Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Melawan Amerika

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
15/4/2023 05:00
Melawan Amerika
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

JUDUL di atas terkesan gagah dan heroik. Maklum, Amerika Serikat ialah raja dunia. Siapa berani melawan 'Negeri Paman Sam', bersiaplah untuk terkucil dan diisolasi. Begitulah tatanan dunia berpuluh-puluh tahun dihela.

Bahkan, sejak empat dekade terakhir, Amerika Serikat (AS) ialah 'penentu' tunggal arah global. Uni Soviet sudah bubar. Rusia terlalu lemah untuk mengganggu kedigdayaan AS. Iran memang sering melawan, tapi sporadis saja. Kuku-kuku sang adidaya teramat dalam mencengkeram dunia.

Di bidang ekonomi, Amerika ialah raksasa. Negeri yang dipimpin Joe Biden itu memiliki produk domestik bruto (PDB) terbesar di dunia, yaitu mencapai US$25,04 triliun. Angka itu setara dengan seperempat dari total PDB seluruh negara di dunia yang berdasarkan data International Monetary Fund (IMF) mencapai US$101,56 triliun per 2 November 2022. Indonesia, yang PDB-nya US$1,29 triliun, hanya seperdua puluh limanya Amerika.

Namun, kini, AS mulai 'dijauhi' sejumlah negara. Bahkan negara yang selama ini menjadi sekutunya. Ini terlihat dari mata uang, dedolarisasi, hingga tren pergaulan global yang bak arus balik. Dalam soal mata uang, misalnya. Kini ada upaya 'membuang' dolar AS. Di antaranya dilakukan negara-negara yang bergabung dalam BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan South Africa/Afrika Selatan).

Sebuah laporan dari Livemint, media asal India, pada akhir Maret lalu mengindikasikan bahwa mata uang baru aliansi ini akan diamankan dengan emas dan komoditas lain. Arab Saudi, sebagaimana ditulis Wall Street Journal, juga akan menggunakan yuan sebagai mata uang dalam perdagangan minyak dengan Tiongkok. Kini mulai dikenal istilah 'dari petrodolar', alat tukar akan 'berganti petroyuan'.

Di segi pergaulan internasional, AS pun mulai 'dilupakan' beberapa negara, termasuk sekutu dekatnya. Sebut saja Arab Saudi yang tiba-tiba membina hubungan kembali dengan Iran, di bawah mediasi Tiongkok.

Belum lagi Prancis, seusai Presiden Emmanuel Macron menemui Presiden Tiongkok Xi Jinping, pekan lalu.

Macron mengatakan Eropa harus mengurangi ketergantungannya pada AS. Eropa, tegasnya, harus menghindarkan diri dari terseret ke dalam konfrontasi antara AS dan Tiongkok dalam kasus Taiwan. Macron bahkan secara terbuka dan berani mengatakan bahwa Prancis memang sekutu Amerika Serikat, tapi Prancis bukan 'bawahan' Amerika. Prancis malah siap memimpin aliansi strategis Eropa menjadi negara adikuasa ketiga.

Kondisi ini persis seperti yang dinubuatkan sejarawan ternama AS, Alferd McCoy. Ia pernah memprediksi kedigdayaan Amerika akan runtuh pada 2017. Gejala pelemahan ini sudah tampak sejak Donald Trump menjadi presiden AS. Trump, ujar McCoy, mempercepat penurunan AS. "Abad Amerika mungkin sudah compang-camping dan memudar pada 2025, serta bisa berakhir pada tahun 2030," kata McCoy.

Kenaikan harga, upah yang stagnan, dan daya saing internasional yang mulai pudar akan segera datang. Ia menyebut biang pemudaran terjadi karena adanya pembiaran AS yang selama puluhan tahun dalam kondisi defisit. Celakanya defisit itu bertumbuh karena 'peperangan yang tak henti-hentinya dilakukan AS di negeri-negeri jauh'.

Dolar AS akan kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan dominan dunia. Perubahan ini akan mendorong kenaikan harga yang dramatis untuk impor Amerika. Biaya perjalanan ke luar negeri untuk turis dan pasukan AS juga akan meningkat.

Adikuasa dan adidaya yang terus memudar, pada gilirannya tidak mampu membayar tagihannya, Amerika kemudian akan terus ditantang oleh kekuatan seperti Tiongkok, Rusia, Iran, dan lainnya untuk menguasai lautan, ruang angkasa, dan dunia maya. Walhasil, kiranya kita akan segera menyaksikan terus memudarnya Amerika, bahkan amat mungkin runtuhnya dominasi Amerika.

Fakta ini, jika kita cerdas melihat gelagat dan gelanggang geopolitik serta geoekonomi global, mestinya bisa jadi momentum penting. Kira-kira bisa sebangun dengan kondisi saat Bung Karno memanfaatkan tarik-menarik dan unjuk kuasa dua blok besar dunia. Saat itu, Bung Karno menginisiasi Gerakan Nonblok. Sayangnya, gerakan itu belum sampai mampu merekatkan kerja sama ekonomi hingga menjadikan Nonblok sebagai kekuatan penyeimbang yang diperhitungkan.

Kini, mestinya situasi berubah. Kita sudah lebih jauh mengenali bagaimana geopilitik dijalankan di tataran global. Kita juga sudah berkali-kali menjadi pemimpin kerja sama aliansi negara-negara berpengaruh di dunia. Tinggal pertanyaannya, secerdas itukah kita membaca fakta-fakta di depan mata itu?



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.