Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Merayu Israel demi Palestina

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
29/3/2023 05:00
Merayu Israel demi Palestina
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PANDANGAN Wakil Presiden Ke-10 dan Ke-12 RI Jusuf Kalla soal perhelatan Piala Dunia U-20 sebenarnya menarik. Namun, boleh jadi sudah telat. JK menyebut ajang Piala Dunia Sepak Bola U-20 mestinya bisa menjadi momentum bagi Indonesia sebagai tuan rumah untuk mengajak Israel dan Palestina menuju meja perundingan.

Menurut Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia itu, Indonesia seharusnya bisa mengambil kesempatan tuan rumah Piala Dunia U-20 sebagai momentum upaya perdamaian Palestina dan Israel. Kedatangan tim nasional Israel dalam ajang FIFA itu mestinya bisa dibaca sebagai bukti peran aktif Indonesia dalam memperjuangkan hak bangsa Palestina untuk merdeka melalui jalur dialog untuk perdamaian kedua pihak.

Namun, yang semestinya kini tidak selaras dengan yang senyatanya. Jangankan menjadikan kesempatan tuan rumah Piala Dunia U-20 sebagai bagian dari amanat konstitusi untuk menciptakan perdamaian dunia, berbagai elemen di Tanah Air menolak mentah-mentah kehadiran timnas U-20 Israel yang sudah lolos kualifikasi dari zona Eropa.

Dua penolak Israel itu bahkan pejabat nomor satu di dua wilayah tempat Piala Dunia U-20 itu digelar: Gubernur Bali I Wayan Koster dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Keduanya kader PDIP. Keduanya mendasarkan penolakan atas amanat Bung Karno (yang dianggap 'bapak ideologis' PDIP). Presiden pertama Indonesia itu memang pernah memerintahkan agar Indonesia menolak bertanding melawan Israel dalam event olahraga karena menganggap negara di Teluk itu sebagai agresor.

Seperti yang pernah terjadi pada penghujung 1950-an. Ketika itu, ajang Kualifikasi Piala Dunia 1958 Zona Asia memasuki putaran kedua. Indonesia dapat dikatakan nyaris menyegel tempat di putaran final Piala Dunia di Swedia jika tidak ada intervensi politik internasional dalam konflik Israel-Palestina.

Saat itu, Indonesia berada di Grup 1 bersama Mesir, Sudan, dan Israel, tetapi tidak ada satu pun tim yang bersedia menghadapi Israel. Hal itu disebabkan Indonesia yang sedang mengumandangkan perlawanan terhadap neokolonialisme menganggap Israel sebagai penjajah Palestina.

Dalam wawancara dengan Historia, kapten timnas Indonesia saat itu, Maulwi Saelan, menyatakan bahwa menghadapi Israel sama saja dengan mengakui Israel sehingga ia mengikuti perintah Presiden Sukarno yang anti-Israel untuk tidak berangkat melawan Israel.

Namun, itu dulu. Geopolitik telah berubah. Negara-negara yang dulu gigih menolak menghadapi Israel dalam beragam event olahraga kini sudah mengubah pandangan politik mereka. Bahkan, mereka mulai paham bagaimana cara yang lebih pas 'merayu' Israel agar mau ke meja perundingan.

Mereka bahkan menggunakan olahraga sebagai 'alat' diplomasi, selain perdagangan. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania, Turki, dan Mesir, bahkan bukan tidak mungkin Libanon dan Iran, telah merintis jalan menyelami apa maunya Israel tanpa meninggalkan sokongan kepada Palestina. Negara-negara itu meyakini jalan dialog dan perundingan lebih efektif mewujudkan kemerdekaan Palestina.

Geopolitik di Timur Tengah justru sedang adem. Bara panas yang kerap mencapai titik didih kini sedang diikhtiarkan untuk disiram 'air diplomasi' yang sejuk, yakni jalur perdamaian. Apalagi, konflik antara Palestina dan Israel sudah berlangsung 70 tahun. Tiga kali di antaranya meledak menjadi perang besar, yakni 1948, 1967, dan Perang Yom Kippur 1973.

Ironisnya, setiap kali perang, wilayah Arab termasuk Palestina semakin banyak dikuasai Israel. Karena itu, jalan kemerdekaan bagi Palestina bukannya mendekat, yang ada malah menjauh, bahkan Palestina kian banyak kehilangan.

Dalam kondisi seperti saat itu, satu-satunya jalan yang terbaik untuk memperjuangkan dan memulihkan hak-hak bangsa Palestina ialah melalui jalan dialog menuju perdamaian. Itulah jalan yang kini dirintis di Timur Tengah dan diikuti sebagian besar kelompok perjuangan di Palestina, tapi ironisnya justru seperti ditolak di Indonesia.

Baik kiranya pandangan Jusuf Kalla untuk direnungkan. Dalam posisi geopolitik global seperti saat ini, yang harus diperkuat Indonesia ialah mengenal kedua pihak, Palestina dan Israel. Tujuannya agar dapat mendorong mereka maju ke meja perundingan yang adil dan permanen, apalagi Indonesia mengakui solusi dua negara merdeka yang hidup berdampingan secara damai: Palestina dan Israel.

Apalagi, JK sosok yang sahih untuk berbicara resolusi konflik, bicara agama, juga sepak bola. Ia juru damai berbagai wilayah konflik. Ia kini Ketum Dewan Masjid. Ia juga pernah mengelola klub sepak bola Makassar Utama.

JK, juga kita semua di Indonesia, pasti ingin melihat Palestina segera merdeka, diakui dunia, dan rakyatnya hidup dalam kedamaian. Kita, mestinya, juga anti terhadap segala bentuk politisasi kasus Palestina-Israel di ranah apa pun, lebih-lebih lagi di ranah olahraga.



Berita Lainnya
  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.