Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Debat tanpa Sungkan

20/2/2019 05:00

DEBAT mungkin pertandingan paling terbuka dengan hasil yang paling sulit dibaca. Keunggulan ataupun kelemahan paling nyata tetap saja bisa berbanding terbalik di mata para pendukung.

Hal itu pula yang juga menggambarkan debat kedua antara calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo dan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, Minggu (17/2). Sampai hari kedua pascadebat, kedua calon sama-sama mengalami kenaikan popularitas di media sosial.

Berdasarkan data lembaga survei popularitas Politica Wave, Selasa (19/2) pagi, paslon Jokowi-KH Ma’ruf Amin meraih 754,678, sedangkan paslon Prabowo-Sandiaga Uno mendapatkan 709,067.

Tingkat elektabilitas itu berdasarkan suara obrolan warganet. Jika dilihat lebih dalam, tingkat kenaikan lebih tinggi terjadi pada paslon 02. Elektabilitas mereka naik 95,652 suara, sedangkan paslon 01 naik 77,167 suara.

Jika berkaca pada penilaian para pengamat mengenai basis data dan penguasaan materi, hasil tersebut cukup mengherankan. Para pengamat memuji penggunaan data yang digunakan Jokowi. Karena itu, mereka secara tegas mengatakan bahwa panggung debat kedua ialah milik Jokowi.

Namun, nyatanya, fakta kasatmata tersebut tetap tidak cukup bagi sebagian masyarakat kita. Keunggulan ataupun kelemahan yang sudah terpapar jelas tidak juga mampu melahirkan pemikiran jernih dalam menentukan suara.

Di sisi lain, kegagalan logika sebagian masyarakat kita tidak boleh menggoyahkan peran debat itu sendiri. Apalagi sampai menyangsikan keberadaannya dalam proses pemilu ini.

Terlebih kemandekan logika memang bukan sesuatu yang aneh jika melihat keberadaan manusia dengan pendekatan konstruktivisme sosial. Dari kacamata tersebut, manusia memang memiliki kecenderungan untuk menentukan pilihan berdasarkan hasrat ketimbang fakta. Bahkan dalam kondisi dorongan hasrat yang begitu kuat, hal-hal absurd pun dapat dilihat sebagai fakta.

Karakter sosial konstruktivis itu sesungguhnya tidak pula salah dan menjadi aib manusia. Inilah pula yang melahirkan keragaman manusia dan dunia yang kita tinggali.

Meski begitu, kecenderungan sosial konstruktivis memang dapat pula menjadi petaka ketika dimanfaatkan untuk sentimen yang tidak seharusnya. Inilah yang banyak dikaji dari debat calon presiden Amerika Serikat pada 2016.

Rangkaian debat di negara rumah demokrasi itu sudah tidak ubahnya panggung kegagalan logika. Begitu pun argumen-argumen paling tidak berdasar yang dibuat Donald Trump tidak menghalangi langkahnya menjadi presiden negara adidaya itu.

Berdasarkan kajian banyak ahli di negara itu, Trump sesungguhnya hanya menjual angan-angan kejayaan. Kuatnya rayuan mimpi itu mampu menyihir rakyat AS, meski segala program yang dikemukakan sesungguhnya tidak logis atau malah memecah belah bangsa itu sendiri.

Mimpi buruk debat yang berpadu dengan kecenderungan konstruktivisme sosial manusia itulah yang mestinya menjadi pelajaran besar dalam perjalanan pilpres kita.

Seluruh masyarakat kita harus bisa keluar dari program dan pencapaian tidak logis. Caranya, sesungguhnya tidak lain dengan mencermati debat itu sendiri.

Sebab itu pula menjadi kewajiban kedua pasangan capres-cawapres untuk menempatkan debat sebagaimana mestinya. Penghargaan pada peran debat itu yang kita nantikan pada debat ketiga antara calon wakil presiden KH Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno pada 17 Maret.

Publik berharap kedua calon wakil presiden tetap bersungguh-sungguh mengikuti debat. Dalam konteks itulah publik pun menyayangkan sikap Sandi yang enggan memaksimalkan debat. Apalagi keengganan Sandi itu dibungkus dengan alasan sungkan terhadap sosok KH Ma'ruf Amin.

Keengganan yang dibalut dengan alasan sungkan itu sesungguhnya bukan saja merugikan esensi debat, melainkan juga tidak menjunjung kepentingan masyarakat sebagai pemilih. Masyarakat menantikan paparan visi, misi, dan program para calon.

Sandiaga, seperti dikutip sejumlah media, mengaku kesulitan menghadapi debat ketiga. Kesulitan itu karena dirinya diajarkan untuk selalu hormat dan patuh kepada ulama dan kiai.

Publik justru mengapresiasi sikap KH Ma’ruf Amin yang meminta Sandi tidak sungkan terhadap dirinya saat debat nanti. Saling menyerang dalam sebuah forum debat mestinya dianggap sebagai sebuah keniscayaan sepanjang serangan yang dilancarkan itu berkaitan dengan ide, gagasan, dan program setiap kontestan.

Elok nian bila Sandi tidak merasa sungkan dalam mengikuti debat asalkan tetap memperlihatkan kesantunan kata dan laku. Boleh-boleh saja bila ia mengikuti jejak Prabowo yang secara terbuka mendukung kebijakan Presiden yang dinilainya sudah benar. Debat senyatanya ialah laga paling adil, baik bagi kapasitas maupun kewibawaan. Sikap seperti itu akan menjadikan politik kian rasional dan tidak lagi emosional.

 



Berita Lainnya
  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.