Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PASAR keuangan Indonesia sedang mengirimkan sinyal bahaya. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hebat sejak pergantian tahun. Pada perdagangan pasar spot Selasa (13/1), rupiah bahkan sempat menyentuh Rp16.878 per dolar AS, yang merupakan level terlemah sepanjang masa. Situasi ini, tidak bisa tidak, harus dibaca sebagai alarm merah bagi ketahanan ekonomi nasional.
Betul bahwa tekanan terhadap rupiah tidak datang dari ruang hampa. Faktor eksternal, mulai dari kebijakan suku bunga The Fed yang tetap tinggi demi menjinakkan inflasi di 'Negeri Paman Sam' hingga ketegangan geopolitik global yang kian memanas, menjadi pukulan keras bagi mata uang banyak negara berkembang. Namun, bersembunyi di balik apologi faktor eksternal adalah sikap yang berbahaya.
Sejarah mengajarkan kita bahwa krisis sering kali bermula dari pengabaian terhadap gejala-gejala kecil yang terakumulasi. Angka Rp16.878 adalah manifestasi dari keraguan pasar terhadap fundamen ekonomi kita di tengah transisi dan ambisi pertumbuhan yang dipatok tinggi. Jika tidak segera dimitigasi, risiko terburuk seperti jebolnya level psikologis Rp17.000 per dolar AS, kiranya tinggal menunggu waktu.
Ketika rupiah terus terpuruk, dampaknya yang bersifat sistemis akan langsung menghantam lambung rakyat. Saat rupiah tak berdaya, harga bahan baku industri, pangan impor, hingga biaya energi akan meroket. Jika ini terjadi, daya beli masyarakat yang sedang bersiap merangkak pulih bakal kembali terkapar.
Kita mendesak otoritas moneter dan fiskal untuk berhenti bersikap reaktif. Bank Indonesia boleh saja melakukan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas jangka pendek. Namun, intervensi yang berkepanjangan jelas akan menguras cadangan devisa. Persoalan jangka pendek mungkin tertangani, tapi di saat yang sama bisa menyulut masalah jangka panjang.
Karena itu, BI perlu lebih kreatif dalam mengoptimalkan instrumen moneter agar likuiditas valuta asing di dalam negeri benar-benar terjaga. Di sisi lain, pemerintah secara paralel juga mesti bergerak dengan menyinkronkan kebijakan fiskal.
Narasi optimisme tentang pertumbuhan ekonomi harus dibarengi dengan disiplin anggaran yang ketat. Apalagi, di akhir tahun kemarin, defisit APBN 2025 sudah berada di angka yang mengkhawatirkan, yakni 2,92% atau senilai Rp695,1 triliun. Pasar tentu sedang mengamati setiap gerak-gerik belanja negara. Jika defisit anggaran terus melebar, kepercayaan investor boleh jadi akan luntur dan rupiah semakin ditinggalkan.
Sejumlah ahli ekonomi juga sudah mendesak agar pemerintah bertindak tegas dalam memastikan devisa hasil ekspor (DHE) tidak sekadar mampir di perbankan nasional. Harus ada keberanian politik untuk memastikan kekayaan alam yang dikeruk dari Bumi Pertiwi kembali dalam bentuk valas yang memperkuat otot rupiah, bukan justru diparkir di Singapura atau pusat keuangan luar negeri lain.
Editorial ini ingin mengingatkan, badai yang sudah menyerbu saat ini jangan ditunggu berubah menjadi topan. Langkah mitigasi, upaya antisipasi yang tepat harus segera dilakukan. Berlama-lama dalam mengambil kebijakan hanya akan memupuk bibit-bibit badai tadi menjadi topan yang kian sulit dikendalikan.
Gejolak kurs saat ini adalah ujian nyali sekaligus ujian kompetensi bagi tim ekonomi pemerintah. Publik butuh kepastian, bukan sekadar kalimat-kalimat penenang bahwa 'ekonomi masih terkendali' atau 'pelemahan rupiah masih bisa diterima investor luar'. Publik tidak butuh kekuatan kata-kata. Yang mereka butuhkan ialah kekuatan rupiah yang pada ujungnya nanti mampu mengungkit pula kekuatan ekonomi rakyat.
Kendali atas badai kurs itu harus ditunjukkan dengan kebijakan yang konkret, terukur, dan berani. Sebelum rupiah benar-benar kehilangan harganya di hadapan dolar, pemerintah dan BI harus segera bertindak sebagai benteng pertahanan terakhir. Jangan biarkan rakyat menanggung beban akibat keterlambatan antisipasi.
SECERCAH harapan tentang akan hadirnya undang-undang tentang perampasan aset kembali datang.
TATANAN dunia yang selama puluhan tahun menjadi fondasi hubungan antarnegara kini berada dalam ujian terberat sejak berakhirnya Perang Dunia II.
POINT of no return, alias maju terus meski tantangan dan risiko yang akan dihadapi sangat besar.
KEBEBASAN berekspresi yang dilindungi oleh konstitusi menghadapi tantangan serius akhir-akhir ini.
BELUM dua pekan menjalani 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah dua kali unjuk taring.
KABAR yang dinanti-nanti dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang penetapan tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan 2024 akhirnya datang juga.
HAKIM karier dan hakim ad hoc secara esensial memiliki beban dan tanggung jawab yang sama.
Meski berdalih memberikan rasa aman kepada jaksa, kehadiran tiga personel TNI itu justru membawa vibes intimidasi bagi masyarakat sipil di ruang sidang tersebut.
SERANGAN Amerika Serikat (AS) ke Venezuela bukan sekadar eskalasi konflik bilateral atau episode baru dari drama panjang Amerika Latin.
DI awal tahun ini, komitmen wakil rakyat dalam memperjuangkan pemberantasan korupsi sejatinya dapat diukur dengan satu hal konkret
DALAM sebuah negara yang mengeklaim dirinya demokratis, perbedaan pendapat sesungguhnya merupakan keniscayaan.
REKONSTRUKSI dan rehabilitasi pascabencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara kembali menempatkan negara pada ujian penting.
MESKI baru memasuki hari kedua 2026, mesin negara sudah dipacu untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 5,4%.
PERGANTIAN tahun telah menempatkan 2025 di masa lalu. Dalam lembaran baru, 2026 membentangkan jalan masa depan bangsa yang penuh simpangan dan tantangan.
PENEGAKAN hukum dan pemenuhan keadilan merupakan syarat utama dalam negara demokrasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved