Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Menekan Golput

09/2/2019 05:00

DALAM setiap penyelenggaraan pemilihan umum, golongan putih (golput) selalu menjadi fenomena. Perdebatan soal patut tidaknya seseorang yang memiliki hak pilih, tetapi tidak memilih alias golput selalu muncul ketika hari pemungutan suara semakin mendekat. Termasuk hari ini, menjelang pelaksanaan pemilu yang kelima di era reformasi.

Mengapa era reformasi menjadi sorotan ketika membicarakan golput? Statistik menunjukkan bahwa di zaman itulah tingkat partisipasi publik untuk menggunakan hak pilihnya tak pernah mencapai angka 90% kecuali pada Pemilu 1999. Bahkan pada Pemilu Legislatif 2009, tingkat partisipasi pernah mencapai level terendah, hanya 70,9%. Dengan kata lain, sebanyak 29,1% lainnya golput. Adapun untuk pemilihan presiden (pilpres), golput tertinggi tercatat pada 2014 sebesar 29,01%.

Memang, tak adil bila membandingkan pemilu di Orde Reformasi dengan pemilu ketika rezim Orde Baru berkuasa. Dari sisi mana pun, keduanya tak layak diperbandingkan, termasuk angka golput. Di era itu, golput hanya berkisar 3% sampai 6%. Maklum saja karena yang menonjol ketika itu ialah model pemilu mobilisasi, bukan partisipasi.

Namun, tetap saja kita mesti 'mencemaskan' kecenderungan tingginya golput di era kekinian itu, setidaknya di tiga pemilu terakhir. Harus diakui, dalam iklim demokrasi negeri ini yang berwatak elektoral, tingkat partisipasi ialah faktor penting. Golput, sekalipun menurut konstitusi merupakan hak yang sah dan boleh dipergunakan, mungkin akan dianggap berlawanan dengan konsepsi pemilu elektoral tersebut.

Mereka yang menganut paham 'satu suara menentukan masa depan negara' bahkan meyakini golput berbahaya bagi demokrasi karena dapat membuat legitimasi kepada parlemen dan eksekutif lemah. Pilihan golput juga akan merugikan lantaran abstain tidak akan pernah menyelesaikan masalah dan justru memberi kesempatan sembarang orang naik ke tampuk kekuasaan.

Meski demikian, alasan-alasan itu tidak bisa menjadi pembenaran bagi kita untuk tidak menghormati pilihan golput. Yang patut menjadi renungan bersama ialah mengapa pemilu kini seperti entitas yang kehilangan daya tarik? Apakah rendahnya tingkat partisipasi juga menunjukkan anjloknya kepercayaan rakyat bahwa pemilu ialah salah satu jalan untuk menentukan masa depan bernegara?

Ajakan Presiden Joko Widodo yang disampaikan saat Peringatan Imlek Nasional 2019 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (7/2) agar  masyarakat berbondong-bondong datang ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk menyalurkan suara, tentu bagus bila kita maknai ada kesadaran penuh dari pemerintah bahwa partisipasi publik dalam pemilu memang mesti digenjot.

Apalagi, ajakan itu dikaitkan dengan jaminan keamanan dan kenyamanan para pemilih untuk menyalurkan hak konstitusional mereka, tanpa perlu khawatir adanya intimidasi. Kini, tugas berat bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) memaksimalkan sisa waktu untuk membenahi segala permasalahan sehingga pemilu punya daya pikat.

Namun, tugas besar untuk meningkatkan partisipasi pemilih mestinya juga menjadi milik kontestan pemilu. Itulah pekerjaan rumah bagi partai politik, para calon legislatif, serta kandidat calon presiden dan wakil presiden berikut dengan tim pemenangan (tim sukses) mereka. Kini, mereka terkesan lebih sibuk menjual calon mereka dan melupakan kepentingan serta keinginan para pemilih. Bahkan mungkin mereka tak terpikir untuk menarik hati pemilih melangkah ke TPS.

Karena itu, mengubah model kampanye dengan lebih mengintensifkan ruang-ruang publik, menekankan pada aspek inovasi, visi, dan gagasan merupakan sebuah keniscayaan. Itu akan berefek sangat baik untuk meningkatkan kuantitas partisipasi dan kualitas pemilu.

Hindarilah berkampanye dengan cara-cara usang, apalagi malah sibuk mempertengkarkan isu-isu receh karena hanya akan membuat orang yang malas mencoblos menjadi semakin malas dan orang yang apatis terhadap pemilu malah makin apatis.

 



Berita Lainnya
  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.