Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Tafsir Ayat Isra Mikraj dari Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Wahbah Zuhaili

Wisnu Arto Subari
15/1/2026 19:19
Tafsir Ayat Isra Mikraj dari Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Wahbah Zuhaili
Ilustrasi.(Freepik)

PERISTIWA Isra Mikraj diabadikan oleh Allah SWT dalam dua surat utama, yakni Surah Al-Isra ayat 1 untuk peristiwa Isra (perjalanan bumi) dan Surah An-Najm ayat 13-18 untuk peristiwa Mikraj (perjalanan langit). Ayat pertama Surah Al-Isra berbunyi:

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami..." (QS. Al-Isra: 1)

Meskipun ayatnya sama, metodologi tafsir yang digunakan oleh Imam Ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan Wahbah Zuhaili memberikan penekanan yang berbeda-beda. Berikut pemaparan mereka lebih rinci.

1. Tafsir Imam Ath-Thabari: Samudra Riwayat dan Autentisitas Sejarah

Imam Ath-Thabari (wafat 310 H) dalam kitabnya Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an dikenal sebagai bapak para mufasir yang menggunakan metode Tafsir bil Ma'tsur (berdasarkan riwayat). Dalam menafsirkan ayat Isra Mikraj, Ath-Thabari sangat teliti dalam menyajikan sanad riwayat.

Poin utama dalam tafsir Ath-Thabari adalah penegasan bahwa perjalanan Isra Mikraj dilakukan dengan ruh dan jasad. Beliau berargumen bahwa kata bi 'abdihi (hamba-Nya) dalam bahasa Arab merujuk pada kesatuan ruh dan tubuh. Jika hanya ruh, Allah SWT akan menggunakan kata bi ruhihi.

Ath-Thabari juga membedah secara detail makna barakna haulahu (Kami berkahi sekelilingnya) pada Masjidil Aqsa yang merujuk pada kesuburan tanah Syam dan banyak nabi yang diutus di wilayah tersebut. Beliau mengumpulkan berbagai riwayat mengenai pertemuan Nabi dengan para nabi terdahulu untuk menunjukkan kesinambungan risalah tauhid.

Baca juga : Pendapat yang Menguatkan Isra Mikraj pada Malam 27 Rajab

2. Tafsir Ibnu Katsir: Kekuatan Hadis dan Pemurnian Akidah

Ibnu Katsir (wafat 774 H) melalui Tafsir al-Qur’an al-Azhim mengambil pendekatan yang lebih sistematis dalam memverifikasi hadis. Beliau sering kali mengkritik riwayat-riwayat yang dianggap israiliyat atau lemah yang tersebar di masyarakat mengenai detail perjalanan Mikraj.

Bagi Ibnu Katsir, Isra Mikraj adalah ujian keimanan. Beliau menekankan pada bagian linuriyahu min ayatina (agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tanda-tanda tersebut termasuk melihat Jibril dalam wujud aslinya, melihat surga, neraka, dan puncaknya ialah menerima perintah shalat lima waktu.

Karakteristik unik Ibnu Katsir ialah beliau menghubungkan ayat pertama Surah Al-Isra dengan hadis-hadis shahih dari Bukhari dan Muslim secara ekstensif, sehingga pembaca mendapatkan gambaran visual yang kuat tetapi tetap terjaga validitasnya.

Baca juga : Benarkah Isra Mikraj Terjadi pada 27 Rajab Fakta yang Jarang Diketahui

3. Tafsir Wahbah Zuhaili: Pendekatan Kontemporer dan Hikmah Hukum

Syekh Wahbah Zuhaili (wafat 2015 M) dalam tafsir kontemporernya, Al-Tafsir al-Munir, menyajikan analisis yang lebih relevan dengan problematika umat masa kini. Beliau tidak hanya fokus pada riwayat, tetapi juga pada asrarul Qur'an (rahasia-rahasia Al-Qur'an) dan implikasi hukumnya.

