Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Kampanye tanpa Kekerasan Verbal

10/4/2019 05:00

BERKAMPANYE dan membangun optimisme bagai dua sisi dari mata uang, menjadi satu kesatuan dan tidak terpisahkan. Apa pun hasil kampanye nantinya, kemajuan hanya bisa dicapai jika setiap anak bangsa percaya akan daya negerinya.

Kesadaran optimisme ini sesungguhnya juga bukan hal sulit. Mereka yang mencintai bangsa ini mestinya mudah mengerti karena memang demikianlah hakikat berbangsa dan bernegara.

Menjadi aneh, sangat aneh, jika ada calon yang berkontestasi menjadi pemimpin negara justru yang terdepan menghancurkan optimisme. Penghancuran itu dilakukan lewat kekerasan verbal di berbagai kesempatan di ruang publik.

Ada calon yang menyebut kondisi Tanah Air sebagai 'Ibu Pertiwi sedang diperkosa'. Bukan itu saja, dalam sebuah kesempatan kampanye dilontarkan sebutan 'bajingan' dan kata 'ndasmu' yang merupakan umpatan kasar dalam bahasa Jawa. Ada juga sebutan 'sontoloyo'.

Perangai emosional malah dipertontonkan tanpa malu-malu pula. Pada  beberapa kesempatan di depan publik, ada calon yang tidak segan menunjukkan kemarahan, termasuk menggebrak podium.

Perangai kasar dan kekerasan verbal di ruang publik tetap bukan hal yang bisa diterima akal sehat. Alasannya banyak, dampaknya tidak sepele, bahkan efeknya jauh lebih dahsyat ketimbang kekerasan fisik.

Pertama, tentu saja kekerasan, baik fisik maupun verbal, sangat tidak pantas dalam diri seorang pemimpin. Sebagai pribadi anutan, segala tindak tanduk pemimpin akan dicontoh, ibarat guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Pemimpin yang gemar berkata dan bersikap kasar sama halnya dengan mengajak masyarakat permisif terhadap sikap serupa. Dampaknya akan semakin berbahaya jika diserap begitu saja oleh para generasi muda dan usia anak. Nilai-nilai kesantunan akan luntur, terganti dengan budaya caci-maki.

Kedua, dalam momen kampanye ini, kekerasan verbal yang dilakukan calon pemimpin semakin berbahaya karena menghancurkan optimisme tadi. Apalagi, tudingan 'Ibu Pertiwi diperkosa' tidak berbasiskan data dan fakta.

Tudingan itu tidak saja menutupi berbagai kemajuan yang ada, tapi juga menepisnya sama sekali. Kita pantas menolak hal ini karena sesungguhnya bukan hanya kerja pemerintah yang dikerdilkan, melainkan juga prestasi banyak anak bangsa lainnya, termasuk sosok-sosok inovatif di berbagai sektor dan bidang yang sudah menorehkan prestasi Indonesia di dunia internasional.

Prestasi yang paling mudah diingat ialah melonjaknya peringkat Indonesia dari sebelumnya 16 ke peringkat 4 di Asian Games 2018 yang berlangsung di Jakarta-Palembang. Prestasi ini jelas bukan semata keberhasilan pemerintah, melainkan juga buah kegigihan tiap-tiap atlet yang berlaga.

Di sisi lain, kekerasan verbal memang tidak boleh dilawan dengan kekasaran lainnya. Jika itu yang terjadi, hanya terus-menerus mereproduksi kekerasan verbal. Hanya kecerdasan yang bisa melawan kekerasan verbal.

Kecerdasan itu ditunjukkan calon presiden lainnya dengan mengatakan bahwa Ibu Pertiwi saat ini sedang berprestasi, bukan sedang diperkosa. Prestasi yang didulang anak negeri ini dipaparkan secara terang benderang untuk merawat optimisme.

Merawat optimisme sesungguhnya menjaga nyawa demokrasi dari ancaman bahaya laten pendangkalan nalar dan kekerasan ekspresi. Elok nian bila dalam kontestasi para calon berlomba-lomba menjaga adab lisan dengan membuang ke laut kekerasan verbal.

 



Berita Lainnya
  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.