Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Kebocoran Anggaran bukan Bualan

16/8/2025 05:00

BERANI mengungkap kesalahan ialah anak tangga pertama menuju perbaikan. Tanpa adanya kejujuran bahwa telah terjadi suatu kesalahan, sulit untuk membangun masa depan yang gemilang. Itu disebabkan semua hal yang baik tidak akan pernah tumbuh di atas penyangkalan.

Karena itu, kita patut mengapresiasi pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan pada sidang tahunan MPR dan sidang bersama DPR-DPD di Gedung DPR/MPR, kemarin. Prabowo berani mengungkapkan bahwa Indonesia mengalami kebocoran kekayaan negara dalam skala yang sangat besar.

Presiden mengistilahkan kondisi yang tengah dihadapi Indonesia saat ini sebagai net outflow of national wealth atau dana keluar dari suatu negara atau pasar keuangan yang lebih besar daripada jumlah dana yang masuk.

Berangkat dari pengakuan itu, ia menyatakan tidak ingin menghabiskan energi dengan mencari siapa yang salah. Bagi Prabowo, lebih penting dan mendesak untuk memusatkan diri dalam mencari solusi yang tepat dan cepat terhadap bocornya kekayaan negara.

Menurutnya, jika tidak segera diatasi, kekayaan Indonesia akan semakin banyak yang mengalir ke luar negeri. Bahkan, Indonesia berpotensi menjadi negara gagal. Ibarat badan yang darahnya terus mengalir ke luar, pada satu titik akan mati jua.

Akan tetapi, pengakuan Prabowo tentang terjadinya kebocoran kekayaan negara harus diikuti dengan serangkaian aksi nyata. Pengakuan saja tidak cukup, bahkan menjadi sia-sia belaka, apalagi kalau narasi itu terus diulang-ulang tanpa ada pembenahan berarti.

Rekam jejak digital masih ada dan dapat dengan mudah dilacak. Setahun silam, Prabowo Subianto saat masih menjadi presiden terpilih, disebut-sebut sudah memegang data ratusan perusahaan nakal yang bikin penerimaan negara bocor hingga Rp300 triliun.

Pernyataan itu disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra sekaligus adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo. Hashim menyatakan, kebocoran penerimaan negara itu berasal dari sektor industri perkebunan sawit.

Namun, kabar dari ratusan perusahaan nakal itu sampai sekarang belum ramai terdengar publik. Yang sampai di telinga publik justru rekening bank menganggur dalam tiga bulan akan diblokir negara, tanah tidak dikelola selama dua tahun akan disita negara.

Menjadi semakin ironis karena Prabowo sudah pernah menggunakan istilah negara gagal. Dalam arahannya saat rapim TNI-Polri di Tri Brata Darmawangsa, Jakarta, 30 Januari silam, Prabowo mengatakan ciri-ciri negara gagal dilihat dari kinerja aparat keamanannya. "Biasanya ciri khas negara yang gagal adalah tentara dan polisi yang gagal," kata Prabowo ketika itu.

Lagi-lagi persepsi publik tentang tentara dan polisi masih dihinggapi persaingan antarinstitusi. Apalagi sempat terjadi insiden penyerangan oleh sekelompok anggota TNI terhadap Kantor Mapolres Tarakan, Kalimantan Utara, pada 24 Februari lalu.

Skeptisisme masyarakat tentang TNI-Polri makin menebal manakala ada pengerahan kendaraan taktis (rantis) di Kantor Kejaksaan Agung, awal Agustus ini. Dua panser Anoa milik TNI-AD, dalam kondisi nihil perang, dinilai tidak lazim terparkir di lembaga sipil.

Sekali lagi, kita tentu mengapresiasi kejujuran Presiden Prabowo tentang bocornya kekayaan negara serta ancaman terjadinya negara gagal. Namun, publik juga tidak mau terlena dengan narasi belaka. Kita dorong agar Presiden serius menyelamatkan kebocoran anggaran.

Jangan cepat puas dengan pencapaian selama ini. Berbagai cara pencegahan dan pemberantasan korupsi mesti dipercepat lagi agar upaya mewujudkan pemerintahan yang bersih dan tata kelola yang baik segera terealisasi. Buktikan bahwa narasi kebocoran anggaran bukan bualan.

 



Berita Lainnya
  • Mewujudkan Kedaulatan Emas

    11/2/2026 05:00

    LONJAKAN harga emas dunia seharusnya menjadi kabar baik bagi Indonesia.

  • Kembalikan Hak Sehat Rakyat

    10/2/2026 05:00

    SEBELAS juta jiwa tentu bukan angka yang kecil.

  • Gaji Naik, Moral Menukik

    09/2/2026 05:00

    WAJAH peradilan negeri ini sungguh menyedihkan. Kasus rasuah lagi-lagi memberikan tamparan keras.

  • Timnas Futsal di Titik Awal Menuju Puncak

    07/2/2026 05:00

    KEBERHASILAN tim nasional futsal Indonesia menembus final Piala Asia Futsal 2026 menandai sebuah babak penting dalam sejarah olahraga nasional.

  • Ekonomi Mulai di Zona Terang

    06/2/2026 05:00

    KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.

  • Alarm Pengelolaan Sampah

    05/2/2026 05:00

    BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.

  • Jaga Regenerasi Bulu Tangkis Kita

    04/2/2026 05:00

    SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.

  • Meneruskan Ambang Batas Parlemen

    03/2/2026 05:00

    KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.

  • Tindak Aksi Kemplang Pajak

    02/2/2026 05:00

    DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.

  • Benahi Bursa Efek Indonesia

    31/1/2026 05:00

    KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.

  • Jangan Ulangi Kasus Hogi

    30/1/2026 05:00

    DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.

  • Memangkas BBM Subsidi Berbasis Keadilan

    29/1/2026 05:00

    PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

  • Menunggu Bukti Aksi Purbaya

    28/1/2026 05:00

    BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.

  • Gaji Kecil bukan Pembenar Aksi Korup

    27/1/2026 05:00

    Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.

  • Lalai Mencegah Bencana

    26/1/2026 05:00

    NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.

  • Akhiri Menyalahkan Alam

    24/1/2026 05:00

    BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.