Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Rojali-Rohana

26/7/2025 05:00
Rojali-Rohana
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis. Apa itu? Lagi-lagi soal kemampuan daya beli sebagian besar masyarakat kita yang masih nyungsep. Maksud hati ingin optimistis bahwa ekonomi dan daya beli akan baik pada akhirnya di tahun ini.

Nyatanya, daya beli belum kunjung terangkat, malah ndlosor. Pengangguran masih tinggi. Pemutusan hubungan kerja (PHK) seolah jadi menu harian informasi media. Banyak orang tak sanggup membeli, tapi ingin tetap eksis. Di kalangan kelas menengah perkotaan, situasi itu kini memunculkan istilah 'rojali' alias 'rombongan jarang beli'.

'Rojali' itu 'bertetangga dekat' dengan 'rohana' alias 'rombongan hanya nanya-nanya'. Para 'rojalian' dan 'rohanaan' ini umumnya anak muda atau keluarga muda. Mereka kerap mengunjungi mal-mal, terutama pada Sabtu dan Minggu. Kadang-kadang mereka mampir di toko-toko di mal, di depan etalase, tapi lebih sering melihat doang, enggak membeli barang.

Mereka nanya-nanya, tapi saat ditanya, "Mau dibungkus?", jawabnya, "Entar dulu deh." Makanya mereka disebut 'rohana', yakni 'rombongan hanya nanya-nanya'. Dua-duanya sama: sama-sama melihat-lihat, memegang-megang, bertanya-tanya sonder membeli.

Seorang teman meninjau fenomena itu dari sisi psikologi sosial. Kata dia, fenomena 'rojali-rohana' itu mencerminkan dorongan untuk tetap eksis secara sosial dalam situasi perekonomian yang sulit. Karena ada gelombang PHK, orang-orang mencari pelarian sosial.

Mereka mencari tempat mereka bisa merasa 'terhubung' tanpa harus mengeluarkan uang. Karena itulah, jalan-jalan bareng menjadi bentuk dukungan emosional. Mereka bisa saling menguatkan. Situasi itu sekaligus dijadikan cara untuk mempertahankan citra diri yang ditampakkan 'masih baik-baik saja' di tengah tekanan finansial.

Hal itu, tandas sang teman yang memang ahli di bidang psikologi, menandakan pergeseran dari transactional behavior menuju experiential behavior. Dalam situasi tekanan finansial seperti saat ini, mereka lebih tertarik pada pengalaman, merasakan atmosfer, konten medsos, dan interaksi sosial ketimbang membeli barang.

Mereka juga terus menghitung kebutuhan. Di sela-sela itu, mereka memutuskan untuk menunda pembelian, berusaha membandingkan harga dahulu, atau sekadar menghindari konsumsi dengan jalan-jalan karena tahu prioritas keuangan sedang berubah.

Namun, karena mereka tetap ingin eksis, tetap hadir (entah dalam pergaulan atau dalam 'ingatan') mereka memilih menjadi 'rojali dan rohana'. Di tengah kesulitan ekonomi, mereka tetap ingin tampil sebagai bagian dari tren, setidaknya saat berbincang-bincang. Setidaknya, dengan bertanya-tanya atau melihat-lihat, mereka tahu tren terbaru. Mereka tidak membeli, tapi hadir. Mereka tetap eksis walau tidak konsumtif.

"Bukan karena mereka tidak mau membeli, melainkan karena realitas dan akal sehat memaksa mereka untuk menunggu waktu yang tepat," sang kawan menjelaskan.

Kian ke sini, jumlah mereka kian banyak. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memang menyebutkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) menurun. Namun, penurunan angka TPT tidak serta-merta menandakan kondisi pasar tenaga kerja benar-benar membaik. Meski data menunjukkan TPT menurun, jumlah pengangguran secara absolut justru meningkat.

Dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) edisi Februari 2025, BPS melaporkan TPT turun dari 4,82% menjadi 4,76% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Artinya, proporsi jumlah penganggur terhadap jumlah angkatan kerja berkurang. Namun, di sisi lain, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, lebih dari 18 ribu pekerja terkena PHK dalam dua bulan pertama 2025.

Hal itu bisa terjadi karena jumlah penduduk yang bekerja bertambah lebih cepat daripada jumlah penganggur. Dengan kata lain, tingkat pengangguran terbuka memang menurun, tetapi total jumlah orang yang menganggur tetap bertambah.

Dominannya jumlah pekerja informal menjadi salah satu kerentanan terbesar dalam struktur ketenagakerjaan Indonesia. Berdasarkan data Sakernas Februari 2025, terdapat 86,58 juta pekerja di sektor informal, sedangkan jumlah pekerja formal sebanyak 59,19 juta orang. Itu artinya, mayoritas tenaga kerja di Indonesia belum mendapatkan perlindungan hukum dan jaminan sosial secara memadai.

Karena itulah, bila kondisi seperti itu dianggap 'baik-baik saja', jangan heran jika 'rojali-rohana' kian merajalela. Walhasil, banyak mal tutup. Mereka tak sanggup membayar 'biaya tetap yang tetap jadi biaya' karena barang tidak dibeli, hanya dilihat-lihat dan ditanya-tanya. Jangan heran pula bila suatu saat, dari sudut mal, terdengar suara penjaga toko yang jengkel sambil berkata, "Kamu naannnyak...."



Berita Lainnya
  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.