Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Ujian Keimanan setelah Isra Mikraj, Belajar dari Abu Bakar

Wisnu Arto Subari
16/1/2026 09:05
Ujian Keimanan setelah Isra Mikraj, Belajar dari Abu Bakar
Ilustrasi.(Freepik)

PERISTIWA Isra Mikraj adalah salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam. Namun, bagi penduduk Mekkah saat itu, berita ini menjadi kegemparan yang luar biasa.

Bayangkan suatu perjalanan yang biasanya memakan waktu satu bulan dengan unta diklaim telah ditempuh hanya dalam waktu kurang dari satu malam. Secara empiris dan logika zaman itu, hal ini mustahil terjadi.

Isra Mikraj sebagai Instrumen At-Tamhish (Penyaringan)

Dalam literatur sejarah Islam, peristiwa Isra Mikraj sering disebut sebagai At-Tamhish atau proses pembersihan dan penyaringan. Allah SWT sengaja menghadirkan mukjizat yang melampaui akal manusia untuk menguji siapa di antara pengikut Nabi Muhammad yang memiliki iman yang kokoh dan siapa yang imannya masih rapuh.

Setelah Nabi Muhammad SAW menyampaikan berita perjalanannya, reaksi masyarakat terbelah menjadi tiga kelompok:

  • Kaum Kafir Quraisy: Mereka semakin keras mengejek dan menganggap Nabi Muhammad telah gila atau melakukan sihir.
  • Muslim yang Lemah Imannya: Sebagian orang yang baru masuk Islam merasa ragu karena tidak mampu mencerna peristiwa tersebut dengan logika, bahkan beberapa di antaranya murtad.
  • Muslim yang Kokoh Imannya: Mereka yang meyakini bahwa kekuasaan Allah melampaui segala hukum alam dan logika manusia.

Keteguhan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Di tengah badai keraguan yang melanda Mekkah, Abu Jahal mendatangi Abu Bakar dengan nada mengejek, berharap sahabat terdekat Nabi ini akan ikut meragukan kebenaran Isra Mikraj. Abu Jahal bertanya, "Apakah engkau percaya temanmu itu pergi ke Baitul Maqdis dan kembali dalam satu malam?"

Jawaban Abu Bakar menjadi tonggak sejarah keimanan yang luar biasa. Beliau berkata:

"Jika ia berkata demikian, maka ia benar. Sungguh, aku membenarkannya dalam hal yang lebih jauh dari itu; aku membenarkannya tentang berita langit (wahyu) yang datang kepadanya di waktu pagi atau sore."

Pernyataan inilah yang membuat Abu Bakar mendapatkan gelar Ash-Shiddiq (yang membenarkan). Abu Bakar tidak menggunakan logika terbatas untuk menilai kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas. Beliau menggunakan landasan kepercayaan pada integritas personal Rasulullah dan kemahakuasaan Allah.

Mengapa Logika Sering Kali Terbentur dengan Keimanan?

Gap antara logika dan iman dalam peristiwa Isra Mikraj memberikan pelajaran berharga. Logika manusia berbasis pada pengalaman empiris dan hukum sebab-akibat yang terbatas. Sementara itu, iman bekerja pada ranah keyakinan terhadap Sang Pencipta hukum alam itu sendiri.

Ujian setelah Isra Mikraj mengajarkan bahwa dalam beragama, ada hal-hal yang bisa dipahami dengan akal (ma'qul) dan ada hal-hal yang melampaui jangkauan akal (fauqa al-'aql). Menolak sesuatu hanya karena akal belum mampu mencapainya adalah sebuah kesombongan intelektual.

Hikmah bagi Umat Muslim di Era Modern

Di era digital saat ini, ujian keimanan sering datang dalam bentuk skeptisisme terhadap ajaran agama yang dianggap tidak relevan dengan sains modern. Belajar dari kisah Abu Bakar, kita diajak untuk:

  1. Menyadari keterbatasan akal manusia dalam memahami rahasia ketuhanan.
  2. Membangun kepercayaan berdasarkan rekam jejak kebenaran (integritas) ajaran Islam.
  3. Memahami bahwa setiap ujian atau peristiwa besar dalam hidup adalah "penyaring" untuk menaikkan derajat keimanan kita.

Meneladani Keimanan Abu Bakar

  • Selalu merujuk pada Al-Qur'an dan Sunnah saat menghadapi keraguan.
  • Melatih diri untuk tidak terburu-buru menghakimi sesuatu yang belum dipahami secara logis.
  • Memperkuat literasi sejarah Islam (Sirah Nabawiyah) untuk memahami konteks perjuangan Nabi.
  • Menjaga lingkungan pergaulan agar tetap berada di lingkungan yang mendukung penguatan iman.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apa arti gelar Ash-Shiddiq yang diberikan kepada Abu Bakar?
Ash-Shiddiq berarti Yang Sangat Membenarkan. Gelar ini diberikan karena beliau adalah orang pertama yang tanpa ragu membenarkan peristiwa Isra Mikraj.
 
2. Mengapa ada sebagian umat Islam yang murtad setelah Isra Mikraj?
Karena mereka masih menggunakan logika manusia yang terbatas untuk mengukur mukjizat Allah yang bersifat transenden dan luar biasa.
 
3. Apa perbedaan Isra dan Mikraj?
Isra adalah perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sedangkan Mikraj adalah perjalanan dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha.
 
4. Di mana letak ujian keimanan dalam peristiwa ini?
Ujiannya terletak pada penerimaan terhadap berita yang tidak masuk akal secara fisik namun nyata secara spiritual dan kekuasaan Allah.
 
5. Bagaimana cara menghadapi keraguan terhadap mukjizat agama?
Dengan memperdalam ilmu tauhid dan menyadari bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta tidak terikat oleh hukum alam yang Dia ciptakan sendiri.
 
6. Siapa tokoh utama yang mengejek Nabi saat itu?
Tokoh utamanya adalah Abu Jahal dan para pemuka kafir Quraisy lainnya.
 
7. Apa tujuan utama Allah memperjalankan Nabi dalam Isra Mikraj?
Untuk memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya dan menjemput perintah salat lima waktu.
 
8. Apakah Isra Mikraj dialami Nabi dengan ruh saja atau dengan jasad?
Mayoritas ulama (Ahlus Sunnah wal Jama'ah) bersepakat bahwa Isra Mikraj dialami Nabi Muhammad SAW dengan jasad dan ruh.
 
9. Apa hubungan antara Isra Mikraj dan ketahanan mental umat?
Peristiwa ini melatih umat Islam untuk memiliki loyalitas tinggi kepada kepemimpinan Nabi Muhammad meski di bawah tekanan sosial.
 
10. Apa pelajaran terbesar dari Abu Bakar dalam peristiwa ini?
Pelajaran tentang kepercayaan mutlak (trust) kepada kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah tanpa syarat.

 

Kesimpulan

Ujian keimanan setelah peristiwa Isra Mikraj adalah pengingat bahwa iman bukan sekadar pengakuan di lisan, melainkan keyakinan yang menghunjam di hati dan dibuktikan dengan keteguhan sikap. Abu Bakar Ash-Shiddiq telah memberikan teladan bahwa saat logika dunia menemui jalan buntu, iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah cahaya yang akan menuntun kita pada kebenaran sejati.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik