Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Tamparan Sahdan

23/7/2025 05:00
Tamparan Sahdan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima. Padahal, dengan uang itu ia bisa 'membeli' kesenangan pribadi. Ia menolak aji mumpung. Tak ada kamus 'mumpung lagi viral, saatnya mengeruk uang' bagi dirinya.

Dia menjadi ketua RT (rukun tetangga) termuda di Jakarta. Di usia yang amat belia itu, di tengah banyak anak seusianya dianggap mudah diiming-imingi uang demi kesenangan, ia sanggup menolak amplop berisi fulus dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM/Kang Dedi Mulyadi). Penolakan itu jadi tamparan etis bagi Kang Dedi, sekaligus pelajaran soal kesanggupan menjaga integritas kepemimpinan akar rumput.

Pertemuan KDM dengan Sahdan terjadi seusai pemuda 19 tahun asal Kelurahan Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara, itu ramai diperbincangkan karena memimpin swadaya perbaikan jalan bersama warga. Sebagai ketua RT, Sahdan Arya melihat ada yang urgen untuk segera ditangani: kondisi jalan yang rusak. Ia pun menggerakkan masyarakat untuk bergotong royong memperbaiki jalan, dengan biaya saweran bersama-sama.

Aksi swadaya itu pun viral. Sahdan pun diganjar banyak penghargaan. Ia juga terhubung dengan KDM yang sudah viral duluan. Ia menemui KDM, diajak mengobrol di kanal Youtube milik sang Gubernur Jabar itu. Dalam pertemuan itu, Dedi Mulyadi memberikan amplop tebal kepada Sahdan, yang disebutnya sebagai bantuan dana operasional RT. Gubernur Jabar memberi uang bantuan untuk RT di Jakarta.

Sahdan yang didampingi sejumlah pengurus RT 007/RW 008 Kelurahan Rawa Badak Selatan itu menolak tegas pemberian uang 'cuma-cuma' itu. "Karena saya niat ke sini untuk Bapak," kata Sahdan, seperti dikutip dari kanal Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel.

"Ini bisa digunakan untuk ngaspal," timpal Dedi. Namun, Sahdan menolak. "Tidak, saya ke sini ikhlas," ujarnya. "Saya juga ikhlas," balas Dedi.

Dedi tetap berkeras menyebut amplop itu sebagai honorarium pertemuan. Namun, Sahdan tetap pada pendiriannya, menolak pemberian itu, dengan alasan sudah mendapat dukungan penuh dari Wali Kota Jakarta Utara Hendra Hidayat. "Karena saya ke sini niatnya ingin ngobrol sama Bapak, sih," ujar Sahdan.

"Keren. Baru ini saya ketemu nih tokoh muda punya inovasi, punya visi, dan tidak mau menerima rezeki walaupun itu halal. Keren dong," imbuh Dedi.

Langkah Sahdan mendapat apresiasi luas. Wali Kota Jakarta Utara Hendra Hidayat sudah lebih dulu memberikan penghargaan resmi atas aksi gotong royong yang ia pimpin. Badan Narkotika Nasional Provinsi DKI Jakarta juga turut mengapresiasi Sahdan dan berencana menjadikannya Duta Antinarkoba.

Namun, ada kisah tersisa dari aksi KDM memberikan uang itu. Tindakannya menuai kritik. Meski bermaksud baik, pemberian uang kepada pejabat RT di luar wilayah administratifnya dianggap keliru dan menyalahi etika pemerintahan. Itu bukan sekadar soal uang, melainkan pesan moral soal batas kewenangan dan integritas.

Penolakan Sahdan juga simbolisasi bahwa tidak semua anak muda, gen Z, bisa dibeli. Arya menjadi lokomotif penting bagi orang segenerasinya ihwal pentingnya memasang standar etika yang tinggi. Ia memang baru 'pejabat' setingkat RT. Kita tidak tahu, apakah standar etika tinggi akan terus bersemayam di jiwa Sahdan Arya hingga kelak, bahkan jika seandainya ia naik jabatan ke level yang tinggi.

Saya, dan banyak orang lainnya, tentu berharap Sahdan konsisten untuk menjadi kompas moral, bukan saja untuk pejabat selevel dia dan orang seusianya, melainkan juga buat pejabat mana pun, di level apa pun, di usia berapa pun. Kita berharap Sahdan mampu menaklukkan ruang dan waktu. Kita sangat merindukan Sahdan sebagai simbol semangat regenerasi kepemimpinan muda yang progresif, bersih, tidak mudah dibeli, dan konsisten.

Pemerintah, baik pusat maupun daerah, kiranya perlu menjadikan momentum itu sebagai bahan refleksi dalam memperkuat tata kelola yang bersih, beretika, dan transparan. Kepemimpinan muda seperti Sahdan merupakan aset berharga yang harus dilindungi dari praktik-praktik yang berpotensi merusak muruah birokrasi. Ia juga mesti dibentengi dari kanker ganas korupsi.

Kisah Sahdan Arya mestinya bukan sekadar viralitas sesaat, melainkan juga mesti diresonansi menjadi simbol penting bahwa etika dalam pemerintahan tidak boleh dikompromikan. Tak peduli, misalnya, meski hal itu terjadi dalam pertemuan yang bersifat personal atau simbolis sekalipun. Kerap kita temukan atas nama 'maksud baik', semua boleh dilakukan.

Di sisi lain, munculnya tantangan dalam menjaga batas kewenangan dan etika birokrasi juga sebuah 'tamparan moral' bagi KDM. Itu pelajaran berharga bahwa popularitas bukan berarti boleh seenaknya, viralitas tidak otomatis bisa menentukan segalanya.

Secara administratif dan hukum, pemberian uang oleh pucuk pimpinan tertinggi di suatu daerah kepada struktur pimpinan wilayah RT sekalipun di daerah lain bisa dinilai mencederai prinsip tata kelola pemerintahan daerah. Hubungan antarpemerintah daerah harus melalui mekanisme resmi, bukan pendekatan personal yang melampaui kewenangan.

Semoga yang tertampar oleh Sahdan Arya terasa, bahkan tersengat untuk berubah.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan