Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Rekonsiliasi bukan Negosiasi

25/7/2019 05:00

KEDEWASAAN politik ditunjukkan para tokoh, kemarin. Di Menteng, Jakarta, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menjamu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Pada waktu hampir bersamaan, di Gondangdia, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menjamu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Lewat dua santap hangat itu masyarakat bisa melihat bahwa perbedaan politik bukanlah permusuhan. Kekalahan dan kemenangan bukan pula penghalang untuk duduk bersama.

Kehangatan hubungan para tokoh itu ialah gambaran sejati dinamika politik. Adakalanya di satu biduk, satu pasangan dalam pilpres, dan juga satu deklarasi kelahiran ormas.

Namun, ada pula masa berbeda jalan ketika nilai yang diusung juga berbeda. Terpenting ialah menyudahi kompetisi ketika kontestasi usai.

Itulah yang semestinya diteladani para kader partai hingga akar rumput. Tidak saja harus menghentikan permusuhan, tetapi juga sudah saatnya kembali ke persoalan bangsa yang lebih besar.

Di sisi lain, naif jika mengartikan rekonsiliasi menjadi persatuan seutuhnya. Bahkan rekonsiliasi itu sendiri juga memiliki arti menerima dan berdamai dengan perbedaan.

Terlebih di dunia politik, persatuan macam itu memang tidak boleh ada. Hal ini kembali kepada roh politik itu sendiri yang merupakan seni untuk kekuasaan.

Tanpa perbedaan, kekuasaan akan berbahaya karena terlampau besarnya. Itulah sebabnya, sejak dahulu adanya pihak yang berbeda atau oposisi ialah keharusan, bahkan kebutuhan politik.

Oposisi inilah yang menjadi pengimbang bagi pihak yang berkuasa. Menjadi kepanjangan tangan rakyat pula untuk menyentil manakala penguasa tidak lagi di jalurnya.

Penghargaan terhadap peran oposisi itu pula yang kita harapkan tidak tergoyahkan meski dalam kehangatan jamuan di Menteng kemarin.

Sebagai dua politikus senior lintas era, Megawati dan Prabowo tentunya paham bahwa demokrasi kita telah menjadi kuat juga berkat keteguhan oposisi.

Relasi keduanya sudah terjalin erat sejak Megawati dan Prabowo berpasangan pada Pilpres 2009. Dua pilpres berikutnya mereka bersimpangan jalan.

Dalam pernyataan pers bersama kemarin, keduanya memberi sinyalemen menjajaki peluang bekerja sama meskipun berbeda sikap politik saat Pilpres 2019.

Harus tegas dikatakan bahwa pemaksaan terhadap penyatuan koalisi akan cenderung berbuah tuntutan-tuntutan kompromistis. Lebih celaka lagi jika tuntutan itu hal yang berseberangan dengan hukum dan keadilan.

Hal ini pula yang sudah mulai muncul seiring dengan adanya upaya rekonsiliasi dari tokoh-tokoh partai.

Salah seorang tokoh Gerindra, misalnya, mensyaratkan rekonsiliasi dengan pemulangan tokoh yang tersangkut perkara hukum.

Permintaan ini tidak saja salah alamat, tetapi pula telah merendahkan kemuliaan rekonsiliasi. Merendahkan hukum dan kepentingan bangsa hanya demi kepentingan kelompok.

Adanya hal-hal itu memunculkan kekhawatiran sisi buruk rekonsiliasi. Wajar pula jika tidak sedikit pihak yang mengkhawatirkan penyalahgunaan rekonsiliasi menjadi negosiasi politik tersembunyi.

Sebab itu, kita meminta seluruh pemimpin partai untuk menjaga keluhuran proses demokrasi yang sudah dilalui dengan susah payah.

Janganlah pesta demokrasi kemarin justru rusak setelah mencapai finis. Elok nian bila saat ini soliditas di internal koalisi pendukung Jokowi-Amin tetap menjadi prioritas.

 



Berita Lainnya
  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.