Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Membedah Gurita Mafia Tanah

12/11/2025 05:00

DUGAAN penyerobotan tanah yang menimpa Wapres ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla bukanlah tamparan baru bagi negara. Kasus JK hanya menegaskan bahwa negara memang masih kepayahan melawan mafia tanah.

Kalaupun ada yang mengejutkan, kasus JK tersebut semakin jelas menunjukkan kekuatan besar di balik mengguritanya mafia tanah di Indonesia. Beragam praktik kecurangan itu diduga kuat berhulu pada raksasa-raksasa berwajah pengembang.

Pada kasus JK, tanah seluas 16,4 hektare miliknya diduga dicaplok oleh PT GMTD yang bergerak di sektor properti dan real estat. Salah satu pemegang saham GMTD menegaskan bahwa permasalahan sengketa tanah dengan JK tidak ada hubungan dengan pihaknya.

Akan tetapi, dari penuturan JK tergambar dugaan praktik penjualan tanah yang melibatkan mafia dengan banyak kasus. PT GMTD disebut JK membeli tanah dari orang yang telah meninggal pada 2016. Pada 2012 pun, nama orang yang meninggal tersebut telah terseret sekitar 61 kasus sengketa tanah di Makassar. Di situlah hal-hal misterius banyak ditemukan.

Namun, lagi-lagi, pertanyaannya bagaimana semua hal misterius itu bisa mulus dan melewati segala sesuatu yang prosedural? Dari kasus JK pun diduga kuat aroma keterlibatan oknum-oknum penyelenggara negara, baik di institusi eksekutif maupun di yudikatif, ikut bermain.

Pasalnya, prosedur pengukuran lahan diduga tidak dijalankan. Tita-tiba sudah ada perintah eksekusi lahan yang dikeluarkan Pengadilan Negeri Kota Makassar.

Jika berkaca dari kasus-kasus mafia tanah yang mencuat di sekitar lima tahun belakangan, kita bisa menarik benang merah bahwa kondisi yang terjadi saat ini adalah bentuk kekalahan negara yang semakin telak. Sejak 2021, dengan kasus yang menimpa mantan Menlu Dino Patti Djalal dan aktris Nirina Zubir, kita sudah melihat bagaimana sindikat mafia tanah melibatkan banyak pejabat pembuat akta tanah.

Meski di dua kasus itu tidak terungkap keterlibatan oknum BPN, mudahnya penerbitan sertifikat baru tanpa bukti akta jual beli menunjukkan betapa bobroknya sistem verifikasi pertanahan kita.

Maka, yang terjadi saat ini ibarat petaka yang dituai sendiri. Tidak adanya perbaikan sistem berpadu dengan praktik kotor di berbagai lini.

Perang melawan mafia tanah tidak bisa hanya menjadi perang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Perang ini membutuhkan reformasi sistem dan kelembagaan lintas sektor. Oleh karena itu, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga harus benar-benar bersatu menanganinya.

Tanpa memenangi perang saat ini, tidak hanya sistem pertanahan yang semakin rusak, tapi akan berbuah pula pada kesewenangan dan penindasan di banyak sektor lain. Saatnya negara menunjukkan taring di depan para mafia.

 



Berita Lainnya
  • Jangan Remehkan Alarm Rupiah

    17/1/2026 05:00

    PASAR keuangan Indonesia sedang mengirimkan sinyal bahaya. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hebat sejak pergantian tahun. 

  • Aset Dirampas, Koruptor Kandas

    16/1/2026 05:00

    SECERCAH harapan tentang akan hadirnya undang-undang tentang perampasan aset kembali datang.

  • Kembalikan Tatanan Dunia yang Rapuh

    15/1/2026 05:00

    TATANAN dunia yang selama puluhan tahun menjadi fondasi hubungan antarnegara kini berada dalam ujian terberat sejak berakhirnya Perang Dunia II.

  • Point of No Return IKN

    14/1/2026 05:00

    POINT of no return, alias maju terus meski tantangan dan risiko yang akan dihadapi sangat besar.

  • Hentikan Kriminalisasi Kritik

    13/1/2026 05:00

    KEBEBASAN berekspresi yang dilindungi oleh konstitusi menghadapi tantangan serius akhir-akhir ini.

  • Basmi Habis Benalu Pajak

    12/1/2026 05:00

    BELUM dua pekan menjalani 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah dua kali unjuk taring.

  • Syahwat Materi di Jalan Suci

    10/1/2026 05:00

    KABAR yang dinanti-nanti dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang penetapan tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan 2024 akhirnya datang juga.

  • Satu Pengadilan Beda Kesejahteraan

    09/1/2026 05:00

    HAKIM karier dan hakim ad hoc secara esensial memiliki beban dan tanggung jawab yang sama.

  • Menjaga Muruah Pengadilan

    08/1/2026 05:00

    Meski berdalih memberikan rasa aman kepada jaksa, kehadiran tiga personel TNI itu justru membawa vibes intimidasi bagi masyarakat sipil di ruang sidang tersebut.

  • Dikepung Ancaman Krisis Global

    07/1/2026 05:00

    SERANGAN Amerika Serikat (AS) ke Venezuela bukan sekadar eskalasi konflik bilateral atau episode baru dari drama panjang Amerika Latin.

  • Menagih Bukti UU Perampasan Aset

    06/1/2026 05:00

    DI awal tahun ini, komitmen wakil rakyat dalam memperjuangkan pemberantasan korupsi sejatinya dapat diukur dengan satu hal konkret

  • Jamin Rasa Aman di Ruang Kritik

    05/1/2026 05:00

    DALAM sebuah negara yang mengeklaim dirinya demokratis, perbedaan pendapat sesungguhnya merupakan keniscayaan.

  • Jangan Lamban lagi Urus Bencana

    03/1/2026 05:00

    REKONSTRUKSI dan rehabilitasi pascabencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara kembali menempatkan negara pada ujian penting.

  • Memaknai Ulang Pertumbuhan

    02/1/2026 05:00

    MESKI baru memasuki hari kedua 2026, mesin negara sudah dipacu untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 5,4%.

  • Saatnya Mewujudkan Keadilan Sosial

    01/1/2026 05:00

    PERGANTIAN tahun telah menempatkan 2025 di masa lalu. Dalam lembaran baru, 2026 membentangkan jalan masa depan bangsa yang penuh simpangan dan tantangan. 

  • Akhiri Penegakan Hukum Minim Keadilan

    31/12/2025 05:00

    PENEGAKAN hukum dan pemenuhan keadilan merupakan syarat utama dalam negara demokrasi.