Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH Anda membayangkan rahasia apa yang dibisikkan Rasulullah SAW kepada Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha saat menanti malam yang lebih agung dari seribu bulan alias Lailatul Qadar? Di tengah riuhnya persiapan sepuluh malam terakhir Ramadan, sering kali kita terjebak pada fenomena alam dan melupakan substansi utama yaitu dekrit pengampunan yang presisi.
Melalui literatur klasik Bulughul Maram, kita diajak membedah strategi mengejar Lailatul Qadar bukan sekadar dengan fisik yang terjaga, melainkan dengan manajemen kerinduan dan pemahaman mendalam atas instruksi Nabawi yang telah diwariskan ribuan tahun lalu. Berikut penjelasan lebih jauh yang dikutip dari akun dkislamiyah di Instagram.
Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha, sosok yang paling dekat dengan sumber wahyu, menunjukkan kelasnya sebagai Ibu para Pendidik. Beliau tidak menebak amalan dengan spekulasi, melainkan melakukan thalab (pencarian) ilmu langsung kepada Rasulullah SAW.
Beliau bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan di dalamnya?"
Ini merupakan metodologi santri sejati. Beliau mengajarkan bahwa menghadapi momentum besar memerlukan target yang jelas dan persiapan yang presisi. Tidak sekadar menunggu malam itu tiba, melainkan membekali diri dengan 'senjata' doa yang paling disukai Allah SWT.
Jawaban Rasulullah SAW mungkin mematahkan ekspektasi logis manusia yang mengira akan diberikan instruksi ritual yang panjang dan rumit. Alih-alih meresepkan wirid ribuan kali, beliau menginstruksikan satu formula komprehensif yang singkat tetapi menembus langit:
قَالَ: قُولِي: اللَّهُمَ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
"Beliau bersabda: Ucapkanlah: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai kemaafan, maka maafkanlah aku."
Secara morfologi (ilmu Shorof), diksi 'Afuww berakar dari sighat mubalaghah (bentuk superlatif/sangat). Para ulama membedakan makna ini dari Maghfirah (ampunan biasa):
Baca juga: Perbedaan Lailatul Miraj dan Lailatul Qadr Sejarah, Makna, dan Keutamaannya
Kajian mendalam mengenai teks fundamental ini dapat kita rujuk dan verifikasi langsung pada Kitab Bulughul Maram karya Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H). Kitab ini merupakan rujukan utama dalam fiqh mazhab Syafi'i yang disusun secara tematis.
Al-Hafizh Ibnu Hajar membatasi takhrij hadits dalam kitab ini merujuk pada periwayatan tujuh Imam ahli hadits utama yaitu Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, at-Turmudzi, dan an-Nasa'i. Membaca dari cetakan yang mu'tamad (terpercaya) adalah wujud adab kita dalam menjaga transmisi keilmuan Islam.
Baca juga: Tiga Tingkatan Menghidupkan Lailatul Qadar, Apa saja Amalan Mereka
Waktu sepuluh malam terakhir terus bergulir, dan kesempatan ini terlalu mahal untuk dilewatkan hanya dengan euforia fisik tanpa isi ruhani. Menargetkan Lailatul Qadar adalah tentang memastikan lisan kita menggemakan apa yang diajarkan lisan suci Nabi SAW dengan pemahaman dan kelembutan hati.
Mari siapkan doa ini di dalam dada kita. Semoga Allah SWT mengizinkan kita mencecap manisnya pengampunan-Nya di malam mulia tersebut. Aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin.
Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti
Lailatul Qadar: Malam penuh berkah. Raih kebahagiaan, ampunan, dan kedamaian abadi. Temukan makna sejati Ramadan.
Jangan lewatkan tiga doa ini di setiap malam di bulan Ramadan. Berikut tiga doa yang akan kita panjatkan setiap malam di bulan Ramadan.
Berikut doa khusus lailatul qadar yang berharap pengampunan Allah atas segala dosa. Namun, doa ini dapat pula diamalkan sepanjang Ramadan dan di luar Ramadan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved