Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Membangun Oposisi  Menjaga Demokrasi

23/7/2019 05:05

DEMOKRASI sebuah bangsa tidak akan tumbuh sehat jika pemangku kekuasaan hanya mewakili satu pandangan tanpa ada kekuatan yang mampu mengimbangi dan mengkritisinya. Oposisi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan menjadi salah satu fondasi negara demokrasi.

Kekuatan oposisi yang seimbang akan membuat pemerintah yang berkuasa 'terjaga' dan menyadari ada pihak lain yang bisa saja memberikan tawaran kebijakan yang lebih baik. Oposisi diperlukan pemerintah sebagai stimulus untuk meningkatkan kinerja.

Terbangunnya oposisi yang seimbang menjadi keniscayaan, dan merupakan tanggung jawab semua pemangku kekuasaan di negeri ini. Bukan hanya oleh koalisi partai politik pendukung Prabowo yang kalah, membangun oposisi juga menjadi tanggung jawab kubu Joko Widodo-Ma'ruf Amin yang menang dalam Pilpres 2019 untuk menciptakan iklim demokrasi yang sehat.

Dalam konteks ini, sangat penting untuk 'membiarkan' partai politik pendukung Prabowo menjalankan peran sebagai oposisi. Tak perlulah parpol di luar koalisi saat ini digoda dengan berbagai tawaran posisi. Apalagi, saat ini, partai koalisi Jokowi-Ma'ruf Amin menguasai lebih dari separuh kursi di parlemen atau 60,7%, sedangkan parpol pengusung Prabowo-Sandi hanya 39,3%.

Penguasaan kursi parlemen sebesar itu oleh parpol pendukung Jokowi sudah lebih dari cukup untuk menyokong kebijakan pemerintahan di parlemen. Dari segi kuantitas, tidak perlu lagi menarik parpol masuk ke koalisi. Jika ditambah lagi, koalisi pemerintah akan makin gemuk, sedangkan oposisi akan semakin lemah tanpa taji.

Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika pemerintahan tidak memiliki alat kontrol gara-gara hampir seluruh partai politik akhirnya bergabung ke kekuasaan. Pemerintahan tentu akan berjalan sesuka hati.

Pemerintah, dalam hal ini presiden, juga bakal sulit untuk bergerak lincah karena harus mengakomodasi begitu banyak kepentingan. Yang terjadi malah percekcokan internal. Sebuah kebijakan sangat mungkin akan diributkan internal pemerintahan sendiri. Ujung-ujungnya kepentingan rakyat pula yang dikorbankan.

Apalagi, Jokowi menegaskan bahwa dalam lima tahun mendatang dirinya sudah tidak punya beban dalam memimpin negeri ini. Untuk itulah akan perlu bagi Jokowi untuk fokus melakukan akselerasi pembangunan, menuntaskan kerjanya di periode pertama, juga mewujudkan janji-janji baru kampanyenya.

Lebih baik memperkuat soliditas koalisi yang ada saat ini daripada disibukkan dengan urusan konsolidasi koalisi karena hadirnya penumpang baru dalam pemerintahan. Apalagi partai-partai politik yang akan bergabung belakangan belum tentu teruji loyalitasnya.

Alih-alih menambah soliditas koalisi, yang terjadi ya itu tadi, kompetisi internal yang menyebabkan koalisi rapuh.

Struktur koalisi pemerintah itu merupakan pilihan Jokowi-Amin, apakah menjalankan pemerintahan dengan koalisi ramping atau koalisi pemerintahan yang sangat gemuk. Namun, yang jelas, hadirnya oposisi yang relatif solid sebagai penyeimbang koalisi yang sebetulnya sudah solid merupakan keharusan untuk menjaga iklim demokrasi.



Berita Lainnya
  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.