Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
PERJUMPAAN antara elite yang berbeda sikap politik senantiasa menghadirkan kesejukan. Setiap momentum, terutama Idul Fitri 2019, hendaknya dimanfaatkan para elite untuk merajut kembali tenunan kebangsaan yang sempat terkoyak selama Pemilu 2019.
Pertemuan antara calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo dan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto sangat dinanti-nantikan masyarakat saat ini. Jika pertemuan keduanya terwujud, diharapkan mampu meneteskan embun keteduhan kepada pendukung mereka masing-masing.
Banyak pihak berharap agar Jokowi dan Prabowo dapat bertemu tatap muka meski sengketa hasil Pemilu 2019 masih diperiksa di Mahkamah Konstitusi. Jokowi sendiri, dalam berbagai kesempatan setelah pemilu digelar pada 17 April, selalu mengungkapkan keinginannya untuk bertemu dengan Prabowo.
Nuansa Idul Fitri 2019 menjadi momentum indah untuk mewujudkan harapan masyarakat agar Jokowi dan Prabowo bisa bertemu. Pertemuan di antara keduanya jangan pula dipaksa-paksakan. Sebab, mereka ialah negarawan yang sudah tahu kapan harus bertemu untuk kepentingan bangsa dan negara.
Kiranya tidak ada yang salah dengan harapan masyarakat luas agar Jokowi dan Prabowo bisa secepatnya bertemu. Masyarakat sesungguhnya ingin mempertahankan dan melanjutkan suasa sejuk yang dihadirkan dalam dua perjumpaan elite sepekan terakhir.
Perjumpaan pertama adalah antara Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri saat upacara pemakaman Ani Yudhoyono, Minggu (2/6). Inspektur upacara saat itu ialah Presiden Joko Widodo. SBY dan Megawati, yang sama-sama merupakan ketua umum partai politik, selama ini dipersepsikan publik memiliki komunikasi yang kurang harmonis.
Pertemuan kedua pada saat Prabowo melayat ke kediaman SBY pada Senin (3/6). Partai Demokrat yang dipimpin SBY adalah salah satu pendukung pasangan calon presiden-cawapres nomor urut 02, Prabowo-Sandiaga Uno, pada Pemilu 2019. Namun, belakangan hubungan Demokrat dan Gerindra sempat retak setelah muncul sinyal Demokrat bergabung dengan koalisi partai pendukung pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin.
Pertemuan di antara para elite itu meneduhkan. Harus jujur diakui bahwa situasi sosial politik seusai pemilu tidak hanya memengaruhi hubungan antara elite, tetapi juga masyarakat di akar rumput. Kerusuhan 21 Mei dan 22 Mei di Jakarta setelah unjuk rasa memprotes hasil Pemilu 2019 adalah salah satu bukti kuatnya loyalitas pendukung kepada pemimpinnya.
Penting, sangat penting, jika para elite terus menerus mengirimkan pesan kepada pendukung masing-masing untuk membukakan pintu maaf, melakukan rekonsiliasi, dan kembali merajut kebersamaan. Pesan itu hanya bisa disampaikan jika di antara elite juga membuka ruang untuk saling berjumpa.
Meski belum sempat berjumpa, patut diapresiasi cawapres Ma’ruf Amin yang secara khusus menyampaikan ucapan selamat Hari raya Idul Fitri kepada lawan politiknya, Prabowo dan Sandiaga Uno. Ajakan Amin untuk berekonsiliasi dan bersatu membangun bangsa hendaknya tidak bertepuk sebelah tangan.
Kebersamaan itu sudah diawali dengan merayakan Idul Fitri pada waktu bersamaan. Itulah momentum terbaik untuk mempererat dan memperkuat ikatan persaudaraan. Ikatan persaudaraan itu semakin diteguhkan lagi dalam pesan khotbah Idul Fitri.
Guru Besar Tafsir Hadis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Said Agil Husin Al Munawar dalam khotbah Idul Fitri di Masjid Istiqlal, Jakarta, mengatakan, dalam berinteraksi sosial, tanpa disadari, berbagai benturan kerap dijumpai, entah itu karena berbeda pendapat atau afiliasi politik. Namun, sikap menebar maaf harus menjadi muara dalam menyelesaikan segala permasalahan itu.
Meminta maaf sama mulianya dengan memberikan maaf. Jangan pernah merasa harga diri menjadi turun gara-gara meminta atau memberikan maaf.
Begitu juga kemuliaan seorang negarawan tecermin dari keinginan meminta maupun memenuhi permintaan lawan politik untuk berjumpa. Perjumpaan itu semata-mata untuk membuka sekat-sekat politik demi mengukuhkan persatuan bangsa, apalagi di akar rumput sudah memberi contoh bermaaf-maafan pada saat halalbihalal.
NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.
PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.
RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.
FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.
Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.
DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.
Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.
IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.
SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved