Cerdas Kelola Arus Balik

Penulis: Media Indonesia Pada: Jumat 07 Juni 2019, 05:10 WIB Editorial MI

MUDIK tidak identik lagi dengan horor apalagi setor nyawa di jalan raya. Manajemen mudik tahun ini menuai pujian. Dipuji karena mudik berjalan lancar dan angka kecelakaan turun drastis. Tantangan terbesar justru mengelola arus balik.

Ada tiga faktor penyebab mudik berjalan lancar. Pertama, pembangunan infrastruktur yang menghubungkan dari kota ke kota baik di Pulau Jawa maupun Sumatra berhasil mengurai kemacetan. Tahun ini bisa disebut sebagai pembuktian bahwa pembangunan infrastruktur nyata berguna bagi mobilitas masyarakat.

Kedua ialah kerja sama yang baik antarpemangku kepentingan. Kerja sama yang jauh lebih apik antara Kementerian Perhubungan, Polri, dan pemerintah daerah sehingga mampu mengurai kemacetan.

Faktor ketiga yang tidak kalah pentingnya ialah ada kesadaran yang tinggi dari masyarakat untuk mengutamakan keselamatan. Kesadaran itu tecermin dari pengaturan jadwal keberangkatan dan pemilihan moda transportasi.

Keberhasilan mengelola manajemen mudik harus dipertahankan saat mengatur arus balik terutama menyangkut kerja sama yang baik antarpemangku kepentingan dan masyarakat.

Hanya ada tiga pintu masuk Jakarta melalui darat yaitu lewat tol Merak dari arah Barat serta tol Jagorawi dan tol Cikampek yang bertemu di Cawang dari arah timur.

Kementerian Perhubungan telah menetapkan rekayasa lalu lintas untuk melancarkan arus balik. Rekayasa itu meliputi pemberlakuan satu jalur dan lawan arus di sejumlah ruas tol.

Pemberlakuan satu jalur akan diterapkan di tol Trans-Jawa dari Km 414 Kalikangkung, Semarang, ke arah barat sampai dengan Km 70 di Cikampek Utama. Sementara pemberlakuan lawan arus dimulai dari Km 70 Cikampek sampai dengan Km 65 ke arah Jakarta yang pelaksanaannya sesuai dinamika di lapangan dengan pertimbangan dari pihak kepolisian.

Tidak hanya itu. Untuk memperlancar lalu lintas arus balik, pemerintah masih memberlakukan larangan angkutan barang. Sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 37 Tahun 2019 tentang Pengaturan Lalu Lintas pada Masa Angkutan Lebaran 2019, Kementerian Perhubungan akan kembali melakukan pembatasan operasional angkutan barang di sejumlah ruas tol dan jalan nasional.

Harus tegas dikatakan bahwa seluruh kebijakan yang diambil pemerintah tidak berdampak apa-apa jika tidak disertai kepatuhan berlalu lintas demi keselamatan dari masyarakat itu sendiri. Kepatuhan saja tidak cukup, harus disertai dengan kecerdasan mengatur kepulangan dari kampung halaman menuju Jakarta.

Puncak arus balik diprediksikan pada 8 dan 9 Juni, karena 10 Juni seluruh pegawai negeri masuk kerja seperti biasa. Mereka yang cerdas akan kembali ke Jakarta sebelum memasuki puncak arus balik sehingga tidak terkena kemacetan di jalan raya.

Jika kembali ke Jakarta menggunakan kendaraan pribadi, pastikan kendaraan dalam kondisi prima. Pengguna tol harus memeriksa saldo uang elektroniknya, pastikan saldonya cukup. Persiapan diri tentu saja paling utama agar tubuh segar dan emosi stabil, sehingga tetap saling menghargai di jalan raya.

Termasuk dalam manajemen arus balik ialah pemerintah secara berkala memberikan informasi arus lalu lintas. Pengendara bisa juga mendapatkan informasi arus lalu lintas melalui aplikasi di gawai. Selain aplikasi, situs yang memberi informasi lengkap mengenai jalur balik mudah diakses secara mobile.

Kelancaran pengelolaan mudik dan arus balik bukan semata-mata cermin keberhasilan pembangunan infrastruktur. Lebih dari itu, kelancaran dan kepatuhan berlalu lintas sesungguhnya cermin peradaban sebuah bangsa. Terus terang, bangsa ini semakin beradab sehingga mudik horor dan setor nyawa di jalan raya tinggal cerita.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More