Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Mewaspadai Imbas Konflik AS-Iran

07/1/2020 05:05

HUBUNGAN internasional di era multilateral ibarat jaring laba-laba. Makin banyak kepentingan sebuah negara, makin rumit jaring itu.

Repotnya ialah ketika laba-laba dengan jaring raksasa itu tidak pernah puas. Itulah gambaran Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Memang AS telah lama menjadi laba-laba gendut dunia yang melebarkan jaring kepentingannya ke setiap negara. Namun, strategi dominasi yang dilakukan Trump kini bukan dengan merajut benang baru, melainkan merusak yang sudah ada. Maka yang terjadi ialah ancaman kekacauan dunia.

Trump melalukan itu lewat perintah serangan udara untuk membunuh pemimpin pasukan elite Iran, Jenderal Qassem Soleimani, pada Jumat (3/1) di Irak. Presiden kontroversial AS itu beralasan melindungi warga dan pejabatnya dari rencana serangan Soleimani meski sesungguhnya hingga Trump naik jabatan, AS tidak terlibat krisis langsung dengan Iran.

Iran, negara dengan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, itu menghormati perjanjian nuklir yang dijalin saat Barack Obama menjabat Presiden AS, meski negara itu juga tidak menghentikan pengembangan misilnya.

Di dalam negeri pun Trump banyak dihujat, apalagi langkahnya itu seperti menjilat ludah sendiri. Pada 2011, 2012, dan 2013, Trump berulang kali mencicit prediksinya bahwa Obama akan memulai perang dengan Iran demi meraih simpati publik dan memenangi pemilu kedua. Kini posisi Trump bahkan lebih pelik daripada Obama karena menghadapi Pemilu 2020 dalam status telah dimakzulkan DPR AS.

Bagaimanapun alasan Trump, tindakan tersebut nyata-nyata kriminal dan mencederai hukum internasional. AS yang selalu berlagak jadi polisi dunia kini menginjak-nginjak kedaulatan negara lain dengan melanggar wilayah udaranya. Dunia pantas bersikap karena yang terjadi di Irak bisa diulang di negara lain.

Lebih jauh lagi, sesungguhnya senat dan rakyat AS sendirilah yang bisa mencegah pemimpinnya dari menciptakan perang baru sebab memang rakyatlah yang selalu jadi korban terbesar dalam perang. Sekarang pun Iran telah mengumumkan sayembara hadiah Rp1,1 triliun bagi siapa saja yang bisa membawa kepala Trump.

Sebagai negara yang tidak terlepas dari jaring hubungan internasional, kita tidak bisa hanya waswas akan eskalasi perseteruan AS dengan Iran, Irak, maupun negara-negara Timur Tengah. Sedapat mungkin kita menegakkan politik bebas aktif, dengan kepentingan terbesar ialah menjaga ketahanan nasional.

Berkaca dari berbagai konflik yang terjadi wilayah itu, imbas terbesar dan tercepat ialah pada harga minyak. Pada Senin (6/1), harga minyak dunia pun telah naik lagi 20% sehingga mencapai U$70 per barel.

Kenaikan harga minyak jelas akan menjadi pukulan karena subsidi BBM tetap menyita porsi besar pada APBN. Tahun ini, APBN mengalokasikan subsidi energi Rp137,5 triliun.

Di luar imbas perseteruan AS-Iran, ketergantungan pada bahan bakar fosil memang menjadi sandungan dalam kemandirian negara. Sebab itu, justru semakin krusial bagi kita untuk memfokuskan diri pada energi baru dan terbarukan.

Pemerintah memang telah menetapkan target 23% EBT pada bauran energi nasional 2025. Maka, bukan saja target itu harus dipastikan dalam jalur, peran swasta dan masyarakat untuk beralih ke EBT serta konsep hemat energi pun harus digalakkan.



Berita Lainnya
  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.