Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Belajar dari Vietnam

01/8/2025 05:00
Belajar dari Vietnam
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (29/7) lalu, seolah mengingatkan kita betapa dominasi Vietnam terhadap Indonesia kian membuat keder. Hasil pertandingan sepak bola itu menguak fakta pahit tentang superioritas Vietnam yang makin kuat, bukan saja dalam urusan sepak bola, melainkan juga di bidang ekonomi.

Untuk urusan sepak bola, setidaknya dalam satu dekade terakhir, Vietnam harus diakui lebih maju beberapa langkah ketimbang Indonesia. Soal gegap gempitanya, sepak bola Indonesia memang lebih heboh. Antusiasme masyarakat Indonesia terhadap sepak bola seng ada lawan. Namun, dari sisi prestasi tim nasionalnya, Vietnam jauh lebih mentereng.

Di tingkat Asia Tenggara saja, misalnya, Vietnam sudah tiga kali menjuarai Piala AFF level senior sepanjang gelaran turnamen dua tahunan itu, dari 1996 hingga 2024. Mereka hanya kalah dari Thailand yang tujuh kali menjadi kampiun dan Singapura yang mengoleksi empat gelar. Kondisi itu berbanding terbalik dengan Indonesia yang belum sekali pun berhasil mengangkat Piala AFF.

Di level junior Vietnam bahkan lebih ganas. Pada lima ajang Piala AFF U-23 yang sudah digelar, termasuk edisi 2025 yang dilangsungkan di Indonesia, tempo hari, Vietnam mendominasi dengan tiga gelar juara. Hebatnya lagi, koleksi tiga gelar itu mereka raih secara beruntun (2022, 2023, dan 2025). Indonesia, lumayan, sekali juara pada 2019.

Betul bahwa belakangan ini timnas Indonesia mencatat progres membaik. Skuad 'Garuda' bahkan menjadi satu-satunya tim Asia Tenggara yang masih punya peluang lolos ke putaran final Piala Dunia 2026. Pada Oktober mendatang, anak asuhan Patrick Kluivert akan menjalani ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia di Arab Saudi.

Namun, progres bagus yang dicatat timmas dalam setahun terakhir itu tetap belum mampu melewati Vietnam dari sisi peringkat FIFA. Indonesia kini menempati rangking ke-118 dunia, sedangkan Vietnam lima peringkat di atasnya, yaitu ke-113.

Gambaran itu menunjukkan Vietnam lebih maju dan serius membangun sepak bola mereka ketimbang Indonesia. Dahulu, mereka 'bukan siapa-siapa', tapi keseriusan dan ketekunan pengelola sepak bola mereka membuat negara itu kini menjelma menjadi salah satu kekuatan sepak bola Asia Tenggara. Bahkan mereka mulai merangsek pula ke level Asia.

Salah satu langkah penting Federasi Sepak Bola Vietnam (VFF) yang banyak mendapat pujian ialah fokus mereka pada pengembangan berjenjang dari usia muda. Vietnam sadar bahwa liga domestik mereka tidak sebagus liga-liga lain di Asia Tenggara, termasuk Liga Indonesia. Karena itu, tidak ada jalan lain, mereka harus mengembangkan bakat-bakat muda sebagai fondasi membentuk tim nasional sepak bola yang kuat.

Bagaimana dengan 'jalan pintas' menaturalisasi pemain? Mereka tidak mengharamkan, tapi juga tidak jorjoran. Vietnam tak segetol Indonesia dan Malaysia yang begitu bernafsu membangun timnas mereka dengan sebanyak-banyaknya menaturalisasi pemain. Artinya, memang bukan itu fokus mereka. Fokus utama sepak bola Vietnam ialah membangun dari dasarnya, yaitu melalui pengembangan berjenjang sejak usia dini.

Prinsip seperti itu pula kiranya yang dilakukan pemerintah Vietnam di sektor ekonomi. Bangun dulu fondasinya, baru yang lain-lain. Setelah melewati fase pembangunan fondasi ekonomi dengan susah payah, kini siapa yang bisa membantah perekonomian Vietnam paling moncer di antara negara Asia Tenggara? Lihat saja indikator-indikatornya, pemerintah Indonesia bisa ngiler membayangkannya.

Pertumbuhan ekonomi mereka jempolan. Menurut Kantor Statistik Umum Vietnam (GSO), ekonomi Vietnam pada 2024 tumbuh sebesar 7,09%, tertinggi di Asia Tenggara. Kini mereka tengah menatap target pertumbuhan 8% pada akhir tahun ini. Investasi asing yang masuk ke Vietnam sepanjang 2024 juga naik 9,4% menjadi US$25,35 miliar. Jumlah itu melesat 171% dalam 10 tahun.

Sama seperti sektor sepak bola mereka, perekonomian Vietnam juga berangkat dari 'bukan siapa-siapa'. Indonesia sudah duluan mencapai kondisi stabil ketika Vietnam masih berjuang jatuh bangun menata dan membangun ekonomi mereka. Namun, kini beberapa dekade setelah itu, perekonomian mereka justru melesat. Pada saat yang sama Indonesia masih saja 'stabil' alias masih di situ-situ saja, tak kunjung naik kelas.

Mesin utama penggerak pertumbuhan ialah manufaktur. Mesin yang dipakai Vietnam saat ini ibarat mesin turbo, sedangkan Indonesia masih pakai mesin lama yang barangkali juga sudah saatnya turun mesin. Itulah perbedaan utamanya. Analogi itu pula yang bisa menjelaskan kenapa pada saat Vietnam merangsek menjadi 'juara manufaktur Asia' dengan mampu menggeret perusahaan-perusahaan raksasa global membangun pabrik di sana, Indonesia malah masuk ke jurang deindustrialisasi prematur.

Dalam pencarian mitra dagang, Vietnam juga tampak lebih cerdas dan agresif. Itu bisa dilihat dari negosiasi Vietnam kepada Amerika Serikat yang berhasil menurunkan tarif sebesar 46% menjadi 20%. Perlu dicatat, Indonesia memang juga bisa memangkas kesepakatan tarif dari 32% menjadi 19%, tapi itu baru disepakati belakangan setelah Indonesia menjanjikan siap 'memberikan segalanya' kepada AS. Vietnam tak seobral itu.

Ada pepatah bijak mengatakan, "Belajarlah sampai ke Negeri China." Sebelum ke Tiongkok, sudilah kiranya Indonesia mampir belajar dulu ke Vietnam. Belajar bagaimana mereka memberikan kemudahan izin usaha dan investasi, bagaimana mereka beradaptasi dengan perubahan kondisi ekonomi global, dan bagaimana mereka mengelola insentif bagi investor. Pelajari juga bagaimana mereka membasmi korupsi dan menyingkirkan ormas nakal atau preman yang kerap menjadi penghambat investasi.

Saat ini, dalam urusan baik sepak bola maupun ekonomi, kita mesti akui Indonesia kalah segalanya dari Vietnam. Jadi, tak perlu merasa terlalu hebat. Luangkan waktu, lapangkan dada, segeralah belajar ke Vietnam.



Berita Lainnya
  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.