Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Kembalikan Tatanan Dunia yang Rapuh

15/1/2026 05:00

TATANAN dunia yang selama puluhan tahun menjadi fondasi hubungan antarnegara kini berada dalam ujian terberat sejak berakhirnya Perang Dunia II. Sistem yang dibangun di atas hukum internasional, multilateralisme, dan prinsip kolektif untuk menjaga perdamaian global semakin menunjukkan kerapuhannya.

Peringatan itu disampaikan Menteri Luar Negeri RI Sugiono dalam taklimat pers awal 2026. Ia menegaskan bahwa dunia tengah menghadapi kondisi berbahaya, yakni hukum internasional kian dipinggirkan, sementara itu norma dan kesepakatan global yang seharusnya menjadi pagar stabilitas justru terus terkikis. Pernyataan tersebut patut menjadi alarm bagi para pemimpin dunia, sekaligus refleksi serius bagi masyarakat internasional.

Kerapuhan tatanan global tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi dari pelanggaran aturan internasional yang dibiarkan tanpa konsekuensi tegas. Ketika hukum internasional dilanggar secara selektif dan digunakan sebagai alat pembenaran kekuatan, kepercayaan terhadap sistem multilateral pun runtuh. Akibatnya, dunia memasuki apa yang disebut sebagai 'ruang abu-abu' yang berbahaya, ketika batas antara damai dan konflik menjadi kabur dan tak menentu.

Contoh paling nyata dari kondisi tersebut terlihat pada intervensi Amerika Serikat terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Penangkapan seorang kepala negara oleh kekuatan eksternal tanpa legitimasi Perserikatan Bangsa-Bangsa atau dasar hukum internasional yang sah mengguncang norma dasar hubungan antarnegara. Tindakan semacam itu tidak hanya mencederai kedaulatan negara, tetapi juga berpotensi menjadi preseden berbahaya yang melemahkan tatanan global.

Keprihatinan pun muncul dari berbagai negara, termasuk Indonesia, yang secara konsisten menekankan pentingnya penyelesaian damai dan penghormatan terhadap hukum internasional.

Situasi ini mengingatkan dunia pada kegagalan besar dalam sejarah, yakni runtuhnya Liga Bangsa-Bangsa yang pada akhirnya membuka jalan menuju Perang Dunia II. Ketika negara-negara bertindak semata-mata berdasarkan kepentingan sempit dan logika bertahan hidup masing-masing, dunia terjerumus ke dalam anarki diplomatik.

Sejarah seharusnya menjadi pelajaran, bukan sekadar catatan yang diabaikan. Dalam konteks ini, Indonesia tidak boleh bersikap pasif. Pemerintah harus tampil aktif dan visioner, baik di tingkat regional maupun global. Di kawasan ASEAN, Indonesia perlu terus memperkuat kerja sama yang berlandaskan saling menghormati kedaulatan dan solidaritas regional.

Prinsip politik luar negeri bebas aktif yang tidak berpihak kepada blok kekuatan mana pun, tapi aktif memperjuangkan perdamaian, harus tetap menjadi jangkar utama diplomasi Indonesia. Diplomasi bukan sekadar rutinitas pertemuan formal, melainkan sarana membangun konsensus dan meredakan ketegangan secara damai.

Lebih dari itu, Indonesia memiliki posisi strategis untuk berperan sebagai jembatan antara negara-negara besar dan negara-negara berkembang, mempertemukan kepentingan yang kerap berseberangan dalam semangat dialog dan kerja sama.

Reformasi tata kelola global juga harus menjadi agenda utama diplomasi Indonesia. Dunia membutuhkan sistem internasional yang lebih adil, inklusif, dan responsif terhadap tantangan kontemporer, mulai dari konflik bersenjata, perubahan iklim, krisis pangan, hingga pandemi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan institusi multilateral lainnya harus didorong agar benar-benar merepresentasikan suara seluruh negara, bukan hanya kepentingan segelintir kekuatan besar.

Mengembalikan tatanan dunia yang rapuh menuntut kepemimpinan yang berani dan berprinsip. Indonesia harus berdiri tegak di panggung global, menegaskan kembali komitmen terhadap hukum internasional, serta bekerja sama dengan negara lain untuk menegakkan aturan yang adil dan stabil.

Dunia yang rapuh memang tidak dapat diperbaiki oleh satu negara saja. Namun, tanpa kontribusi Indonesia, upaya kolektif tersebut akan kehilangan salah satu pilar pentingnya. Indonesia harus, dan mampu, menjadi bagian dari solusi.

 



Berita Lainnya
  • Timnas Futsal di Titik Awal Menuju Puncak

    07/2/2026 05:00

    KEBERHASILAN tim nasional futsal Indonesia menembus final Piala Asia Futsal 2026 menandai sebuah babak penting dalam sejarah olahraga nasional.

  • Ekonomi Mulai di Zona Terang

    06/2/2026 05:00

    KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.

  • Alarm Pengelolaan Sampah

    05/2/2026 05:00

    BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.

  • Jaga Regenerasi Bulu Tangkis Kita

    04/2/2026 05:00

    SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.

  • Meneruskan Ambang Batas Parlemen

    03/2/2026 05:00

    KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.

  • Tindak Aksi Kemplang Pajak

    02/2/2026 05:00

    DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.

  • Benahi Bursa Efek Indonesia

    31/1/2026 05:00

    KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.

  • Jangan Ulangi Kasus Hogi

    30/1/2026 05:00

    DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.

  • Memangkas BBM Subsidi Berbasis Keadilan

    29/1/2026 05:00

    PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

  • Menunggu Bukti Aksi Purbaya

    28/1/2026 05:00

    BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.

  • Gaji Kecil bukan Pembenar Aksi Korup

    27/1/2026 05:00

    Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.

  • Lalai Mencegah Bencana

    26/1/2026 05:00

    NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.

  • Akhiri Menyalahkan Alam

    24/1/2026 05:00

    BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.

  • Pencabutan Izin bukan Ajang Basa-basi

    23/1/2026 05:00

    PENCABUTAN izin 28 perusahaan membuka peluang bagi pemulihan lingkungan pascabencana Aceh dan Sumatra.

  • Mewaspadai Pelemahan Rupiah

    22/1/2026 05:00

    PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir bukan sekadar fenomena singkat.

  • Akhiri Biaya Politik Tinggi

    21/1/2026 05:00

    Korupsi tersebut adalah gejala dari penyakit sistemik yang belum juga disembuhkan, yakni politik berbiaya tinggi.