Wahbah Zuhaili menekankan alasan perjalanan ini dimulai dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Beliau menjelaskan bahwa ini adalah isyarat tentang perpindahan kepemimpinan spiritual dunia dari Bani Israil ke umat Muhammad SAW. Beliau juga mengaitkan keberkahan Masjidil Aqsa dengan kewajiban umat Islam untuk menjaga dan memuliakan tanah suci tersebut di era modern.

Dalam hal Mikraj, Wahbah Zuhaili menyoroti hikmah di balik perintah shalat. Beliau menyebut shalat sebagai mikraj-nya orang mukmin. Setiap Muslim memiliki kesempatan untuk 'bertemu' dengan Allah secara spiritual lima kali sehari.

Baca juga: Kronologi Isra Mikraj Nabi Muhammad dari Baitullah sampai Sidratul Muntaha

Tabel Perbandingan Metodologi Tafsir

Aspek Perbandingan Imam Ath-Thabari Ibnu Katsir Wahbah Zuhaili
Metode Utama Tafsir bil Ma'tsur (Riwayat Sanad) Analisis Hadis Shahih & Atsar Tafsir Kontemporer & Analisis Hukum
Fokus Bahasan Autentisitas kejadian fisik Pemurnian riwayat & tanda kebesaran Hikmah sosial, politik, & ibadah
Status Perjalanan Jasad dan Ruh (Mutlak) Jasad dan Ruh (Didukung Hadis) Jasad dan Ruh (Analisis Bahasa)

Pertanyaan Seputar Tafsir Isra Mikraj

Mengapa Allah menggunakan kata Subhan di awal ayat?

Ketiga mufasir sepakat bahwa kata Subhan (Maha Suci) digunakan untuk menunjukkan bahwa peristiwa yang akan diceritakan adalah sesuatu yang luar biasa, di luar nalar manusia, dan hanya bisa terjadi karena kekuasaan Allah yang mutlak.

Baca juga: Kisah Isra Mikraj dalam Hadis Sahih Riwayat Bukhari

Apa perbedaan tafsir Sidratul Muntaha menurut ketiga ulama ini?

Ath-Thabari fokus pada deskripsi fisik pohon tersebut berdasarkan riwayat. Ibnu Katsir menekankan bahwa itu adalah batas akhir pengetahuan makhluk (malaikat dan nabi). Wahbah Zuhaili memaknainya sebagai simbol puncak pencapaian spiritual manusia.

Mengapa Isra Mikraj terjadi di malam hari?

Para mufasir menjelaskan bahwa malam hari adalah waktu yang paling sunyi dan khusyuk untuk beribadah (khalwat). Selain itu, malam hari juga menjadi ujian bagi kaum kafir Quraisy apakah mereka akan mempercayai perjalanan sejauh itu yang ditempuh dalam waktu singkat.

Baca juga: Kisah Isra Mikraj Nabi Muhammad

Kesimpulan dan Hikmah

Membaca tafsir Ath-Thabari memberikan kita fondasi riwayat yang kuat. Ibnu Katsir memberikan kepastian akan keshahihan informasi. Sementara Wahbah Zuhaili memberikan panduan bagaimana mengamalkan hikmah Isra Mikraj dalam kehidupan modern.

Ketiganya berujung pada satu kesimpulan bahwa Isra Mikraj adalah bukti nyata kasih sayang Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan pengingat bagi kita akan pentingnya menjaga shalat sebagai sarana komunikasi vertikal dengan Sang Khalik.

Baca juga: Puasa Rajab Berdasarkan Hadis-Hadis Palsu, Benarkah

Adab Mempelajari Tafsir Isra Mikraj

  • Gunakan sumber kitab tafsir yang mu'tabar (diakui).
  • Jangan hanya mengandalkan satu riwayat tanpa membandingkan keshahihannya.
  • Fokus pada hikmah perubahan karakter (terutama kedisiplinan shalat).
  • Konsultasikan dengan guru atau ulama jika menemukan riwayat yang tampak kontradiktif.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik