Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Resonansi dari Pati

09/8/2025 05:00
Resonansi dari Pati
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

'MENJADI raja (pemimpin/pejabat) yang ideal, dalam konsepsi Jawa, berarti seorang raja (pemimpin/pejabat) itu mesti terus-menerus mencari tuntunan Tuhan di dalam batin saat memerintah atau berkuasa. Dengan demikian, seorang raja (pejabat/pemimpin) hendaklah memiliki sifat wicaksana (wisdom), sehingga bisa bersikap adil dalam menyelesaikan suatu masalah'.

Kalimat di atas saya nukil dari salah satu tulisan indonesianis yang kuat dan berpengaruh, Benedict Anderson. Karyanya yang berjudul The Idea of Power in Javanese Culture itu hingga kini masih berpengaruh dan banyak jadi rujukan berbagai kalangan (kendati tulisan itu dikritik amat tajam oleh antropolog terkemuka Indonesia, Koentjoroningrat).

Apa yang dinarasikan Ben Anderson berpijak pada filosofi Jawa tentang kekuasaan yang menekankan konsep keselarasan, keseimbangan, dan tanggung jawab pemimpin terhadap rakyatnya. Dalam keyakinan orang Jawa, kekuasaan bukan sekadar soal otoritas, melainkan juga kebijaksanaan, kerendahan hati, dan kemampuan untuk melayani kepentingan bersama.

Dalam filosofi Jawa, kekuasaan itu sebagai amanah. Seorang pemimpin dianggap sebagai wakil Tuhan di dunia yang diberi amanah untuk mengayomi dan menyejahterakan rakyatnya. Selain itu, kekuasaan harus digunakan untuk menjaga keseimbangan alam dan sosial, menciptakan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.

Apa yang terjadi di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, tentu bukan harmoni antara rakyat dan pemimpin. Yang terjadi justru kegaduhan. Yang muncul ialah 'perlombaan' tarik urat leher. Yang ada ialah adu dada: ini dadaku, mana dadamu. Tak ada keseimbangan.

Pemimpin harus peka terhadap kebutuhan rakyat, mengutamakan kepentingan bersama, dan bertindak adil dalam setiap keputusan. Di Pati, kita menyaksikan 'adu kuat' antara pemimpin yang menaikkan pajak bumi dan bangunan perdesaan-perkotaan (PBB P-2) setinggi langit, hingga 250%, dan sebagian besar rakyat yang 'kelojotan' dipanggang keputusan yang serbatiba-tiba, mak bedunduk.

Pemimpin sejati ialah mereka yang memiliki kerendahan hati, mau mendengarkan suara rakyat, dan mampu mengambil keputusan bijaksana untuk kemaslahatan bersama. Di Pati, yang ada ialah protes keras dan rencana demonstrasi yang dibalas dengan gestur 'menantang': 'silakan datang dengan 5.000 orang, bahkan kalau perlu 50 ribu orang, saya tidak akan mengubah keputusan ini'.

Hingga akhirnya, publik punya cara sendiri untuk menjawab tantangan itu. Mereka membuka donasi. Dalam hitungan hari, bertumpuk air mineal mengelilingi kantor bupati, membentuk tembok. Lalu, dijawab dengan perampasan dengan dalih 'mengganggu ketertiban umum'.

Orang Jawa mengenal istilah jumbuhing kawula Gusti untuk para pemimpin mereka. Istilah itu merujuk pada konsep penyatuan antara pemimpin dan rakyat. Dalam konsep itu, antara pemimpin dan yang dipimpin mesti saling terkait dan melengkapi. Keduanya juga harus menciptakan hubungan yang harmonis.

Akan tetapi, di Pati, rakyat dan pemimpin mereka terpisah. Keduanya, alih-alih jumbuh, justru ambyar terpecah-pecah. Hubungan keduanya, kini, jauh dari kata harmonis. Bupati memang sudah meminta maaf dan siap meninjau ulang putusan penaikan tarif PBB P-2 itu. Namun, bara masih menyala. Luka telanjur menganga. Kepercayaan seperti telah sirna.

Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat. Jadi, pemimpin itu bertugas melayani dan memenuhi kebutuhan rakyatnya, bukan sebaliknya. Mereka, para pemimpin, yang menolak menjadi pelayan rakyat akan disebut sebagai orang yang adigang, adigung, adiguna.

Istilah itu memiliki makna menyombongkan diri dengan kekuatan, kedudukan, atau kepintaran. Karena itu, setiap pemimpin di level mana pun di Jawa kerap dinasihati agar aja adigang, adigung, lan adiguna. Itu disebabkan kesombongan hanya akan membawa kejatuhan.

Ajaran lainnya terkait dengan kekuasaan di Jawa ialah istilah becik ketitik, ala ketara. Kalimat itu artinya perbuatan baik dan buruk pada akhirnya akan terlihat jelas, memberikan pelajaran tentang pentingnya kejujuran dan integritas dalam menjalankan kekuasaan. Semuanya bermuara pada ajaran agar pemimpin itu rendah hati, tidak mentang-mentang, serta mau mendengar dan menjalankan kehendak rakyat.

Dengan memahami filosofi itu, para pemimpin, setidaknya yang menjadi pemimpin di wilayah Jawa, diharapkan dapat menjalankan kekuasaan dengan arif, bijaksana, dan bertanggung jawab. Selain itu, mereka mampu menciptakan kehidupan yang adil, sejahtera, dan harmonis bagi seluruh rakyat.

Namun, di Pati, 'angin' tantangan bupati itu berembus teramat kencang. Tantangan itu dirasakan rakyat Pati jauh dari sikap lembah manah alias rendah hati. Gayung bersambut. Tantangan itu dibalas dengan murka. Bupati sudah mencabut 'api' tantangan dan menggantinya dengan 'air' dari samudra maaf. Semoga saja bara bisa segera redup, kesegaran pulih kembali.

Kiranya, suka tidak suka, Ben Anderson benar adanya. Harmoni antara pemimpin dan rakyat itu dibutuhkan, bukan sekadar mitos. Jadi, bila pemimpin tak ingin gaduh, lalu jatuh, segeralah minta maaf. Cepatlah menabur air, jangan menyiram minyak. Agar harmoni tertata kembali. Semoga.



Berita Lainnya
  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.  

  • SP3 Setitik Gadai Prestasi

    29/12/2025 05:00

    IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?