Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
BANGSA ini memiliki modal besar untuk menjadi negara maju dengan tingkat kemiskinan nihil. Sumber daya alam begitu melimpah, mulai dari hasil hutan, tanah pertanian, pertambangan, hingga hasil laut.
Indonesia juga tidak kekurangan potensi sumber daya manusia yang mampu mengelolanya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), per Februari 2025, penduduk usia produktif Indonesia mencapai 216,7 juta orang, dengan rentang usia 15-64 tahun. Jumlah itu mencakup 76% total penduduk Indonesia yang tercatat sebanyak 286,7 juta orang.
BPS memproyeksikan bonus demografi dengan persentase usia produktif di kisaran 70% populasi itu akan berlangsung hingga 2040. Harapannya, kita mampu menyulap bonus demografi menjadi generasi emas untuk mewujudkan Indonesia emas. Namun, prospek itu masih abu-abu. Bahkan, muncul istilah tandingan 'Indonesia cemas' yang menggambarkan keraguan. Apakah kita bisa memanfaatkan bonus demografi untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju?
Akar keraguan itu ialah minimnya keteladanan dari para elite, baik elite politik maupun elite pejabat di negara ini. Sebagian rakyat pun kehilangan pedoman moral sehingga mengikuti perilaku yang melenceng.
Menyitir pernyataan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, demokrasi belum membawa manfaat sepenuhnya untuk rakyat. Padahal, demokrasi di Indonesia sudah sangat bebas, bahkan cenderung ultraliberal. Rakyat dan pemimpin negeri ini, kata Surya Paloh, baru mengenal hak dalam berdemokrasi, tapi belum menunaikan kewajiban mereka.
Mudah sekali memberi contoh lemahnya keteladanan berdemokrasi. Praktik politik uang tidak pernah surut dari pemilu ke pemilu dan dari pilkada ke pilkada. Elite politik blak-blakan mengaku ongkos politik sangat mahal. Bagaimana tidak mahal bila setiap suara dibayar dengan uang? Tidak sedikit pula rakyat yang dengan senang hati menjual suara mereka, terutama dalam kondisi terdesak beban ekonomi.
Bukan itu saja, para calon peserta pemilu dan pilkada masih harus membayar mahar untuk mendapatkan dukungan politik. Tidak banyak institusi politik yang tegas mengusung politik tanpa mahar. Kebanyakan, ada yang menyebut itu bukan mahar, melainkan untuk biaya menggerakkan mesin-mesin politik partai.
Sejumlah kepala daerah mengaku mereka terjebak dalam mahar politik dan politik uang. Mereka harus mengeluarkan dana khusus untuk mendapatkan surat rekomendasi agar bisa maju sebagai calon kepala daerah.
Ketika sudah diusung, pada masa kampanye, tiap hari mereka harus mengeluarkan uang belasan hingga puluhan juta rupiah untuk keperluan kampanye. Lalu, di saat pemungutan suara, uang miliaran rupiah harus mereka keluarkan untuk membayar para saksi.
Dari praktik politik yang transaksional, sama sekali tidak mengherankan jika banyak terlahir para pemimpin dan penyelenggara negara yang bermental transaksional dan berburu rente. Semangat mereka bukan mengabdi untuk rakyat. Anggaran pembangunan tersedot untuk kesejahteraan pribadi dan golongan. Maka, bermunculanlah praktik korupsi.
Nafsu korupsi itu tidak selalu diakomodasi dengan melanggar hukum. Cukup memberikan bungkus legalitas, misalnya mengalokasikan pengadaan kendaraan mewah dan tunjangan jabatan yang nilainya fantastis.
Tepat sekali Presiden Prabowo Subianto menyebut adanya para penganut serakahnomics dalam sistem perekonomian Indonesia. Tangan-tangan mereka bikin bocor kekayaan negara.
Lalu, bagaimana menghentikannya? Tidak bisa lain, harus dimulai dari para elite dan pemimpin. Kendati masyarakat yang waras bisa ikut mengawasi dan mengoreksi, kemampuan itu belum cukup kuat membawa perubahan.
Tidak hanya satu, kita perlu banyak pemimpin berintegritas dan tegas untuk menguatkan demokrasi yang berlandaskan keteladanan serta konsistensi antara ucapan dan perbuatan. Bila itu bisa dijalankan, Indonesia emas bukan sekadar impian, melainkan benar-benar kenyataan.
KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.
BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.
SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.
KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.
DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.
KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.
DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.
PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.
Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.
NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.
BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.
PENCABUTAN izin 28 perusahaan membuka peluang bagi pemulihan lingkungan pascabencana Aceh dan Sumatra.
PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir bukan sekadar fenomena singkat.
Korupsi tersebut adalah gejala dari penyakit sistemik yang belum juga disembuhkan, yakni politik berbiaya tinggi.
PEMBERANTASAN korupsi di Republik ini seolah berjalan di tempat, bahkan cenderung mundur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved