Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Joko Widodo berkemauan kuat, sangat kuat, untuk memangkas birokrasi yang dikemas sebagai reformasi birokrasi. Birokrasi yang dikehendakinya ialah melayani, bukan dilayani.
Wacana memangkas birokrasi pertama kali disampaikan Jokowi dalam pidato politiknya seusai diumumkan sebagai presiden terpilih periode 2019-2024 pada Juli lalu. Saat itu dia mengatakan semestinya pemerintahan bisa bekerja dalam struktur yang sederhana agar bisa berjalan semakin lincah.
Struktur sederhana yang dikehendaki Jokowi kian jelas dalam pidato pelantikannya pada 20 Oktober. Birokrasi harus disederhanakan dengan cara memangkas struktur eselon, dari lima tingkat menjadi dua tingkat saja. Eselon III dan IV dipangkas, totalnya berjumlah 426.718 orang.
Jika eselon III dan IV dipangkas, jabatan yang hilang di kementerian antara lain kepala bagian, kepala bidang (eselon III), dan kepala subbagian dan kepala seksi (eselon IV).
Target penghapusan eselon III dan IV pada tahun depan. Sejauh ini, baru Kementerian Keuangan yang berani mendahului. Kemenkeu memangkas 19 jabatan eselon III dan 74 jabatan eselon IV di lingkungan Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu mulai Jumat (29/11).
Dari pemangkasan eselon itu, ada 112 pejabat struktural yang dialihkan menjadi pejabat fungsional.
Birokrasi saat ini warisan Orde Baru. Ciri sistem birokrasi saat itu memang disusun melalui jalur eselon. Ada lima tingkatan jabatan. Eselon I yang tertinggi dan eselon V yang terendah.
Setiap tingkatan eselon itu ditetapkan besar kecilnya tunjangan jabatan. Eselonisasi menjadi mewah karena selain menunjukkan wibawa kekuasaan, itu menggambarkan fasilitas tunjangannya.
Pemangkasan eselon III dan IV yang disertai penghapusan kekuasaan dan fasilitas tunjangan itu hendaknya tidak menimbulkan gejolak. Pada saat bersamaan, pemerintah perlu memikirkan anak tangga pembinaan karier yang selama ini melewati jenjang eselon.
Jujur diakui bahwa lima tingkatan hierarki birokrasi itulah yang membuat kinerja pemerintah bergerak sangat lamban. Saking lambannya itu disebut birokrasi siput. Pola pengambilan keputusan birokrasi siput ialah dari eselon I turun ke eselon II diturunkan lagi ke eselon III, IV, baru dari bawah naik lagi. Akibatnya, pengambilan keputusan jadi sangat lambat.
Contoh pengambilan keputusan yang lambat itu disampaikan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo. Untuk menyelenggarakan kegiatan di ranah kelistrikan, ada 2.000 jenis izin yang harus dipenuhi. Pengurusan izin baru selesai dalam waktu 2-4 tahun karena membutuhkan persetujuan dari pejabat eselon yang berlapis-lapis.
Harus tegas dikatakan bahwa eselonisasi telah mematikan inovasi dan kreativitas kaum milenial yang baru diterima sebagai pegawai negeri. Sama sekali tidak ada ruang di birokrasi yang memungkinkan milenial berkreasi, apalagi melebihi atasannya dari kaum kolonial, istilah anak muda sekarang.
Pemangkasan birokrasi sebuah keniscayaan jika konsisten melaksanakan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Di dalamnya eselonisasi birokrasi sudah tidak dipergunakan lagi.
Birokrasi ASN hanya dikelompokkan menjadi tiga jabatan. Kelompok pertama jabatan administrasi, kedua jabatan fungsional, dan ketiga jabatan pimpinan tinggi.
Penghapusan eselon III dan IV diharapkan memperpendek rentang kendali. Meja-meja birokrasi perizinan diharapkan semakin sedikit, waktu yang dibutuhkan kian pendek. Dengan demikian, tercipta efektivitas dan efisiensi dalam pengambilan keputusan.
Pemangkasan birokrasi mestinya dilakukan dalam koridor meningkatkan fungsi ASN sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik, serta perekat dan pemersatu bangsa. Fungsi ASN itu hanya bisa dijalankan birokrasi ramping yang bergerak cepat, bukan birokrasi gemuk yang lamban seperti siput.
NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.
PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.
RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.
FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.
Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.
DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.
Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.
IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.
SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved