Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
ALIH-ALIH perang melawan korona, justru korbannya yang ramai-ramai ditindas. Miris, tapi begitulah yang terjadi seiring dengan terkonfirmasinya kasus covid-19 pertama WNI di dalam negeri.
Tidak hanya kepanikan memborong beragam barang, yang terlihat di dalam negeri ialah hilangnya nurani terhadap korban korona. Diawali dari diungkapkannya alamat dua warga Depok positif covid-19 oleh sang wali kota sendiri. Hanya dalam beberapa saat, informasi sangat pribadi tentang kedua korban ramai dibagikan warganet.
Bukan hanya alamat jelas, pekerjaan, dan foto, riwayat kesehatan keduanya juga menjadi santapan publik. Tidak ada yang dapat dibenarkan dari penyebaran data sedetail itu. Selain memang menyalahi hukum, dampaknya terhadap penyebaran kewaspadaan bagi orang-orang yang pernah kontak sangat diragukan.
Kewaspadaan macam itu sudah bisa disebarkan lewat informasi data umum. Terlebih, tugas utama pemerintah ialah untuk melakukan pendataan dan screening saksama terhadap orang-orang yang masuk radius kontak dengan orang positif covid-19 dalam jangka 14 hari terakhir.
Sebab itu pula kita lihat di negara maju terdampak korona tidak ada data detail diungkapkan ke publik. Bahkan media massa baru mengetahui lokasi-lokasi jejak aktivitas pasien positif ketika dilakukan sterilisasi dengan disinfektan di lokasi tersebut.
Meski begitu, tidak bisa kita menyalahkan pembocoran data pasien korona itu pada bengkoknya nalar dan tipisnya nurani banyak masyarakat kita. Kasus ini sesungguhnya hanya contoh lain kegamblangan potret masyarakat yang suka gosip dan menikmati nestapa orang lain.
Yang sangat disayangkan ialah ketika pejabat menjadi bagian dari itu. Kondisi tersebut bukan saja menunjukkan ketidakpahaman akan tanggung jawab tugas, moral, dan aturan hukum, melainkan juga ketidakmampuan akan penanganan yang semestinya.
Penyebaran informasi yang sebatas kasus tidak ubahnya curhat semata. Terlebih sudah berulang kali pejabat kita hanya sanggup memberikan informasi sepotong dan gelagapan begitu ditanyakan soal lebih dalam. Informasi macam inilah yang jadi bensin bagi pecinta hoaks.
Pejabat kita semestinya paham bahwa informasi yang mereka berikan semestinya cermin dari kecakapan kerja mereka sendiri. Dalam kasus covid-19 pertama, lubang besar ketidakcakapan bahkan sudah terbaca dari tidak sinkronnya kronologi versi pemerintah dengan versi pasien.
Masyarakat mau tidak mau sulit memercayai kronologi pemerintah karena bagaimana mungkin penderita yang terdeteksi baru satu orang, sedangkan aktivitas dengan WN Jepang itu di sebuah tempat dansa dengan banyak orang. Sementara itu, sudah jadi informasi sangat umum bahwa penularan virus korona tidak butuh kontak bersentuhan langsung.
Lubang bahkan kejanggalan informasi juga terjadi dalam kasus meninggalnya seorang pria suspect korona di Cianjur, Selasa (3/1). Ketika pejabat Dinas Kesehatan Cianjur dan Sekretaris Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes mantap mengatakan pasien tersebut negatif korona, fakta mengherankan tentang sampel terungkap. Disebutkan, sampel yang diuji merupakan sampel darah. Di sisi lain, sudah beberapa kali disebutkan para ahli virus dan biologimolekuler bahwa sampel darah tidak tepat untuk virus korona sebab hal itu memungkinkan hasil negatif.
Bukan lagi menyedihkan, tapi benar-benar celaka ketika di saat darurat benar-benar sudah di dalam negeri kita masih belum ajek soal standar pengujian. Kegawatan macam korona semestinya sama sekali tidak menoleransi prosedur yang meragukan.
Maka, sekali lagi, tidak ada jawaban ataupun solusi atas semua chaos terkait korona di dalam negeri selain lewat kecakapan kerja pemerintah, baik pusat maupun daerah. Kelemahan di sana-sini tidak akan bisa terus dijawab dengan imbauan untuk tidak panik. Gaya penanggulangan model ini bukan menyelamatkan, justru hanya menyembunyikan bencana sebelum pecah lebih gawat.
NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.
PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.
RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.
FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.
Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.
DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.
Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.
IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.
SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved