Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Nyepi yang jatuh pada Kamis (19/3) akan bersinggungan dengan malam takbiran bagi umat Islam yang mengikuti penetapan Idul Fitri menurut Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ini menjadi ujian toleransi antarumat beragama. Ada perayaan kemenangan yang diekspresikan melalui takbiran, pada saat bersamaan ada penghormatan pada keheningan di malam Nyepi.
Pada situasi lainnya, di antara umat Islam sendiri, perayaan Idul Fitri tahun ini juga menjadi ujian toleransi. Jatuhnya Idul Fitri berdasarkan penetapan pemerintah berpotensi terjadi pada Sabtu (21/3). Ini merupakan perbedaan Idul Fitri pertama lagi setelah selama dua tahun hari Lebaran berlangsung serentak.
Perbedaan hari Idul Fitri memang bukan hal baru. Begitu juga dengan Idul Fitri yang berimpitan dengan hari keagamaan lain. Bahkan, pada 2004, Idul Fitri tepat bersamaan dengan Nyepi.
Di luar itu, bangsa kita juga punya banyak momentum toleransi lainnya. Kenyang pengalaman dan DNA bangsa yang lahir dari keberagaman memang membuat kita tidak gamang dengan perbedaan.
Meski begitu, kematangan toleransi tetap perlu diasah dari zaman ke zaman. Matang pengalaman belum otomatis melahirkan toleransi yang mulus. Dialog dan penyesuaian terbukti harus terus dilakukan. Bahkan, para pemimpin organisasi keagamaan harus berperan nyata merumuskan jalan toleransi itu.
Ini pula yang telah ditunjukkan di Bali. Menuju jatuhnya Nyepi dan Idul Fitri, terjadi perubahan soal pelaksanaan malam takbiran.
Akhir minggu lalu, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali mengeluarkan seruan pelaksanaan takbiran dengan cukup berjalan kaki menuju masjid/musala terdekat, tanpa pengeras suara, dan tanpa penerangan mencolok. Seruan ini disebutkan dihasilkan setelah pertemuan dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali.
Pada Senin (16/3), Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengimbau warga Muhammadiyah di Provinsi Bali untuk menggelar takbiran di rumah. Seruan itu adalah laku nyata kepemimpinan dalam bertoleransi. Nyatanya pula, seruan tersebut semakin menjamin rasa aman yang memang dibutuhkan masyarakat.
Haedar telah mengambil langkah tepat untuk menutup semua celah potensi gesekan sosial. Tanpa mengecilkan kesadaran diri para peserta, sebagaimana kegiatan lainnya yang melibatkan banyak orang di ruang terbuka, ketertiban memang merupakan hal yang menantang.
Seruan Haedar juga disambut Gubernur Bali Wayan Koster. Ia meyakinkan kepada publik bahwa situasi di Bali benar-benar kondusif. Pelaksanaan salat Idul Fitri pun diyakini bisa berjalan lancar. Pelaksanaan salat akan berlangsung pukul 06.30 Wita atau beberapa saat setelah berakhirnya Nyepi pada pukul 06.00 Wita.
Toleransi di Bali semestinya juga menjadi cermin bagi toleransi di antara umat Islam sendiri. Penghormatan yang diberikan bagi kebutuhan umat beragama lain, tentunya juga dapat diberikan kepada saudara seiman.
Keindahan toleransi yang ada pada 2023, juga di tahun-tahun sebelumnya ketika Idul Fitri tidak serentak, mestinya mudah kita ulangi. Terlebih, hingga 2029, perbedaan jatuhnya Idul Fitri amat mungkin terus terjadi di Indonesia. Bukan mustahil pula, perbedaan akan terus terjadi hingga berabad nanti.
Sebab itu, mempersoalkan perbedaan jatuhnya Idul Fitri sama saja menjerumuskan diri dalam kesia-siaan. Justru umat harus diyakinkan bahwa perbedaan bukanlah sumber gesekan. Begitu juga, toleransi bukanlah goyahnya keyakinan.
Menghargai perbedaan adalah sejatinya menghormati kebesaran Tuhan. Berlapang pada perbedaan adalah juga meyakini lapangnya kasih sayang Tuhan. Itu pula yang akan menjadikan modal kita sebagai bangsa beragama yang bersatu.
BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.
LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved