Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Suhu Panas Saat Hamil Picu Penurunan Kelahiran Bayi Laki-laki, Apa Penyebabnya?

Thalatie K Yani
02/3/2026 13:30
Suhu Panas Saat Hamil Picu Penurunan Kelahiran Bayi Laki-laki, Apa Penyebabnya?
Ilustrasi(freepik)

GELOMBANG panas yang kian sering terjadi ternyata tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mulai menggeser keseimbangan populasi manusia. Sebuah studi berskala besar yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences mengungkapkan hari-hari panas selama masa kehamilan berkorelasi dengan menurunnya jumlah bayi laki-laki yang lahir di wilayah luas Afrika dan India.

Penelitian yang dipimpin Jasmin Abdel Ghany dari Universitas Oxford ini menganalisis hampir lima juta catatan kelahiran. Data tersebut disandingkan dengan catatan suhu harian untuk melihat bagaimana paparan panas memengaruhi rasio jenis kelamin saat lahir.

Janin Laki-laki Lebih Rentan terhadap Stres

Di Afrika sub-Sahara, penurunan kelahiran bayi laki-laki terlihat jelas ketika ibu terpapar panas pada trimester pertama kehamilan. Para biolog mengaitkan hal ini dengan hipotesis "janin laki-laki yang rapuh" (frail male hypothesis).

Secara biologis, janin laki-laki cenderung tumbuh lebih cepat dan membutuhkan lebih banyak energi, oksigen, serta nutrisi dari sang ibu. Ketika suhu tubuh ibu meningkat drastis akibat panas lingkungan, aliran darah akan dialihkan ke kulit untuk pendinginan, yang berpotensi mengurangi pasokan oksigen melalui plasenta.

Kondisi stres ini membuat kehamilan bayi laki-laki lebih rentan gagal dibandingkan janin perempuan. Dampak terkuat ditemukan pada ibu di wilayah pedesaan dengan akses terbatas terhadap peneduh, air bersih, dan alat pendingin ruangan.

Kendala Akses Medis di India

Berbeda dengan temuan di Afrika, penurunan kelahiran bayi laki-laki di India terjadi akibat paparan panas pada pertengahan masa kehamilan (trimester kedua). Peneliti menemukan bahwa suhu panas yang ekstrem di India cenderung membatasi mobilitas masyarakat untuk mengunjungi klinik kesehatan.

Panas yang menyengat dapat menghentikan aktivitas perjalanan, memotong jam kerja, dan meningkatkan biaya hidup. Hal ini secara tidak langsung membuat kunjungan ke klinik menjadi lebih sulit pada minggu-minggu krusial kehamilan. Efek ini paling terlihat di negara bagian India Utara, terutama pada ibu yang sudah memiliki beberapa anak.

Dampak Senyap di Masa Depan

Menariknya, penurunan ini tidak memerlukan suhu yang memecahkan rekor dunia. Pola penurunan mulai muncul segera setelah suhu harian melewati ambang batas moderat, yakni sekitar 20 derajat Celsius (68°F), dan bertahan secara konsisten di berbagai wilayah.

Meski adaptasi lokal telah dilakukan, faktor panas absolut tetap menjadi penentu utama. Penurunan rasio ini, meski tampak kecil, bisa berarti hilangnya ribuan calon bayi laki-laki dalam skala populasi jika cuaca panas berlangsung selama berbulan-bulan.

"Memahami proses-proses ini sangat penting untuk mengantisipasi bagaimana lingkungan memengaruhi masyarakat dalam iklim yang memanas," kata Ghany.

Studi ini memberikan peringatan demografis bagi dunia medis. Di wilayah di mana fasilitas pendingin dan akses medis masih langka, beban perubahan iklim akan jatuh paling berat pada kesehatan reproduksi. Upaya menurunkan paparan panas pada ibu hamil dan memastikan akses layanan medis tetap terjaga saat cuaca panas menjadi kunci untuk mencegah hilangnya kehamilan yang tidak terdeteksi. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya