Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Abdul Mu'ti Maknai Isra Mikraj untuk Membentuk Karakter Unggul melalui Sabar, Dermawan, dan Salat

Media Indonesia
21/1/2026 05:03
Abdul Mu'ti Maknai Isra Mikraj untuk Membentuk Karakter Unggul melalui Sabar, Dermawan, dan Salat
Mendikdasmen Abdul Mu'ti dalam peringatan bertema Isra Mikraj Momentum Pembentukan Karakter Unggul yang digelar di Masjid At-Thalibin, Kemendikdasmen, Senin (19/1),(MI/HO)

MENTERI Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya meneladani nilai-nilai spiritual dari peristiwa Isra Mikraj untuk membangun karakter generasi bangsa yang unggul. 

Dalam peringatan bertema Isra Mikraj Momentum Pembentukan Karakter Unggul yang digelar di Masjid At-Thalibin, Kemendikdasmen, Senin (19/1), ia menggarisbawahi tiga nilai utama: kesabaran, kedermawanan, dan konsistensi dalam ibadah.

Dalam sambutannya, Mu’ti merekonstruksi sejarah Isra Mikraj sebagai titik balik perjuangan Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-11 kenabian, masa yang dikenal sebagai Amul Huzni atau tahun dukacita. 

Kala itu, Rasulullah baru saja kehilangan dua sosok pelindung utama, yakni pamannya, Abu Thalib, dan istrinya, Siti Khadijah.

“Dua orang yang Nabi cintai itu wafat pada tahun ke-10 setelah kenabian, sehingga dalam sejarah itu disebut sebagai amul huzni atau tahun dukacita,” tutur Mu’ti. 

Di tengah kegundahan tersebut, Isra Mikraj hadir membawa wahyu salat yang menjadi kekuatan spiritual bagi Rasulullah sebelum melaksanakan perintah hijrah ke Yasrib satu tahun kemudian.

Tiga Pesan Utama

Mu’ti merangkum makna Isra Mikraj ke dalam tiga poin esensial bagi pembentukan karakter:

Pertama, kaitan erat antara shalat dan kesabaran. Merujuk pada Al-Baqarah ayat 153, ia menjelaskan bahwa kekuatan spiritual dalam berdakwah diperoleh melalui kolaborasi keduanya. 

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar,” ujarnya mengutip ayat tersebut.

Kedua, salat memupuk kedermawanan. Menurutnya, orang yang taat beribadah cenderung memiliki jiwa sosial yang tinggi. Hal ini selaras dengan perintah dalam Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 31 tentang kewajiban mendirikan shalat dan menafkahkan rezeki. 

“Itulah mengapa kalau ada pengajian, ada di masjid itu setelah salat ada kotak amal yang keliling. Itu saya kira biar segera mengamalkan ayat itu,” kelakar Mu’ti yang disambut tawa jamaah.

Ketiga, salat sebagai kunci kemenangan. Mu’ti menegaskan bahwa kejayaan (falah) hanya akan diraih oleh orang beriman yang khusyuk dalam salatnya.

Investasi Generasi Masa Depan

Menutup tausiahnya, Mendikdasmen mengingatkan bahwa pendidikan nasional bertujuan melahirkan generasi beriman dan bertakwa. Ia berpesan kepada para pendidik dan orangtua untuk tekun dan sabar dalam membimbing anak-anak menjadi pribadi yang taat beribadah. 

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya,” ucapnya menyitir surat Thaha ayat 132.

Sebagai bentuk nyata dari nilai kedermawanan yang disampaikan, Abdul Mu’ti didampingi oleh Wamendikdasmen Atip Latipulhayat dan Fajar Riza Ul Haq turut menyerahkan beasiswa semester genap tahun pelajaran 2025-2026 kepada 30 siswa putra-putri karyawan Kemendikdasmen. (RO/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya