Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Aksi Purbaya bukan Gimik Belaka

10/10/2025 05:00

PURBAYA Yudhi Sadewa menorehkan kesan kurang mengenakkan begitu dilantik sebagai menteri keuangan. Ia mengeluarkan kalimat yang terkesan mengabaikan suasana kebatinan masyarakat dan tidak sensitif terkait dengan Gerakan 17+8.

Ketika itu, Purbaya sesumbar akan menciptakan pertumbuhan ekonomi 6%-7% agar demonstrasi hilang karena rakyat sibuk cari kerja dan makan enak. Ucapan itu sontak menyulut kegaduhan, tetapi tidak berlangsung lama, karena Purbaya bergerak cepat dan mengaku salah.

Bak gayung bersambut, publik pun membukakan pintu maaf. Purbaya bisa langsung tancap gas menjalankan kerja-kerja sebagai bendahara negara. Energi masyarakat pun tidak tersita pada kontroversi dan perdebatan tanpa ujung.

Ketika suasana sudah kondusif dan tidak ada lagi pertentangan dengan masyarakat, Purbaya yang dijuluki 'si menteri koboi' terus melahirkan gebrakan dan terobosan. Sederet kebijakannya bahkan sudah mulai membikin pejabat negara geleng-geleng kepala.

Manuver pertamanya ialah menyuntikkan Rp200 triliun uang negara yang ada di Bank Indonesia ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk menambah llikuiditas. Tujuannya ialah mendorong penyaluran kredit agar roda ekonomi kian kencang berputar dan sektor riil kembali bergairah.

Pada awal rencana penempatan dana, pihak perbankan sempat menyatakan keberatan dan mengaku hanya mampu menyerap Rp7 triliun. Namun, ia tetap teguh pada kebijakannya, seraya meminta pihak bank mencari sendiri cara untuk menyerap dana dari pemerintah.

Dalam keteguhannya itu, Purbaya seperti menabuh genderang dan menghidupkan alarm bahwa dalam urusan negara, kreativitas amatlah dibutuhkan. Pejabat bank pantang terlena dengan cara-cara lama, tetapi harus cerdik dan cerdas dalam menjemput solusi.

Meski demikian, Purbaya rupanya tidak berdiam begitu saja dan membiarkan Himbara berjalan sendiri. Ia rajin blusukan berbalut inspeksi mendadak (sidak). Ada dua bank milik negara yang sudah ia sambangi, yakni BNI pada 29 September dan Bank Mandiri pada 6 Oktober.

Purbaya ingin memastikan penempatan uang negara berjalan optimal. Mantan Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu seolah mengirim pesan dirinya tidak asal membuat kebijakan. Sebaliknya, ia ingin terlibat merasakan sendiri denyut tantangan yang dihadapi dunia perbankan.

Langkah Purbaya mengingatkan kita pada falsafah Ki Hadjar Dewantara, Tut wuri handayani. Ia membiarkan dunia perbankan berkreasi sendiri dalam melakukan penyerapan, seraya memberi dorongan dari belakang agar arah gerak mereka tetap terjaga di jalur yang benar.

Publik kini mendapat kesan positif terhadap suksesor Sri Mulyani itu. Ia bukan hanya pembuat kebijakan, melainkan juga pengiring perjalanan. Sidak Purbaya bukan untuk menghakimi, melainkan hendak memberi ruang tumbuh kepada jajaran direksi Himbara.

Sebagian publik ada yang menyangsikan gebrakan Purbaya itu. Mereka melihat sang menteri sekadar menggebrak tanpa lebih dulu menyelami duduk persoalan seretnya pemberian kredit di perbankan. Mereka yang mengkritik pun meminta Purbaya tidak meneruskan langkahnya tersebut.

Lagi-lagi Purbaya bergeming. Ia akan terus melakukan pemantauan terhadap penyaluran dana ke Himbara. Saat tinjauan ke Himbara itu, Purbaya menyebut bahwa perbankan justru ingin digerojok dana lagi.

Publik yang semula apatis kini mulai menaruh harapan terhadap Purbaya dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Namun, jawaban sesungguhnya akan terlihat setidaknya akhir tahun ini. Publik sangat berharap terobosan Purbaya bukan gimik belaka.

'Si menteri koboi' harus menjadi pemimpin tulen, tahu kapan waktunya menembak dan kapan saatnya menuntun. Publik butuh efek nyata, alih-alih sekadar efek kejut.

 



Berita Lainnya
  • Gaji Naik, Moral Menukik

    09/2/2026 05:00

    WAJAH peradilan negeri ini sungguh menyedihkan. Kasus rasuah lagi-lagi memberikan tamparan keras.

  • Timnas Futsal di Titik Awal Menuju Puncak

    07/2/2026 05:00

    KEBERHASILAN tim nasional futsal Indonesia menembus final Piala Asia Futsal 2026 menandai sebuah babak penting dalam sejarah olahraga nasional.

  • Ekonomi Mulai di Zona Terang

    06/2/2026 05:00

    KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.

  • Alarm Pengelolaan Sampah

    05/2/2026 05:00

    BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.

  • Jaga Regenerasi Bulu Tangkis Kita

    04/2/2026 05:00

    SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.

  • Meneruskan Ambang Batas Parlemen

    03/2/2026 05:00

    KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.

  • Tindak Aksi Kemplang Pajak

    02/2/2026 05:00

    DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.

  • Benahi Bursa Efek Indonesia

    31/1/2026 05:00

    KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.

  • Jangan Ulangi Kasus Hogi

    30/1/2026 05:00

    DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.

  • Memangkas BBM Subsidi Berbasis Keadilan

    29/1/2026 05:00

    PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

  • Menunggu Bukti Aksi Purbaya

    28/1/2026 05:00

    BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.

  • Gaji Kecil bukan Pembenar Aksi Korup

    27/1/2026 05:00

    Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.

  • Lalai Mencegah Bencana

    26/1/2026 05:00

    NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.

  • Akhiri Menyalahkan Alam

    24/1/2026 05:00

    BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.

  • Pencabutan Izin bukan Ajang Basa-basi

    23/1/2026 05:00

    PENCABUTAN izin 28 perusahaan membuka peluang bagi pemulihan lingkungan pascabencana Aceh dan Sumatra.

  • Mewaspadai Pelemahan Rupiah

    22/1/2026 05:00

    PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir bukan sekadar fenomena singkat.