Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis. Apa itu? Lagi-lagi soal kemampuan daya beli sebagian besar masyarakat kita yang masih nyungsep. Maksud hati ingin optimistis bahwa ekonomi dan daya beli akan baik pada akhirnya di tahun ini.
Nyatanya, daya beli belum kunjung terangkat, malah ndlosor. Pengangguran masih tinggi. Pemutusan hubungan kerja (PHK) seolah jadi menu harian informasi media. Banyak orang tak sanggup membeli, tapi ingin tetap eksis. Di kalangan kelas menengah perkotaan, situasi itu kini memunculkan istilah 'rojali' alias 'rombongan jarang beli'.
'Rojali' itu 'bertetangga dekat' dengan 'rohana' alias 'rombongan hanya nanya-nanya'. Para 'rojalian' dan 'rohanaan' ini umumnya anak muda atau keluarga muda. Mereka kerap mengunjungi mal-mal, terutama pada Sabtu dan Minggu. Kadang-kadang mereka mampir di toko-toko di mal, di depan etalase, tapi lebih sering melihat doang, enggak membeli barang.
Mereka nanya-nanya, tapi saat ditanya, "Mau dibungkus?", jawabnya, "Entar dulu deh." Makanya mereka disebut 'rohana', yakni 'rombongan hanya nanya-nanya'. Dua-duanya sama: sama-sama melihat-lihat, memegang-megang, bertanya-tanya sonder membeli.
Seorang teman meninjau fenomena itu dari sisi psikologi sosial. Kata dia, fenomena 'rojali-rohana' itu mencerminkan dorongan untuk tetap eksis secara sosial dalam situasi perekonomian yang sulit. Karena ada gelombang PHK, orang-orang mencari pelarian sosial.
Mereka mencari tempat mereka bisa merasa 'terhubung' tanpa harus mengeluarkan uang. Karena itulah, jalan-jalan bareng menjadi bentuk dukungan emosional. Mereka bisa saling menguatkan. Situasi itu sekaligus dijadikan cara untuk mempertahankan citra diri yang ditampakkan 'masih baik-baik saja' di tengah tekanan finansial.
Hal itu, tandas sang teman yang memang ahli di bidang psikologi, menandakan pergeseran dari transactional behavior menuju experiential behavior. Dalam situasi tekanan finansial seperti saat ini, mereka lebih tertarik pada pengalaman, merasakan atmosfer, konten medsos, dan interaksi sosial ketimbang membeli barang.
Mereka juga terus menghitung kebutuhan. Di sela-sela itu, mereka memutuskan untuk menunda pembelian, berusaha membandingkan harga dahulu, atau sekadar menghindari konsumsi dengan jalan-jalan karena tahu prioritas keuangan sedang berubah.
Namun, karena mereka tetap ingin eksis, tetap hadir (entah dalam pergaulan atau dalam 'ingatan') mereka memilih menjadi 'rojali dan rohana'. Di tengah kesulitan ekonomi, mereka tetap ingin tampil sebagai bagian dari tren, setidaknya saat berbincang-bincang. Setidaknya, dengan bertanya-tanya atau melihat-lihat, mereka tahu tren terbaru. Mereka tidak membeli, tapi hadir. Mereka tetap eksis walau tidak konsumtif.
"Bukan karena mereka tidak mau membeli, melainkan karena realitas dan akal sehat memaksa mereka untuk menunggu waktu yang tepat," sang kawan menjelaskan.
Kian ke sini, jumlah mereka kian banyak. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memang menyebutkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) menurun. Namun, penurunan angka TPT tidak serta-merta menandakan kondisi pasar tenaga kerja benar-benar membaik. Meski data menunjukkan TPT menurun, jumlah pengangguran secara absolut justru meningkat.
Dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) edisi Februari 2025, BPS melaporkan TPT turun dari 4,82% menjadi 4,76% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Artinya, proporsi jumlah penganggur terhadap jumlah angkatan kerja berkurang. Namun, di sisi lain, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, lebih dari 18 ribu pekerja terkena PHK dalam dua bulan pertama 2025.
Hal itu bisa terjadi karena jumlah penduduk yang bekerja bertambah lebih cepat daripada jumlah penganggur. Dengan kata lain, tingkat pengangguran terbuka memang menurun, tetapi total jumlah orang yang menganggur tetap bertambah.
Dominannya jumlah pekerja informal menjadi salah satu kerentanan terbesar dalam struktur ketenagakerjaan Indonesia. Berdasarkan data Sakernas Februari 2025, terdapat 86,58 juta pekerja di sektor informal, sedangkan jumlah pekerja formal sebanyak 59,19 juta orang. Itu artinya, mayoritas tenaga kerja di Indonesia belum mendapatkan perlindungan hukum dan jaminan sosial secara memadai.
Karena itulah, bila kondisi seperti itu dianggap 'baik-baik saja', jangan heran jika 'rojali-rohana' kian merajalela. Walhasil, banyak mal tutup. Mereka tak sanggup membayar 'biaya tetap yang tetap jadi biaya' karena barang tidak dibeli, hanya dilihat-lihat dan ditanya-tanya. Jangan heran pula bila suatu saat, dari sudut mal, terdengar suara penjaga toko yang jengkel sambil berkata, "Kamu naannnyak...."
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik
SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.
SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.
SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved