Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR Hukum Pemilu Universitas Indonesia, Titi Anggraini, menegaskan bahwa efektivitas kerja parlemen seharusnya dibangun melalui pengaturan ambang batas pembentukan fraksi, bukan dengan memotong representasi politik warga negara melalui ambang batas parlemen (parliamentary threshold).
“Penyederhanaan parlemen tidak seharusnya dilakukan melalui ambang batas parlemen, melainkan lewat ambang batas pembentukan fraksi, karena prinsip dasarnya adalah suara pemilih tidak boleh dihapuskan, sementara tata kelola parlemen tetap harus efektif,” ujar Titi kepada Media Indonesia, Minggu (1/2).
Alih-alih menaikkan ambang batas parlemen, Titi menawarkan alternatif berupa penguatan tata kelola kepartaian, reformasi kelembagaan parlemen, serta pengaturan ambang batas pembentukan fraksi di DPR dan DPRD.
Menurutnya, ambang batas fraksi mengatur syarat minimum jumlah kursi bagi partai politik untuk membentuk fraksi sendiri. Partai yang tidak memenuhi syarat tersebut tetap sah sebagai peraih kursi, namun harus bergabung dengan partai lain agar memenuhi ketentuan pembentukan fraksi.
“Kalau partai tidak memenuhi jumlah kursi minimal, mereka tetap sah sebagai partai pemenang kursi, tetapi harus bergabung dengan partai lain. Yang diatur di sini adalah mekanisme kerja internal parlemen, bukan hak representasi pemilih,” jelasnya.
Titi mencontohkan, jika jumlah komisi di DPR sebanyak 13, maka partai politik harus memiliki minimal 13 anggota DPR untuk membentuk satu fraksi. Apabila tidak memenuhi jumlah tersebut, penggabungan fraksi menjadi keharusan.
“Misalnya saat ini ada 13 komisi, maka untuk membentuk fraksi harus memiliki minimal 13 anggota DPR. Kalau kurang dari itu, partai harus bergabung dengan partai lain,” ujarnya.
Ia menilai, pendekatan ini dapat menjadi solusi untuk mencegah praktik multipartai ekstrem di parlemen tanpa harus mengorbankan suara rakyat melalui parliamentary threshold.
“Penghapusan ambang batas parlemen tidak berarti parlemen menjadi tidak terkendali atau terlalu terfragmentasi. Efektivitas tetap bisa dijaga melalui desain kelembagaan fraksi, tata tertib DPR, dan penguatan fungsi kepartaian,” kata Titi.
Ia menegaskan, efisiensi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan prinsip kedaulatan rakyat. “Efisiensi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan representasi,” tegasnya.
Menurut Titi, jika tujuan utama pembuat undang-undang adalah meningkatkan efektivitas parlemen, maka fokus perbaikan seharusnya diarahkan pada arsitektur kelembagaan DPR, bukan pada pemangkasan suara pemilih dalam tahap konversi suara menjadi kursi.
“Intinya, yang perlu dibenahi adalah desain kelembagaan di dalam DPR, bukan memotong representasi politik warga negara,” pungkasnya. (Dev/P-3)
Alih-alih memperkuat efektivitas kerja parlemen, skema tersebut justru bisa memicu konflik internal.
Penerapan ambang batas fraksi merupakan opsi yang lebih adil dan ideal karena tidak menghilangkan kursi partai politik serta tidak membuang suara rakyat.
Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Dede Yusuf Macan Effendi, menyatakan pihaknya terbuka untuk menampung berbagai usulan terkait pembentukan skema ambang batas fraksi dalam revisi UU pemilu
Komisi II DPR RI menegaskan pembahasan dan pencarian formula parliamentary threshold atau ambang batas parlemen dalam Revisi UU Pemilu masih berlangsung
Pembentuk undang-undang tetap wajib tunduk pada rambu-rambu konstitusional yang telah ditegaskan MK.
Pembentuk undang-undang tetap wajib tunduk pada rambu-rambu konstitusional yang telah ditegaskan MK.
Tarik-menarik kepentingan tersebut membuat pembahasan pasal-pasal dalam RUU Pemilu sarat akan negosiasi politik.
PADA peringatan hari lahir Partai Golongan Karya (Golkar) beberapa waktu lalu, Prabowo Subianto kembali mengemukakan pandangannya tentang sistem pemilihan kepala daerah (pilkada).
Kewenangan penuh untuk mensimulasikan mekanisme aturan ada di tangan DPR bersama pemerintah selaku pembentuk undang-undang.
Dede mengatakan persoalan biaya politik yang tinggi itu merupakan tantangan serius yang perlu segera diantisipasi melalui revisi UU Pemilu dan Pilkada.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved