Headline
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Kumpulan Berita DPR RI
KONSEP politik menggembirakan yang terus dikumandangkan dalam penyelenggaraan Pemilu 2019 akhirnya menampakkan hasil saat pemungutan suara, kemarin. Rakyat antusias mendatangi tempat pemungutan suara (TPS). Layaknya berpesta, mereka datang dengan gembira, bersemangat, tanpa paksaan, dan tanpa iming-iming.
Fakta terkait dengan kegembiraan publik tersebut tentu harus kita sambut dengan antusiasme yang sama. Sebaris dengan itu, kita pun mesti memberikan penghargaan sebesar-besarnya terhadap upaya seluruh kalangan yang ikut serta menjaga jalannya pemungutan suara dengan lancar, aman, dan damai.
Perihal hasil, betul seperti disampaikan calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo dalam pidatonya seusai pemungutan suara, kemarin, bahwa semua pihak hendaknya menunggu penghitungan resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Menurut agenda, KPU akan mengumumkan penetapan penghitungan suara Pemilu 2019, baik pilpres maupun pileg, pada 22 Mei 2019 mendatang.
Namun, dari hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei yang sudah dirilis 2 jam setelah proses pemungutan suara ditutup, setidaknya saat ini kita sudah mendapat gambaran siapa yang menang dan siapa yang kalah. Hitung cepat beberapa lembaga survei memperlihatkan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin unggul atas pesaing mereka, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, dengan rata-rata selisih signifikan, sekitar 10%.
Hasil hitung cepat memang bukan jaminan. Akan tetapi, kita dan sejarah pun mencatat bahwa hasil hitung cepat pada hampir seluruh penyelenggaraan pemilu di Indonesia lazimnya tidak berbeda jauh dengan hasil
penghitungan manual yang dilakukan penyelenggara pemilu. Selama lembaganya kredibel dan tepercaya, hasil quick count tersebut telah mencerminkan hasil real count secara keseluruhan.
Lantas apa makna kemenangan Jokowi-Amin atas Prabowo-Sandiaga kali ini? Dengan tegas harus kita katakan bahwa ini adalah simbol kemenangan rakyat atas segala macam fitnah, informasi bohong, dan tipu daya yang dalam beberapa bulan terakhir terus mendominasi ruang-ruang publik di Republik ini.
Itu patut kita syukuri karena bersama dengan lenyapnya fitnah-fitnah tersebut, datang pula harapan akan terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik di negeri ini.
Lebih dalam lagi kemenangan ini ialah kemenangan optimisme di tengah narasi-narasi pesimistis yang terus ditebar dan secara tidak langsung telah membuat wajah bersinar bangsa ini menjadi wajah yang memburam. Rakyat terbukti ingin Indonesia tetap eksis seperti sekarang, bahkan maju lebih cepat lagi, bukan malah punah seperti yang dikhawatirkan kaum pesimis.
Meski demikian, kita mengimbau semua pihak, terutama kedua kubu peserta kontestasi pilpres, hendaknya tetap saling menjaga kearifan.
Pihak Jokowi-Amin dan seluruh unsur pendukung serta pemilih mereka semestinya tidak bersikap jemawa. Bagaimanapun hasil yang ada sekarang masih penghitungan versi hitung cepat. Sebaliknya, Prabowo-Sandiaga serta seluruh pendukung dan pemilih pasangan itu dapat bersikap legawa menerima apa pun hasilnya nanti.
Klaim sepihak yang menyatakan diri sebagai pemenang tidak baik untuk pendidikan politik. Kalau tidak percaya hasil quick count, akan jauh lebih lebih baik menunggu hasil real count KPU ketimbang merilis klaim penghitungan yang memenangkan pihak mereka, sekaligus menebar tuduhan-tuduhan miring terhadap lembaga-lembaga survei yang tak memenangkan mereka.
Kedewasaan berdemokrasi bangsa ini akan dinilai dari partisipasi masyarakat dalam setiap perayaan demokrasi, juga dari sikap dan tabiat tokoh serta elite politik. Dua hal itu mestinya berkaitan dan saling melengkapi. Jangan sampai justru saling bertolak belakang, partisipasi bagus dari masyarakat dirusak ambisi pribadi para elite.
Kita mesti ingat, bangsa ini masih harus menyongsong mimpi-mimpi besar di masa depan. Karena itu, buang jauh-jauh ambisi pribadi. Sudah saatnya bangsa ini menyatukan lagi hati, tekad, dan mimpi yang sempat tercerai-berai karena pemilu. Sesungguhnya prinsip demokrasi ialah menyatukan, bukan mencerai-beraikan.
NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.
PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.
RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.
FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.
Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.
DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.
Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.
IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.
SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved