Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
SEMUA yang disebut alternatif sejatinya bukan hal yang salah atau melenceng. Alternatif hanyalah sebuah pilihan lain atau subaliran dari satu kelompok besar atau arus utama. Alternatif sesungguhnya bersifat komplementer, saling mengisi, tidak menegasikan pilihan yang lain.
Jadi, kalau ada yang berpendapat bahwa keberadaan alternatif mengganggu kelompok utama, mungkin mereka sedang baper (terbawa oleh perasaan) saja. Lihatlah misalnya di bidang musik, apakah kemunculan musik alternatif, entah itu genre rock alternatif, pop alternatif, bahkan dangdut alternatif sekalipun, akan membuat genre utamanya terganggu? Tidak.
Walaupun aliran alternatif sempat digambarkan sebagai musik perlawanan terhadap status quo dan antiarus utama, pada akhirnya, sebagai sebuah pilihan, masing-masing punya pangsa sendiri. Pada titik tertentu mungkin musik alternatif dan musik mainstream malah bisa berkolaborasi, saling melengkapi. Mereka tak saling ganggu, tidak baku bunuh satu sama lain.
Begitu juga kalau kita bicara soal energi alternatif. Ia muncul bukan untuk mematikan energi utama. Justru energi alternatif terus dieksplorasi, didaya guna untuk dapat menggantikan peran energi utama berupa energi fosil yang pada saatnya nanti, mungkin 50-60 tahun dari sekarang, bakal habis alias mati.
Energi konvensional mati bukan karena kehadiran energi alternatif atau yang sering disebut dengan energi baru terbarukan itu, melainkan karena memang sudah 'kehabisan napas'. Artinya, dalam konteks ini, tak ada yang terganggu dengan munculnya energi alternatif. Bahkan, dengan adanya energi alternatif, bumi dapat terselamatkan.
Nah, uniknya, pandangan perihal alternatif yang bernuansa positif seperti itu tidak terlalu tampak pada isu kesehatan. Selalu ada perdebatan tentang perlu-tidaknya atau proper-tidaknya pengobatan alternatif dalam sebuah ekosistem kesehatan bernama medis atau kedokteran.
Sering kali kemunculan pengobatan alternatif dianggap mengganggu eksistensi dari pengobatan secara medis. Mereka dianggap irasional dan seolah-olah datang memang hanya untuk menghantam hegemoni kedokteran modern. Karena itu, mereka kerap mendapat perlawanan atau minimal cibiran.
Padahal, pengertian alternatif dalam pengobatan alternatif sama dengan yang lain. Sekadar pilihan lain atau subaliran dari satu kelompok besar atau arus utama. Pengobatan alternatif hanyalah satu jurusan dari pengobatan di luar medis atau sering disebut demedikalisasi. Tidak lebih. Namun, bagi sebagian orang, sepertinya hal itu sangat menakutkan.
Banyak contoh untuk itu, tapi kita coba ambil saja contoh yang paling baru dan heboh belakangan ini, yaitu praktik pengobatan Ida Dayak. Belakangan ia memang dipercaya masyarakat mampu menyembuhkan sejumlah penyakit tanpa melakukan tindakan medis. Cukup dengan mengoleskan minyak, mengurut pasien, serta melakukan ritual menari, perempuan asal Paser, Kalimantan Timur, itu bisa memulihkan strok, meluruskan tulang bengkok, hingga mengobati kesulitan bicara. Simpel. Tanpa observasi bertele-tele, tanpa tes ini itu, sat set sat set... sembuh.
Ia pun dicari banyak orang yang sebetulnya juga berpikiran simpel: ketika pengobatan secara kedokteran modern menemui jalan buntu, atau mahal, atau memberikan perlakuan yang membeda-bedakan berdasarkan kelas, kenapa tidak mencoba pengobatan alternatif yang murah dan lebih egaliter?
Tidak mengherankan, beberapa waktu lalu, saat Ida Dayak menggelar kegiatan pengobatan di GOR Madivif 1 Kartika, Kostrad Cilodong, Depok, orang yang datang membeludak. Hingga akhirnya kegiatan itu dibatalkan. Dari situ polemik soal Ida Dayak pun kian ramai.
Sebagian masyarakat menyambut antusias pengobatan seperti yang dilakukan Ida Dayak tersebut. Namun, suara-suara miring juga banyak, terutama dari mereka yang selama ini memang setia bekerja atau berobat di jalur medis. Tidak sedikit pula yang menuding pengobatan semacam itu berbau klenik dan karena itu, mesti dihindari.
Mereka bersuara seperti itu sah-sah saja. Namun, kiranya akan lebih afdal kalau kita justru berterima kasih kepada para pelaku pengobatan alternatif itu. Mengapa? Karena semakin larisnya mereka, kian banyak orang berpaling ke pengobatan alternatif, itu memperlihatkan masih ada yang salah dengan sistem kesehatan atau kedokteran modern kita.
Dalam kondisi seperti itu, orang-orang pun memilih pengobatan alternatif sebagai pilihan, apa salahnya?
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved