Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Martabat di Balik Kilau Medali

22/12/2025 05:00

SEBUAH kado manis penutup tahun 2025 dipersembahkan para atlet Indonesia yang berjuang di ajang SEA Games 2025 Thailand. Posisi peringkat kedua di bawah tuan rumah dengan raihan 91 medali emas sungguh membanggakan. Sebab, mereka semula hanya ditargetkan meraih 80 medali emas untuk menyegel peringkat ketiga.

Meski kalah jauh dari Thailand yang meraup 233 medali emas, posisi runner-up adalah juara yang sesungguhnya. Harap mafhum, dalam ajang SEA Games, peringkat pertama lazimnya adalah 'milik' tuan rumah.

Terakhir kali Indonesia meraih predikat 'juara sesungguhnya' ialah pada SEA Games Chiang Mai, Thailand, pada 1995, sudah 30 tahun yang lalu. Ketika itu, Indonesia menjadi runner-up dengan menyabet 77 medali emas.

Keberhasilan kontingen Indonesia di kancah SEA Games 2025 bukan sekadar catatan angka di atas papan skor. Prestasi itu adalah manifestasi dari peluh, air mata, dan pertaruhan harga diri bangsa. Raihan 91 emas menjadi simbol ketangguhan atlet-atlet kita di tengah persaingan ketat negara-negara Asia Tenggara.

Agaknya, janji bonus Rp1 miliar untuk setiap medali emas yang dinyatakan Presiden Prabowo turut melecut semangat para atlet. Namun, iming-iming materi tanpa kemampuan memenangi pertandingan, tidak akan cukup.

SEA Games 2025 menunjukkan banyak atlet Indonesia yang unggul di level regional. Bahkan, beberapa dari mereka, seperti lifter Rizki Juniansyah, mampu menunjukkan superioritas di kancah dunia.

Lantas apa sebetulnya yang membuat prestasi Indonesia cenderung melempem sampai perlu waktu 30 tahun untuk meraih kembali prestasi tertinggi? Jika tidak menjadi tuan rumah, Indonesia paling banter finis ketiga, terjepit oleh dominasi Thailand dan Vietnam.

Banyaknya atlet muda dari kelompok generasi Z yang mampu menyabet medali, bahkan medali emas, di SEA Games 2025 sesungguhnya membuktikan Indonesia tidak kekurangan bibit-bibit berkualitas.

Kendala utama yang terus-menerus menghantui ialah belum sinkronnya sistem pembinaan atlet dari tingkat daerah hingga pusat. Kompetisi usia muda yang berkualitas sangat minim sehingga membuat bibit atlet sulit berkembang sejak dini.

Masalah infrastruktur yang tidak merata dan kurangnya penerapan metode mutakhir pembinaan atlet turut mempertebal tembok besar yang menghambat laju prestasi atlet Indonesia. Itu masih diperparah kisruh manajemen dan buruknya tata kelola kepengurusan cabang olahraga.

Di sisi lain, atlet berprestasi cenderung belum mendapatkan penghargaan yang memadai untuk menjamin penghidupan yang layak. Sejumlah legenda nasional bidang olahraga, setelah meninggalkan gelanggang, harus bekerja sebagai buruh cuci, tukang las, atau bahkan mengalami krisis identitas pascapensiun.

Dasar hukum untuk penghargaan atlet sudah ada dalam konstitusi. Pasal 28C ayat (1) UUD 1945 menjamin hak mengembangkan diri melalui pendidikan dan kebudayaan, termasuk olahraga, demi meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan juga mengamanatkan pemerintah memberikan penghargaan kepada atlet, tenaga keolahragaan, dan organisasi olahraga yang berprestasi.

Kita mendorong agar implementasi Undang-Undang Keolahragaan ini tidak berhenti pada seremonial pemberian bonus. Negara harus hadir dalam bentuk sistem proteksi yang memastikan kehidupan yang layak bagi mantan atlet berprestasi. Dalam penghargaan itu ada martabat yang dijunjung. Investasi pada kesejahteraan atlet adalah juga investasi pada martabat bangsa.

Prestasi SEA Games 2025 harus menjadi titik balik. Jangan biarkan air mata haru di podium berubah menjadi air mata kepiluan di masa tua. Mari kita bangun sistem yang menjadikan atlet berprestasi sebagai jalan menuju kesejahteraan, bukan sekadar pengabdian yang berujung pada kemiskinan.

 



Berita Lainnya
  • Timnas Futsal di Titik Awal Menuju Puncak

    07/2/2026 05:00

    KEBERHASILAN tim nasional futsal Indonesia menembus final Piala Asia Futsal 2026 menandai sebuah babak penting dalam sejarah olahraga nasional.

  • Ekonomi Mulai di Zona Terang

    06/2/2026 05:00

    KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.

  • Alarm Pengelolaan Sampah

    05/2/2026 05:00

    BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.

  • Jaga Regenerasi Bulu Tangkis Kita

    04/2/2026 05:00

    SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.

  • Meneruskan Ambang Batas Parlemen

    03/2/2026 05:00

    KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.

  • Tindak Aksi Kemplang Pajak

    02/2/2026 05:00

    DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.

  • Benahi Bursa Efek Indonesia

    31/1/2026 05:00

    KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.

  • Jangan Ulangi Kasus Hogi

    30/1/2026 05:00

    DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.

  • Memangkas BBM Subsidi Berbasis Keadilan

    29/1/2026 05:00

    PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

  • Menunggu Bukti Aksi Purbaya

    28/1/2026 05:00

    BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.

  • Gaji Kecil bukan Pembenar Aksi Korup

    27/1/2026 05:00

    Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.

  • Lalai Mencegah Bencana

    26/1/2026 05:00

    NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.

  • Akhiri Menyalahkan Alam

    24/1/2026 05:00

    BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.

  • Pencabutan Izin bukan Ajang Basa-basi

    23/1/2026 05:00

    PENCABUTAN izin 28 perusahaan membuka peluang bagi pemulihan lingkungan pascabencana Aceh dan Sumatra.

  • Mewaspadai Pelemahan Rupiah

    22/1/2026 05:00

    PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir bukan sekadar fenomena singkat.

  • Akhiri Biaya Politik Tinggi

    21/1/2026 05:00

    Korupsi tersebut adalah gejala dari penyakit sistemik yang belum juga disembuhkan, yakni politik berbiaya tinggi.