Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM kalender Hijriah, malam 27 Rajab bukan sekadar pergantian tanggal biasa. Bagi miliaran umat Muslim di dunia, malam ini adalah monumen spiritual yang menandai salah satu mukjizat paling spektakuler dalam sejarah kenabian: Isra Mikraj. Peristiwa yang terjadi pada periode Mekkah ini menjadi titik balik krusial yang mengubah arah peradaban Islam selamanya.
Namun, muncul pertanyaan mendasar: mengapa malam 27 Rajab begitu diistimewakan? Apakah hanya karena perjalanan fisik Nabi, atau ada makna lebih dalam yang melampaui logika ruang dan waktu? Mari kita bedah alasan-alasan fundamental di baliknya.
Alasan utama keistimewaan malam ini adalah terjadinya dua perjalanan agung sekaligus. Isra adalah perjalanan horizontal dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina), sedangkan Mikraj adalah perjalanan vertikal dari bumi menuju langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha.
Perjalanan yang menempuh jarak ribuan kilometer dan menembus dimensi langit ini dilakukan hanya dalam waktu satu malam. Secara ilmiah dan logika manusia pada masa itu, hal ini mustahil. Oleh karena itu, malam 27 Rajab menjadi simbol pembuktian kekuasaan mutlak Allah SWT atas hukum alam dan fisika.
Berbeda dengan ibadah lain seperti zakat atau puasa yang perintahnya turun melalui wahyu malaikat Jibril di bumi, perintah shalat lima waktu diberikan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW di Sidratul Muntaha. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya shalat dalam struktur agama Islam.
Malam 27 Rajab diistimewakan karena pada malam inilah "tali penghubung" permanen antara hamba dan Penciptanya resmi ditetapkan. Shalat adalah "Mi'raj"-nya orang beriman, sebuah sarana bagi setiap Muslim untuk berkomunikasi langsung dengan Allah setiap hari.
Secara historis, Isra Mi'raj terjadi pada tahun yang disebut Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Saat itu, Rasulullah SAW baru saja kehilangan dua pendukung utamanya: istrinya, Khadijah binti Khuwailid, dan pamannya, Abu Thalib. Selain itu, tekanan dari kaum kafir Quraisy sedang berada di puncak tertinggi.
Allah SWT mengistimewakan malam 27 Rajab sebagai "hadiah spiritual" untuk menghibur hati Nabi. Perjalanan ini membuktikan bahwa meski penduduk bumi menolak dan menyakiti beliau, penduduk langit menyambutnya dengan kemuliaan tertinggi. Ini adalah pesan bagi umat Islam bahwa setelah kesulitan yang hebat, selalu ada kemuliaan yang menanti.
Malam 27 Rajab juga menjadi filter bagi kualitas iman para sahabat Nabi saat itu. Ketika kabar perjalanan ini tersiar, banyak orang yang ragu, namun Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung mempercayainya tanpa keraguan sedikit pun. Hingga kini, memperingati malam 27 Rajab adalah cara umat Islam merawat benih keyakinan terhadap hal ghaib yang menjadi rukun iman.
Di era digital yang serba cepat, malam 27 Rajab mengajarkan kita tentang pentingnya "berhenti sejenak" dari hiruk-pikuk dunia (Isra) untuk melakukan perjalanan batin (Mikraj). Keistimewaan malam ini terletak pada pengingat bahwa manusia bukan sekadar makhluk fisik, melainkan makhluk spiritual yang butuh terhubung dengan dimensi yang lebih tinggi agar jiwanya tetap tenang. (H-4)
Disclaimer : Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.
Siapa saja yang membacanya pada tanggal 27 Rajab, kemudian menyebutkan hajatnya kepada Allah, maka Allah akan mengabulkan segala hajatnya
Pada tahun ini, 27 Rajab bertepatan dengan Minggu malam 26 Januari 2025. Di malam ini, umat Islam hendaknya berdoa memohon semua hajat dan keinginannya agar terkabulkan.
ISRA Mikraj ialah salah satu peristiwa penting baik dalam kehidupan pribadi Nabi Muhammad SAW maupun perjuangan umat Islam
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved