Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
STUNTING atau pertumbuhan terhambat pada anak, bukan lagi sekadar masalah kesehatan perseorangan, tetapi telah menjadi masalah utama bangsa yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat.
Dalam upaya mencegah dan mengatasi stunting, langkah-langkah pencegahan perlu dilakukan tidak hanya setelah kejadian, tetapi seharusnya sejak sebelum terjadi kehamilan.
Dokter spesialis anak dari RS Hermina Periuk Muhammad Adib Mahara mengungkapkan, banyak kasus stunting di Indonesia, khususnya terjadi pada keluarga kurang mampu dan anak-anak dari pernikahan dini.
Baca juga : RUU KIA Dibutuhkan untuk Kurangi Angka Stunting dan Kematian Ibu
“Dalam kasus stunting ini, rata-rata sering kali disebabkan oleh ketidakmampuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka,” ungkapnya di Media Indonesia, Jumat (9/2).
Kurangnya literasi pada orang tua juga dapat menjadi faktor pencetus terjadinya stunting pada anak. Melihat hal tersebut Marcella Zalianty, artis dan Ketua Persatuan Artis Film Indonesia sangat menekankan bahwa, edukasi terkait stunting ini perlu dilakukan sebelum calon orang tua itu menikah.
“Pencegahan stunting itu harus dimulai sebelum di KUA, para calon orang tua itu harus mengetahui dulu cara merawat anak,” kata Marcella
Baca juga : Cegah Stunting, Atasi Anemia pada Anak
Setelah mengetahui keseluruhan dan peduli terhadap kesehatan dan kehamilan, barulah para calon suami-istri tersebut menikah. Sehingga sebelum menikah mereka mempunyai modal utama dalam merawat anak.
Untuk mengetahui anak terkena stunting atau tidak, memang terlihat sangat mudah, namun adapun ciri-ciri anak yang mengalami stunting, seperti perawakan anak yang pendek tetapi perlu diingat bahwa tidak semua anak pendek menderita stunting.
Karena sebenarnya stunting terjadi ketika pertumbuhan anak terhambat akibat gizi buruk atau kondisi nutrisi yang kurang baik secara kronis. Hal itu dapat terlihat bila tinggi anak kurang dari -2 deviasi (SD) sesuai dengan grafik pertumbuhan anak (GPA) dari World Health Organization (WHO).
Baca juga : Program Bebas Stunting dari Darya-Varia Turunkan Angka Stunting di Desa Cibatok II
Untuk itu, adapaun langkah-langkah yang perlu diambil agar anak tidak terkena stunting, seperti Pada masa kehamilan, ibu hamil perlu memastikan asupan gizi yang cukup dan optimal untuk perkembangan otak janin.
Kemudian, perhatikan gizi dan nutrisi pada seribu hari pertama kehidupan bayi. Karena pada masa tersebut perkembangan otak mencapai puncaknya, sekitar 80 persen otak tumbuh saat usia tersebut.
Ketidakcukupan gizi pada seribu hari pertama dapat menyebabkan stunting, perlu diketahui bahwa stunting adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan berdampak jangka panjang pada kualitas hidup anak
Baca juga : Prabowo Subianto Janji Tekan Angka Stunting di Indonesia, Faktanya Memprihatinkan
Adapun beberapa dampak yang dapat dirasakan sang anak jika dirinya mengalami stunting ada 2. yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Pada jangka pendek, anak stunting cenderung memiliki tinggi badan yang tidak sesuai dengan anak-anak sebayanya, selain itu juga akan mengalami gangguan kognitif, dan lebih rentan terhadap penyakit.
Sedangkan dalam jangka panjang, anak yang mengalami sunting memiliki nilai akademik yang rendah, sulit bersaing, dan kualitas hidup yang kurang baik.
Pencegatan tersebut dapat dilakukan dengan cara kolaborasi antar sektor, karena jika sektor pangan memproduksi bahan pangan yang berkualitas baik, makan oeran kesehatan akan lebih mudah untuk megedukasi masyrakat.
Baca juga : Masa Depan Anak Perlu Dibahas dalam Debat Capres Terakhir
“Karena stunting ini tidak bisa dilakukan jika hanya peran kesehatan yang mengambil alih, maka dari itu perlunya kolaborasiantar sektor. Kalao bahan pangan berkualitas mudah ditemui dengan harga yang murah, maka akan lebih mudah peran kesehatan dalam memberikan edukasi kepada msyarakat,” tutur dokter Adib.
Di sisi lain, peran influencer, artis dan tokoh terkenal juga dapat mengambil peran. Marcela Zalianty selaku Ketua Parfi juga berharap bahwa, para tokoh tersebut dapat membantu memberikan edukasi, karena masalah stunting ini sudah bukan maslaah kecil tetapi masalah besar yang menyangkut bangsa Indonesia.
“Misalnya dengan cara mengangkat tema ini kedalam sebuah film, atau cerita, maka orang akan lebih mudah untuk mengerti betapa beresikonya jika tidak memenuhi gizi,” kata Marcella
Baca juga : Orangtua Berperan Menumbuhkan Minat Baca Anak
Dengan beragamnya metode pengedukasian, diharapkan masyarakat akan lebih aware terhadap isu seperti ini, karena kasus stunting ini masih menjadi isu yang besar bagi bangsa Indonesia. (Z-5)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Studi terhadap 5 juta kelahiran di Afrika dan India mengungkap tren mengejutkan, paparan panas saat hamil menurunkan jumlah bayi laki-laki yang lahir.
Perkembangan janin yang tidak sempurna hingga memicu PJB dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko dari sisi kesehatan orang tua maupun lingkungan.
Peneliti ciptakan replika lapisan rahim untuk pelajari proses implantasi embrio. Terobosan ini diharapkan mampu menekan angka keguguran dan meningkatkan sukses IVF.
Studi terbaru HUJI mengungkap embrio dan rahim melakukan dialog molekuler intens melalui vesikel ekstraseluler hanya dalam satu jam setelah pertemuan.
Data Sensus Penduduk 2020 mencatat angka kematian ibu mencapai 189 per 100.000 kelahiran hidup, sementara kematian bayi berada di angka 17 per 1.000 kelahiran hidup.
Studi menemukan ketidakseimbangan hormon tiroid yang berlangsung selama beberapa trimester kehamilan dapat meningkatkan risiko autisme pada anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved