Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMANG tidak ada satu model baku di dunia ini untuk perang melawan wabah. Model yang diterapkan suatu negara belum tentu sesuai bagi negara lain.
Sebab itu kita melihat ada Tiongkok yang berhasil bangkit setelah lockdown dan ada pula Korea Selatan yang berhasil menurunkan penularan tanpa ada penutupan wilayah. Hanya ada 8 kasus baru yang dilaporkan dari seluruh ‘Negeri Gingseng’ itu pada Minggu (19/4). Kunci mereka ialah mengandalkan pemeriksaan yang sangat masif.
Namun, ketika Indonesia tidak memilih di antara dua cara itu, tidak soal pula. Sumber daya hingga kultur masyarakat yang berbeda membuat pemerintah bisa berargumen untuk menerapkan model penanggulangan yang berbeda, yakni pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Sejak awal PSBB memang sudah banyak dikritik karena dinilai tidak berbeda dari anjuran stay at home yang sudah lebih dulu diumumkan. PSBB tidak dapat memutus pergerakan orang dari dan ke suatu wilayah layaknya opsi karantina. Meski demikian, PSBB tetaplah aturan yang punya sanksi.
Merujuk Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, pelanggar PSBB dapat dipidana 1 tahun penjara dan atau denda paling banyak Rp100 juta. Sayang, PSBB justru dibuat letoi oleh para pemangku kebijakan sendiri.
Lagi-lagi ketidakkompakan penegakan aturan di antara para menteri menjadi biang kerok lemahnya perang melawan covid-19. Lihat saja bagaimana silang kebijakan antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perhubungan soal aturan berkendara dengan motor. Kemudian juga izin-izin khusus dari Kementerian Perindustrian yang membolehkan berbagai industri yang bukan esensial alias yang tidak dikecualikan dalam kebijakan PSBB, namun tetap beroperasi.
Ketidakkompakan itulah yang berakibat masih ramainya jalanan dan berbagai angkutan publik. Maka ketika warga masih berdempetan di KRL maupun membonceng ojek, memang tidak patut disalahkan. Mereka hanya menempuh akses yang mereka sanggup demi memenuhi keinginan perusahaan yang memang direstui para pemangku kebijakan tersebut.
Kita sangat setuju ketika Presiden Jokowi meminta PSBB dievaluasi segera. Presiden tentulah menyadari betapa tidak efektifnya PSBB dengan berkaca dari jumlah penderita covid-19 yang terus naik. Namun, sepantasnya pula Presiden melihat jernih akar penyebabnya.
Jika benar Presiden ingin penyempurnaan terus-menerus terhadap penanggulangan pandemi, sudah sepantasnya evaluasi pertama ialah terhadap para pembantunya. Evaluasi ini pun semestinya dilakukan dengan cepat karena perpanjangan PSBB yang sudah tidak efektif ini hanya menciptakan apatisme. Lambat laun, ketidakpatuhan akan meluas dan justru menciptakan petaka sebenarnya.
Tidak hanya evaluasi PSBB, Presiden juga harus segera menggenjot mengadaan alat PCR (polimerase chain reaction) maupun persiapan 49 laboratorium lainnya untuk pemeriksaan PCR. Hingga minggu lalu, baru 29 laboratorium yang siap, dari total 78 laboratorium yang diplotkan untuk pemeriksaan PCR. Bandingkan dengan Malaysia yang memiliki 43 laboratorium yang beroperasi penuh untuk pemeriksaan PCR.
Tidak mengherankan jika Indonesia menjadi salah satu negara dengan persentase pemeriksaan PCR terendah. Hingga minggu lalu baru 52 orang dari tiap 1 juta orang Indonesia yang menjalani pemeriksaan PCR.
Padahal pemeriksaan inilah yang menjadi kunci keberhasilan perang melawan korona jika tidak ingin menerapkan lockdown ketat. Sebab pemeriksaan PCR ibarat jaring tidak terlihat yang membuat kita dapat memetakan dan menghadang penularan wabah yang lebih luas.
NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.
PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.
RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.
FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.
Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.
DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.
Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.
IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.
SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved