Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Pemilu Serentak Harus Dievaluasi

22/4/2019 05:00

PEMILU 2019 yang digelar pada 17 April terbilang sukses karena pemilih antusias mendatangi sekitar 810 ribu tempat pemungutan suara (TPS) di dalam negeri. Namun, ada juga kisah pilu pemilu, nyawa petugas di tingkat TPS melayang akibat kelelahan pemilu serentak.

Pemilih antusias karena mereka ingin menjadi saksi sejarah pelaksanaan pemilu serentak yang pertama kalinya digelar. Kali pertama pemilihan presiden-wakil presiden diselenggarakan bersamaan dengan pemilihan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota.

Pemilu lima kotak itu juga membuat pemilih bingung menentukan pilihan. Selain memilih dua pasangan calon presiden, yakni Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, juga ada sekitar 300 ribu calon anggota legislatif yang memperebutkan 575 kursi DPR RI, 136 kursi DPD RI, 2.207 kursi DPRD provinsi, serta 17.610 kursi DPRD kabupaten/kota.

Selama masa kampanye berlangsung tujuh bulan, perhatian 190 juta pemilih dalam negeri hanya tertuju pada pemilu presiden. Pemilu legislatif hanya sayup-sayup saja terdengar karena ditelan gegap gempita kampanye pemilu presiden.

Tidak kalah sibuknya ialah 6,4 juta penyelenggara pemilu di tingkat TPS. Mereka terdiri atas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) dan pengawas TPS. Itu belum termasuk saksi peserta pemilu serta tenaga pengamanan.

Para petugas bekerja siang malam. Tidak sedikit di antara mereka yang meninggal dunia saat bertugas. Penyebabnya beragam, seperti sakit, kelelahan, juga kecelakaan saat mendistribusikan surat suara. Sejauh ini dilaporkan 56 petugas KPPS meninggal dunia. Sedikitnya sembilan polisi meninggal saat menunaikan tugas mengamankan TPS dan setelah penghitungan suara.

Harus tegas dikatakan bahwa mereka yang mengorbankan nyawa untuk pemilu itu ialah pahlawan demokrasi. Akan tetapi, tidaklah elok bila pemilu malah merenggut nyawa. Satu nyawa pun tetap tidak seimbang dengan pelaksanaan pesta demokrasi sebesar apa pun.

Karena itu, suka atau tidak suka, pemilu serentak harus dievaluasi secara menyeluruh. Evaluasi itu tetap berbasiskan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengharuskan pilpres dan pileg digelar serentak.

Basis argumentasi MK terkait dengan pemilu serentak ialah untuk memperkuat sistem pemerintahan presidensial. Menurut MK, penyelenggaraan pilpres setelah pileg memaksa calon presiden bernegosiasi politik terlebih dahulu dengan partai politik yang pada akhirnya memengaruhi roda pemerintahan.

Ketentuan serentak yang dimaksud MK itu bisa saja ditafsir ulang maknanya dengan tetap menutup rapat-rapat ruang negosiasi antara calon presiden dan partai politik. Caranya ialah pemilu serentak digelar dalam dua tahap, serentak nasional dan serentak lokal.

Pemilu serentak dua tahap itu tetap dalam bingkai pemahaman bahwa pemilu merupakan kesatuan antara pilpres, pileg DPR RI, DPD RI, DPRD provinsi, DPRD kabupaten atau kota, serta pilkada. Pada tingkat nasional presiden, DPR RI, dan DPD RI dipilih secara serentak, dan pemilu serentak lokal untuk memilih DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, gubernur, dan bupati/wali kota.

Kajian akademis terkait dengan pemilu serentak dua tahap itu sudah banyak dilakukan untuk mewujudkan pemerintahan yang efektif dan sinergis antara pusat dan daerah serta legislatif. Bahkan, pemisahan pemilu serentak nasional dan lokal dengan jeda waktu dua tahun itu dipercayai mampu memperkuat sistem presidensial.

Presiden dan DPR hasil Pemilu 2019 hendaknya memprioritaskan evaluasi pelaksanaan pemilu serentak pada tahun pertama mereka setelah dilantik. Jangan ditunda-tunda lagi.

Pemilu serentak sebagai pesta demokrasi harus dilakukan dengan ramah dan tidak melelahkan, apalagi kalau sampai mengorbankan nyawa para penyelenggara dan aparat pengamanan di tingkat TPS. Pemilu serentak tidak tabu untuk dievaluasi.

 



Berita Lainnya
  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.