Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Menimbang Rekam Jejak

17/1/2019 05:00

DEBAT perdana calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang digelar pada malam ini diharapkan mengedepankan sisi kualitas agar kampanye pemilu bisa naik kelas.

Kampanye pemilu belumlah naik kelas sehingga mendapat sorotan tajam, sangat tajam. Disorot, karena sejak kampanye digelar pada September tahun lalu lebih banyak mengumbar ketakutan dan pesimisme disertai penyebaran informasi bohong.

Narasi optimisme diharapkan lahir dalam debat perdana dari rangkaian lima kali debat. Perdebatan, memang, mengandung semacam sihir. Terlebih apabila debat itu tak cuma menunjukkan ketajaman lidah, tapi juga ketajaman pikiran. Tajam pikiran dalam menjelaskan visi, misi, dan program. Bukan cuma tajam lidah merendahkan lawan debat.

Publik tentu saja punya ekspektasi besar pada kedua pasangan capres dan cawapres. Pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Mereka diharapkan menyampaikan komitmen yang sungguh-sungguh terkait dengan tema debat yang mengangkat penegakan hukum, korupsi, HAM, dan terorisme.

Melalui debat juga bisa diketahui apakah sang calon presiden memiliki kesanggupan untuk dikritik atau tidak. Seberapa besarkah ia memiliki ruang untuk menerima perbedaan pendapat. Di forum debat itulah kontestan menjual gagasan, merebut hati dan pikiran publik, untuk kemudian keluar sebagai pemenang yang terhormat.

Akan tetapi, ketajaman lidah dan pikiran saja belumlah menjadi modal utama untuk menjadi presiden. Debat bukanlah ukuran mutlak untuk dipilih atau tidaknya pasangan calon karena lidah dan pikiran sering menyembunyikan kebajikan.

Kebajikan bisa ditelusuri lewat rekam jejak calon. Rekam jejak itu berkorelasi dengan karya yang sudah dilakukan dan bisa diukur, bukan sebatas janji yang disampaikan. Rekam jejak itu bisa ditelusuri dari beberapa aspek, di antaranya lingkungan keluarga, riwayat kerja, dan riwayat kepemimpinan.

Memilih presiden itu tak cukup hanya bermodalkan populer karena mampu berorasi dengan suara lantang dan menggelegar. Apalagi, di zaman now, orang dengan mudah melakukan berbagai teknik presentasi untuk membuat target audiens tertarik, percaya, dan pada akhirnya menetapkan pilihan. Termasuk melakukan bluffing, menggunakan informasi dan data palsu alias hoaks, atau mengumbar janji-janji sekalipun hal itu tidak mungkin dapat dipenuhi dalam realitas.

Karena itu, menilai capres dan cawapres semata dari debat sangat rentan terhadap ketersesatan berpikir. Kandidat boleh saja menjual visi-misi, program, dan rencana aksi setinggi langit. Namun, publik dapat melihat kesesuaian dan konsistensinya dengan melihat dan membandingkan apa saja yang mereka jual dengan rekam jejak yang telah mereka perbuat.

Yang perlu ditelusuri dari rekam jejak mereka ialah apa saja yang telah mereka capai selama mereka menjadi pejabat publik, misalnya. Seperti apa pula kinerja mereka, seberapa tinggi prestasi mereka. Yang tidak kalah penting ialah menelusuri rekam jejak dalam mematuhi hukum dan perundangan yang berlaku.

Dalam kaitan dengan tema debat, yakni hukum, HAM, korupsi, dan terorisme, misalnya, masyarakat perlu menelusuri rekam jejak para capres-cawapres, apa saja prestasi mereka di bidang tersebut. Perlu pula ditelusuri, apakah mereka pernah melakukan pelanggaran atau memiliki rekam jejak yang tercela di bidang-bidang tersebut.

Pemilih yang cerdas tentu akan mencari pemimpin paripurna, yang tak hanya mampu menyinergikan antara kata dan perbuatan, tetapi juga mampu mendiagnosis, menawarkan solusi sekaligus menggerakkan rakyat untuk bersama-sama menyelesaikan segala problem kebangsaan. Pemimpin yang menyatukan, bukan mencerai-beraikan.

Presiden yang ideal ialah seorang pemimpin yang tegas berintegritas dan mampu memelihara persatuan dan kebinekaan bangsa. Rekam jejaknya jelas, tidak cacat hukum, etika, nalar, dan moral. Jangan sekali-kali memilih pemimpin yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kemenangan. Periksa secara saksama rekam jejak mereka karena rekam jejak tidak pernah menipu.

 



Berita Lainnya
  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.