Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Maksud Baik untuk Siapa?

13/8/2025 05:00
Maksud Baik untuk Siapa?
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ADA pejabat yang meremehkan komunikasi. Karena itu, tindakan komunikasinya pun sembarangan, bahkan ada yang menganggap asal niatnya baik, hasilnya akan baik. Sayangnya, di negeri ini, tidak semua orang percaya pada apa yang disampaikan para pejabat sebagai 'niat baik' itu.

Persis seperti potongan puisi WS Rendra berjudul Sajak Pertemuan Mahasiswa. Kata Rendra, 'Kita bertanya:

kenapa maksud baik tidak selalu berguna

Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga

Orang berkata : “Kami ada maksud baik”

dan kita bertanya : “Maksud baik untuk siapa?”

 

Ya!

Ada yang jaya, ada yang terhina

Ada yang bersenjata, ada yang terluka

Ada yang duduk, ada yang diduduki

Ada yang berlimpah, ada yang terkuras

Dan, kita di sini bertanya:

“Maksud baik Saudara untuk siapa?

Saudara berdiri di pihak yang mana?”

Sebuah pertanyaan retoris terhadap birokrat yang, pada masa lampau, di era Orde Baru, kerap menyebut tindakan menggusur sebagai 'maksud baik demi pembangunan'. Mantra 'demi pembangunan' itulah yang dalam praktiknya berbentuk penggusuran, penyingkiran, pembungkaman.

Kini, penyakit 'meremehkan' komunikasi itu kiranya mulai tampak lagi. Ada seorang bupati yang dengan enteng mengatakan, "Silakan 5.000 orang berdemonstrasi, kalau perlu 50 ribu orang, saya tidak gentar dan tidak akan mengubah kebijakan yang demi kebaikan bersama ini." Kata 'maksud baik' pun menyelubungi maksud-maksud lain yang celakanya lebih dipercaya ketimbang komunikasi menantang yang diucapkan dengan lantang.

Bahasa menantang itu pun dijawab dengan penggalangan donasi dan ikhtiar untuk benar-benar membuktikan bakal ada 50 ribu orang datang dalam demonstrasi. Karena itu, yang terjadi kemudian muncul 'kesadaran' (atau ketakutan?) bahwa ada yang disalahpahami (atau memang salah?) publik dengan apa yang keluar dari kalimat-kalimat menantang pejabat itu.

Sang bupati pun meminta maaf. Ia juga mencabut ucapan yang bernada menantang itu. Namun, sebagian publik menilai permintaan maaf itu tidak sepenuhnya tulus. Tandanya, sang bupati masih perlu menjelaskan maksud ucapan yang sudah terang benderang itu. Karena itulah, bara masih saja menyala. Api akibat kegagalan dalam berkomunikasi tak juga mati.

Di tengah gejolak di daerah belum selesai, muncul lagi model berkomunikasi yang sembarangan. Kali ini datang dari seorang menteri. Perkaranya soal rencana negara menyita tanah berstatus hak guna usaha yang menganggur (ditelantarkan pemegang HGU) selama dua tahun. Namun, cara mengomunikasikannya tak beres.

Sang menteri berucap bahwa semua tanah itu milik negara. Kata dia, "Tapi perlu diketahui ya, tanah itu tidak ada yang memiliki, yang memiliki tanah itu negara. Orang itu hanya menguasai, negara kemudian memberikan hak kepemilikan tertentu."

Tidak berhenti di situ, sang menteri pun tergoda untuk menandaskan maksudnya dengan mengatakan, "Jadi, tidak ada istilah tanah kalau belum ada SHM (sertifikat hak milik)-nya itu dia memiliki. Tidak ada, 'ini tanahnya mbah-mbah saya, leluhur saya'. Saya mau tanya, memang mbahmu, leluhurmu, dulu bisa membuat tanah? Tidak bisa membuat tanah."

Ia pun dicibir, dikritik, dianggap kemlinthi atau pongah alias sombong. Kalimat 'tanahnya mbahmu' dan 'semua tanah milik negara' pun akhirnya lebih terkenal ketimbang maksud untuk menjelaskan. Lalu, karena 'menyadari' pernyataannya membuat gaduh, ia meminta maaf. Ia mengaku keliru. Namun, luka masih terasa. Netizen yang budiman menganggap permintaan maaf dan pengakuan keliru itu tidak tulus.

Tandanya, lagi-lagi penjelasan seusai permintaan maaf. Ia mengaku salah telah mengeluarkan kata-kata kemlinthi itu, tapi itu semua 'dimaksudkan untuk bercanda'. Wajar bila ada yang bertanya, "Lo, itu penjelasan apa candaan? Itu mau mendudukkan persoalan atau 'menduduki persoalan'?" Atau, meminjam pertanyaan Rendra, "Maksud baik Saudara untuk siapa?"

Saya lalu teringat dengan teori komunikasi Juergen Habermas, yang dikenal sebagai teori tindakan komunikatif. Habermas menekankan pentingnya komunikasi dalam membangun pemahaman bersama dan mencapai konsensus. Teori itu membedakan antara tindakan instrumental (yang bertujuan mencapai hasil tertentu) dan tindakan komunikatif (yang bertujuan mencapai pemahaman). Habermas percaya bahwa komunikasi yang rasional dan bebas dari paksaan ialah kunci untuk membentuk masyarakat yang adil dan demokratis.

Jadi, jangan meremehkan komunikasi. Dengan komunikasi rasional yang tercipta lewat strategi yang benar, akan tercapai pemahaman bersama melalui argumentasi yang valid dan konsensus. Jangan ada klaim kebenaran, klaim ketepatan (kesesuaian dengan norma sosial), dan klaim kejujuran (ketulusan komunikator) bahwa apa yang disampaikan itu semuanya 'demi kebaikan dan bermaksud baik'.

Berikan ruang publik yang bebas dan terbuka, tempat warga negara dapat berpartisipasi dalam diskusi dan debat publik untuk membentuk opini dan keputusan bersama. Kiranya, tantangan bagi siapa pun untuk 'menggelar aksi bahkan 50 ribu orang pun tak akan membuat gentar' atau 'semua tanah milik negara, bukan dari mbahmu' mencerminkan komunikasi yang tidak rasional, jauh dari ruang publik yang bebas dan terbuka, dekat dengan klaim kebenaran, klaim ketepatan, juga klaim 'maksud baik'.



Berita Lainnya
  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.