Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Sampai Kiamat Natuna Adalah Indonesia

10/1/2020 05:00

KEWIBAWAAN Indonesia benar-benar diuji dalam kasus Natuna. Klaim sepihak Republik Rakyat Tiongkok atas perairan di wilayah Kepulauan Riau itu tidak bisa dipandang sepele. Pemerintah mesti menyikapinya dengan serius.

Klaim sepihak Tiongkok memang tak sebatas kata-kata. Tanpa memedulikan hubungan baik dengan Indonesia ataupun hukum internasional, 'Negeri Tirai Bambu' merestui kapal-kapal nelayan mereka memanen ikan di Laut

Natuna sejak Desember 2019. Bahkan, tak sekadar merestui, Tiongkok melindungi kapal-kapal pencuri itu dengan mengerahkan kapal-kapal penjaga pantai untuk melakukan pengawalan.

Tiongkok betul-betul keras kepala. Padahal, jelas dan tegas bahwa Natuna sah menjadi milik Indonesia. Klaim mereka yang mengacu pada nine dash-line atau sembilan garis imajiner tak selaras dengan hukum internasional yang diakui Konvensi Hukum Laut PBB atau United Nations Convention for the Law of the Sea (UNCLOS) 1982.

Tiongkok ialah anggota UNCLOS sehingga wajib menghormati dan menaati implementasinya. Pada konteks itulah, kita sebagai bangsa yang berdaulat pantang membiarkan Tiongkok melanjutkan sikap dan tindakan menyimpang mereka.

Segenap upaya yang telah diambil pemerintah memperlihatkan bahwa kita tak akan tunduk begitu saja pada arogansi Tiongkok. Beragam pesan telah disampaikan kepada Tiongkok. Dari nota protes hingga pengerahan kapal-kapal perang, pesawat tempur, dan tentara merupakan pesan yang gamblang kepada siapa pun untuk tidak main-main dengan Indonesia.

Pesan terkini bahkan disampaikan langsung Presiden, Kepala Negara, yang juga Panglima Tertinggi TNI, Joko Widodo. Kemarin, Jokowi mengunjungi Kabupaten Natuna dan bertemu dengan ratusan nelayan untuk berdialog sekaligus menyerahkan sertifikat. Kunjungan ke Natuna itu ialah kali keempat yang dilakukan Jokowi.

Dari sisi agenda, kunjungan Jokowi memang hanya untuk menyapa rakyatnya. Akan tetapi, dari sudut politik internasional, kunjungan itu bermakna penegasan bahwa Natuna ialah milik Indonesia.

Kunjungan itu menjadi peringatan pula kepada siapa saja, termasuk Tiongkok, untuk tidak coba-coba mengusik kepunyaan Indonesia. Terbukti, kemarin kapal-kapal nelayan berikut kapal penjaga pantai Tiongkok menyingkir dari perairan Natuna

Di Natuna, Jokowi dengan sangat tegas menyatakan bahwa Kepulauan Natuna merupakan wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari dulu sampai sekarang hingga kiamat kelak, Natuna adalah Indonesia. Jokowi juga kembali menegaskan tidak ada tawar-menawar terhadap kedaulatan Indonesia, termasuk Natuna.

Kita mendukung, sangat mendukung, sikap dan langkah pemerintah untuk memastikan Natuna tetap berbendara merah putih. Natuna adalah NKRI sampai kapan pun yang harus dipertahankan dengan cara apa pun.

Kita sepakat, amat sepakat, tidak perlu ada negosiasi dengan Tiongkok karena Natuna bukan ajang sengketa. Kita setuju, amat setuju, tidak ada tawar-menawar atau perundingan dengan Tiongkok karena Natuna bukan barang dagangan yang diperjualbelikan. Natuna ialah bagian dari tubuh Indonesia yang tak mungkin dipotong atau diambil begitu saja.

Pemerintah pantang kendur dalam menyikapi klaim sepihak Tiongkok atas Natuna. Sudah saatnya pula pesan-pesan lebih keras disampaikan, antara lain dengan kembali menenggelamkan kapal-kapal asing perampok ikan di perairan Indonesia seperti yang dilakukan menteri Susi Pudjiastuti.

Ketegasan seperti itu terbukti membuat Indonesia disegani. Sebaliknya, sikap lunak membuat kedaulatan kita diinjak-injak. Tiongkok memang investor terbesar ketiga Indonesia, tetapi bukan berarti kita boleh membiarkan mereka bertindak semaunya sendiri.

Betul kata Susi Pudjiastuti bahwa pada saat Tiongkok berinvestasi, kita mesti hormati dan jaga. Akan tetapi, pada saat mencuri, dia harus kita tangkap dan tenggelamkan.

Dengan kandungan kekayaan alam, baik ikan maupun ladang gas begitu melimpah ruah, Natuna akan selalu menjadi incaran pencuri. Karena itu, negara harus benar-benar hadir di sana untuk menjaga dan memastikan ia tetap menjadi milik Indonesia.

 



Berita Lainnya
  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.