Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPERCAYAAN publik terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi sesungguhnya belum begitu pulih pascapengesahan UU Nomor 19 Tahun 2019.
Publik seperti masih meragukan kredibilitas dan independensi KPK di bawah Firli Bahuri yang memulai periode kepemimpinan sejak 21 Desember 2019.
Pangkal keraguan publik ialah adanya figur tertentu di jajaran pimpinan KPK yang memiliki rekam jejak pelanggaran etika. Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK yang mengharuskan lembaga antirasuah itu memiliki struktur Dewan Pengawas pun membuat publik tidak terlalu yakin lagi dengan kredibilitas dan independensi KPK.
Akan tetapi, saat ini KPK mengumumkan telah melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap dua pejabat negara secara berturut-turut.
Pada Selasa (7/1), para penyidik KPK menangkap tangan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah di Sidoarjo, Jawa Timur. Bupati Saiful diduga terlibat rasuah dalam kasus pengadaan barang dan jasa di kabupaten tersebut.
Sehari kemudian, KPK juga menangkap tangan komisioner Komisi Pemilihan Umum Wahyu Setiawan. Wahyu Setiawan disebut ditangkap KPK di dalam pesawat saat hendak pergi ke Bangka Belitung.
Penangkapan kedua pejabat negara oleh para penyidik KPK kita katakan cukup mengejutkan. Mengejutkan karena belum genap satu bulan memulai periode kerja, ternyata KPK sudah mampu membuat gebrakan.
Tidak tanggung-tanggung, gebrakan KPK itu dari segi figur yang ditangkap pun dapat dikatakan cukup berbobot. Pejabat negara setingkat bupati tentu bukan target kelas teri. Begitu pula dengan komisioner KPU pusat, yang merupakan penyelenggara pemilu di tingkat nasonal.
Pertanyaannya ialah apakah gebrakan KPK melalui OTT tersebut sudah dapat mengikis keraguan publik terhadap kredibilitas dan independensi KPK?
Tentu terlalu dini untuk berharap kedua OTT ini langsung memulihkan kepercayaan publik kepada KPK. Harus kita tegaskan pula bahwa kepercayaan publik terhadap KPK tidak serta-merta menjadi sepenuhnya pulih kembali dengan kedua OTT itu. Paling banter penangkapan kedua pejabat publik itu sekadar menaikkan level kepercayaan publik kepada KPK.
Namun, kita tetap harus mengapresiasi gebrakan KPK tersebut. Kita setuju dengan analisis yang menyebutkan bahwa melalui OTT di awal kinerja itu, KPK telah membuktikan bahwa mereka tidak lemah. Itu artinya tidak ada pelemahan KPK melalui revisi UU KPK. Kekhawatiran bahwa KPK akan menjadi lembaga antirasuah yang tidak kredibel dan tidak independen pascapengesahan UU Nomor 19 Tahun 2019 pun dapat ditepis.
Meskipun demikian, kita mengingatkan KPK untuk tidak menggantungkan kinerja semata kepada OTT serupa KPK-KPK yang lalu. Itu karena OTT pada dasarnya tindakan 'memadamkan api', bukan 'mencegah kebakaran.'
Kita mencatat, bupati dan penyelenggara pemilu yang korup merupakan produk dari politik berbiaya selangit. Melakukan OTT terhadap pejabat negara yang korup, yang merupakan hasil dari pemilu yang mahal, lama-kelamaan ibarat berburu di kebun binatang. Melakukan OTT bukan lagi tindakan hebat.
Akan tetapi, kita tidak hendak meminta KPK menghentikan sama sekali tindakan penegakan hukum. Kita tetap menginginkan KPK menangkap siapa pun yang terbukti telah melakukan korupsi, dan akan lebih signifikan jika KPK juga mulai melakukan pendekatan preventif. Ciptakan aturan agar calon kepala daerah kelak takut melakukan korupsi jika menjabat kelak, misalnya.
Di sisi lain, kalau melihat dua OTT terakhir yang melibatkan kepala daerah sebagai peserta pemilu dan komisioner KPU sebagai penyelenggara pemilu, kita mesti menciptakan sistem pilkada atau pemilu yang bisa mencegah terjadinya korupsi.
NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.
PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.
RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.
FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.
Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.
DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.
Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.
IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.
SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved