baca juga: Dalil Bertemu Rasulullah dalam Keadaan Sadar Menurut Hadis dan Pendapat Ulama
Landasan Hadis: Riwayat Imam Bukhari
Titik terang mengenai fenomena ini bermula dari sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ
"Man ra'ani fil manam fasayarani fil yaqzah."
Artinya: "Barang siapa yang bermimpi melihat aku, maka dia akan melihatku dalam keadaan terjaga."
Hadis ini menjadi pegangan kuat bagi banyak ulama. Namun, dalam dinamika pemikiran Islam, terdapat upaya dari kelompok tertentu untuk mengaburkan makna tekstual hadis ini.
Jika suatu hadis tidak bisa didaifkan (karena statusnya yang sahih di Bukhari), langkah yang sering diambil kelompok itu ialah melakukan takwil atau pengaburan makna agar tidak sesuai dengan pemahaman lahiriahnya.
Baca juga: Kumpulan Doa dan Selawat agar Mimpi Bertemu Rasulullah SAW Lengkap
Kisah Abdullah Ibnu Mubarak dalam Siaru A’lamin Nubala
Bukti bahwa melihat Nabi secara terjaga bukan sekadar isapan jempol dapat ditemukan dalam kitab Siaru A’lamin Nubala karya Imam Adz-Dzahabi. Dalam kitab tersebut, dikisahkan sosok ulama salaf terkemuka, Abdullah Ibnu Mubarak.
Ibnu Mubarak dikenal jarang keluar rumah. Ketika ditanya apakah beliau tidak merasa bosan atau stres karena terus berada di dalam rumah, beliau menjawab dengan kalimat yang menggetarkan: "Bagaimana mungkin saya merasa kesepian, sedangkan saya selalu bersama Rasulullah SAW dan para sahabatnya."
Baca juga: Kata-Kata Bijak Ali bin Abi Thalib tentang Cinta, Kehidupan, Terpopuler
Menariknya, Imam Adz-Dzahabi yang dikenal sangat kritis terhadap riwayat-riwayat tertentu, justru tidak memberikan kritik negatif terhadap pernyataan Ibnu Mubarak ini. Hal ini menunjukkan ada penerimaan di kalangan ulama otoritatif mengenai kedekatan spiritual yang memungkinkan perjumpaan tersebut.
Fakta Sejarah: Perjumpaan Sayyidina Utsman bin Affan
Argumen yang sering muncul yaitu, "Jika itu mungkin, mengapa para sahabat tidak melakukannya?" Faktanya, sejarah mencatat hal tersebut terjadi. Salah satu riwayat yang paling masyhur adalah saat Sayyidina Utsman bin Affan berada dalam kepungan (tahanan rumah) di akhir masa jabatannya.
Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, disebutkan bahwa Rasulullah SAW mendatangi Sayyidina Utsman melalui jendela dan bertanya apakah beliau ingin berbuka puasa bersama Nabi. Perjumpaan ini menjadi isyarat wafatnya Sayyidina Utsman tak lama kemudian. Kisah ini mematahkan anggapan bahwa perjumpaan yaqzah tidak pernah dialami oleh generasi sahabat.
Baca juga: Bacaan dan Lirik Selawat Nabi Muhammad SAW
Bagaimana Cara Bertemu Rasulullah SAW?
Syekh Ali Jum’ah memberikan tips bagi mereka yang merindukan perjumpaan dengan Baginda Nabi Muhammad SAW. Menurut beliau, cara yang paling mujarab adalah dengan:
- Membaca Sirah Nabawiyah: Mempelajari sejarah hidup Nabi secara berulang-ulang akan menumbuhkan kecintaan yang mendalam.
- Konsistensi Ibadah: Menjaga track record sebagai ahli ibadah dan pecinta sunnah.
- Memperbanyak Selawat: Sebagai jembatan ruhani antara umat dan nabinya.
Baca juga: Amalan Selawat agar Rasulullah Temui Kita saat Sakaratul Maut
Waspada Terhadap Pengakuan Palsu
Meski perjumpaan yaqzah adalah hal yang mungkin menurut para ulama seperti Imam As-Suyuti, kita tetap harus bersikap adil dan kritis. Dalam ilmu hadis dikenal istilah Jarh wa Ta’dil (kritik dan validasi perawi).
Jika ada seseorang yang jarang salat atau tidak jelas rekam jejak ibadahnya tiba-tiba mengaku bertemu Nabi secara terjaga, pengakuan tersebut patut diragukan. Perjumpaan suci ini umumnya dianugerahkan Allah SWT kepada mereka yang memiliki ketakwaan tinggi dan kecintaan yang tulus pada sejarah serta sunah Nabi.
Baca juga: Asal Usul Imam Mahdi Nasab, Ciri Fisik, dan Kronologi Kemunculannya
Kesimpulan
Melihat Rasulullah SAW secara terjaga bukanlah khurafat, melainkan sebuah kemuliaan yang memiliki landasan hadis sahih dan didukung oleh kesaksian para ulama besar. Fenomena ini merupakan ranah khilafiyah yang harus disikapi dengan ilmu, bukan sekadar pengingkaran tanpa dasar literasi yang kuat.
FAQ: Pertanyaan Sering Diajukan
Ya, hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab sahihnya.
Beberapa di antaranya adalah Imam As-Suyuti, Imam Adz-Dzahabi (melalui nukilan kisah), dan Syekh Ali Jum’ah.
Utamanya adalah kecintaan yang mendalam, sering membaca sejarah Nabi (Sirah), dan istiqamah dalam ibadah.
