Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Tiga Makna Isra Mi’raj Menurut Menteri Abdul Mu’ti

Syarief Oebaidillah
22/1/2026 21:41
Tiga Makna Isra Mi’raj Menurut Menteri Abdul Mu’ti
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Kesabaran, kedermawanan dan  konsisten dalam melaksanakan salat merupakan nilai-nilai yang wajib diteladani dari Isra Mikraj  yang akan mengantarkan kepada kemenangan. 

Isra Mikraj merupakan peristiwa  sangat penting dalam perjalanan sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan risalah Islam. Rasulullah SAW mendapatkan kekuatan spiritual berdakwah setelah diperjalankan Allah SWT melalui  Isra Mikraj dengan  membawa wahyu melaksanakan ibadah salat. 

Pesan itu disampaikan  Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah ( Mendikdasmen)  Abdul Mu’ti di hadapan jemaah  Mesjid At-Thalibin, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ( Kemendikdasmen)  Jakarta,saat memperingati Isra Mikraj bertema “Isra Mikraj Momentum Pembentukan Karakter Unggul”, dengan penceramah Ustadz Das’ad Latif, Senin (19/1) Abdul Mu’ti dalam sambutan singkatnya menyampaikan tiga hal memaknai Isra Mikraj. 

“Saya tidak akan memberikan tausiah, singkat saja karena yang inti nanti Ustadz Das'ad Latif yang akan memberikan uraian hikmah peringatan Isra Mikraj” ujarnya.

“Ustadz Dr. Das’ad Latif yang banyak sekali gelar master di belakangnya itu berarti menunjukkan memang seorang yang rajin belajar dan lulus belajarnya ," selorohnya yang disambut  tawa jemaah.

Tiga hal yang disampaikan Mu’ti tentang Isra Mikraj bahwa  Isra Mikraj sebagai sebuah peristiwa yang sangat penting dalam sejarah perjuangan Nabi. Isra Mikraj berlangsung ketika Nabi dalam keadaan sedang gundah gulana. Beberapa ahli menyebutkan Rasul melaksanakan Isra Mikraj pada tahun ke-11 setelah kenabian, yang pada tahun sebelumnya  mengalami musibah sangat berat yaitu ditinggal wafat dua orang yang dicintai dan sangat berperan mendukung dakwah Rasul. 

Dikisahkan oleh Mu’ti, Rasul ditinggal Abu Thalib pamannya, seorang yang memiliki jasa sangat besar dalam membela dan melindunginya. Berbagai riwayat menyebutkan Abu Thalib waktu itu belum beragama Islam, bahkan ada yang menyebut sampai akhir hayatnya juga tidak memeluk Islam.

Kemudian setelahnya, ditinggal oleh istri tercinta satu-satunya pada waktu itu, yaitu Siti Khadijah. yang menjadi istri dalam keadaan suka dan duka, mendukung perjuangan dakwah Rasul dengan segenap jiwa dan  harta yang dimilikinya serta berbagai bentuk perjuangan yang membuat Nabi Muhammad merasa kuat dalam berdakwah. 

“Dua orang yang Nabi cintai  itu wafat pada tahun ke-10 setelah kenabian, sehingga dalam sejarah itu disebut sebagai amul huzni atau tahun dukacita”, Mu’ti berkisah.

Satu tahun setelah Isra Mikraj beliau diperintahkan untuk hijrah dari Makkah ke Yasrib, lanjut Mu’ti. Meninggalkan kampung halaman demi melanjutkan perjuangan, bukan peristiwa yang mudah dilakukan. Nabi diancam oleh orang-orang kafir yang berusaha menghalangi supaya tidak hijrah. Tapi Nabi  kukuh melakukannya. 

Kekuatan Spiritual

Karena itu lanjut Mu’ti, dengan merekonstruksi sejarah sebagai bagian dari memahami makna Isra Mikraj, segera didapat satu pemahaman betapa Rasulullah itu mendapatkan kekuatan spiritual dalam berdakwah setelah Isra Mikraj yang di dalamnya mendapatkan wahyu untuk melaksanakan salat.

Mu’ti menunjukkan kuatnya kaitan salat dan kesabaran seperti dalam p Al Baqarah 153. “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar”, 

Salat juga  banyak dikaitkan dengan zakat dan infak. “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: Hendaklah mereka mendirikan salat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan”.

Karena itu ,salat banyak dikaitkan dengan kedermawanan. Sehingga orang yang rajin salat biasanya banyak berderma. 

“Itulah mengapa kalau ada pengajian, ada di masjid itu setelah salat ada kotak amal yang keliling. Itu saya kira biar segera mengamalkan ayat itu”, ucap Mu’ti yang juga Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ketiga, adalah kaitan saalat dengan kemenangan. “Saya hanya menyampaikan tiga hal itu secara ringkas dan tidak lucu karena nanti biar yang lucu Ustadz Das’ad Latif”, seloroh Mu’ti yang diikuti gelak jamaah. 

Jadi sikap sabar, dermawan, konsisten dalam melaksanakan salat, itulah nilai-nilai yang wajib diteladani dari Isra Mikraj Nabi yang mengantarkan kepada kejayaan. Itulah makna dan spirit Isra Mikraj.

Didampingi Wamendikdasmen Atip Latipulhayat dan Fajar Riza Ul Haq dalam peringatan Isra Mikraj ini ,Abdul Mu’ti menyerahkan beasiswa semester genap tahun pelajaran 2025-2026 kepada 30 siswa putra-putri karyawan Kemendikdasmen. 

Mengakhiri sambutannya, Mu’ti berpesan untuk melahirkan generasi yang unggul perlu tekun, sabar, mendidik anak-anak menjadi generasi yang taat melaksanakan salat. “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya”. (Thaha: 132)

“Dalam  bahasa lain generasi yang beriman dan bertakwa sebagai salah satu dari tujuan pendidikan nasional”, pungkas Mu’ti.

Momentum Penguatan Keteladanan

Dalam tausiyahnya, Ustadz Das’ad Latif menekankan bahwa peringatan Isra Mikraj mengajarkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah SWT dan hubungan dengan sesama manusia. Ia menegaskan bahwa pendidikan sejati tidak hanya berorientasi pada kecerdasan akademik. “Pendidikan itu bukan hanya mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi menjaga akhlak. Puncak dari semua ilmu dalam Islam adalah adab,” ujarnya.

“Isra Mikraj mengajarkan hablum minallah dan hablum minannas. Inilah fondasi pendidikan karakter, agar anak-anak didik kita tidak hanya cerdas secara akademik, juga memiliki akhlak, adab, dan kepedulian sosial,” tegasnya.

Ia memaparkan dalam peristiwa Isra Mikraj, Allah SWT memperlihatkan berbagai karakter manusia sebagai pelajaran moral. “Allah memperlihatkan karakter dermawan dan jujur, sekaligus memperingatkan bahaya sifat kebakhilan serta perilaku menyebarkan hoaks dan kebencian sebagai perusak kehidupan bermasyarakat,” ungkapnya.

Ustadz Das’ad Latif juga mengajak insan pendidikan untuk menjadikan peringatan Isra Mikraj sebagai momentum penguatan keteladanan dalam mendidik generasi muda. Lebih lanjut, proses pembentukan karakter peserta didik akan lebih efektif melalui contoh nyata yang ditunjukkan oleh orang dewasa dibandingkan hanya melalui penyampaian nasihat. Oleh karena itu, peran guru dan orang tua sebagai teladan dinilai sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai karakter di lingkungan sekolah maupun keluarga.(H-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya