Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Jangan Bergantung Terus pada Konsumsi

06/8/2025 05:00

EKONOMI Indonesia melambung di tengah pesimisme yang masih menyelimuti kondisi perekonomian global maupun domestik. Pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,12% secara tahunan pada kuartal II 2025. Jika dibandingkan dengan triwulan I 2025 yang hanya mencatat pertumbuhan 4,87%, lesatan ini sungguh melampaui ekspektasi.

Baik lembaga kajian ekonomi maupun konsensus pasar sebelumnya berekspektasi dan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di triwulan kedua ini tidak akan beranjak jauh dari capaian triwulan sebelumnya. Diprediksi naik, tapi tidak akan sampai menembus 5%. Namun, semua prediksi itu buyar setelah Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin, mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,12%.

Pencapaian tersebut, di satu sisi, tentu patut diapresiasi. Angka kenaikan pertumbuhan lumayan tinggi itu semestinya menjadi penanda bahwa roda ekonomi mulai bergerak. Dari sisi produksi, BPS mencatat, hampir seluruh lapangan usaha tumbuh positif pada triwulan II 2025. Lima sektor produksi utama, yaitu industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan, semua tumbuh signifikan.

Dari sisi pengeluaran pun nyaris sama. Seluruh komponen pengeluaran mengalami pertumbuhan positif kecuali konsumsi pemerintah. Komponen pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) ialah konsumsi rumah tangga dengan sumbangan sebesar 54,25%. Itu menjadikan konsumsi sebagai salah satu sumber pertumbuhan terpenting pada periode ini.

Sumber pertumbuhan penting lain ialah komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang berkontribusi 27,83% terhadap PDB. Menurut BPS, peningkatan PMTB didorong oleh investasi swasta dan pemerintah dengan belanja modal pemerintah pada triwulan II 2025 yang tumbuh 30,37% (year-on-year), terutama pada komponen mesin dan peralatan.

Akan tetapi, pada saat yang sama kita juga perlu mengkritisi angka pertumbuhan yang diumumkan BPS tersebut. Sejujurnya harus kita katakan impresifnya angka pertumbuhan pada triwulan II 2005 itu belum sepenuhnya merefleksikan kondisi di lapangan. Salah satu yang cukup mengagetkan ialah pertumbuhan industri pengolahan (manufaktur) yang pada kuartal II 2025 disebut BPS mencapai 5,68%.

Kondisi itu berkebalikan dengan data purchasing managers index (PMI) manufaktur yang menurut S&P Global masih dalam zona pesimistis. PMI manufaktur Indonesia selama empat bulan beruntun, termasuk Juli 2025, berada di bawah ambang ekspansi (50,0), yang menandakan pelemahan konsisten dalam aktivitas manufaktur nasional.

Itu artinya, sektor yang digadang-gadang mampu menyerap lapangan kerja dalam jumlah besar itu masih harus menunggu kabar baik. Meningkatnya angka pertumbuhan ekonomi yang tidak dibarengi dengan ekspansifnya industri menandakan bahwa struktur ekonomi kita masih ditopang oleh fondasi yang rapuh.

Tidak mengherankan jika pengumuman pertumbuhan ekonomi kali ini memantik kekagetan dari sejumlah pakar dan ahli ekonomi. Maka, pemerintah perlu segera menjelaskan bagaimana bakal bisa mendorong pertumbuhan ekonomi itu menjadi lebih tinggi di masa-masa mendatang, bila kekagetan dan keraguan masih mengiringi.

Selain itu, kita juga mesti akui, pertumbuhan yang melejit di triwulan II 2025, lagi-lagi belum memperlihatkan adanya perbaikan kualitas struktur ekonomi meski terlihat stabil dalam kuantitas. Pertumbuhan yang lebih disokong konsumsi rumah tangga dan investasi menunjukkan bahwa pertumbuhan struktural masih absen.

Ketergantungan pada konsumsi dan investasi tanpa dukungan kuat dari sektor produksi dan ekspor cukup berisiko, terutama jika bicara soal pertumbuhan yang berkelanjutan. Amat riskan jika terus mengandalkan permintaan domestik sebagai tulang punggung utama, sementara sisi produksi dan ekspor belum cukup kuat menopang pertumbuhan jangka menengah.

Berbagai tantangan struktural ekonomi tersebut mesti menjadi fokus pemerintah. Saat ini, pemerintah boleh saja 'merayakan' angka pertumbuhan yang melampaui ekspektasi di triwulan II 2025, tetapi pekerjaan rumah masih sangat banyak. Alih-alih terus menggantungkan pada konsumsi, pemerintah harus segera melakukan pergeseran strategis menuju industrialisasi dan produktivitas sektor riil.

Tanpa itu, target pertumbuhan tinggi yang dipasang pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yakni 8% pada 2029 mendatang akan selalu jadi bahan perdebatan dan gunjingan tanpa menemukan pijakan nyata. Kita tentu tak ingin itu semua menjadi nyata. Yang kita inginkan ialah cita-cita pertumbuhan yang benar-benar menjadi kenyataan.

 

 



Berita Lainnya
  • Kembalikan Hak Sehat Rakyat

    10/2/2026 05:00

    SEBELAS juta jiwa tentu bukan angka yang kecil.

  • Gaji Naik, Moral Menukik

    09/2/2026 05:00

    WAJAH peradilan negeri ini sungguh menyedihkan. Kasus rasuah lagi-lagi memberikan tamparan keras.

  • Timnas Futsal di Titik Awal Menuju Puncak

    07/2/2026 05:00

    KEBERHASILAN tim nasional futsal Indonesia menembus final Piala Asia Futsal 2026 menandai sebuah babak penting dalam sejarah olahraga nasional.

  • Ekonomi Mulai di Zona Terang

    06/2/2026 05:00

    KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.

  • Alarm Pengelolaan Sampah

    05/2/2026 05:00

    BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.

  • Jaga Regenerasi Bulu Tangkis Kita

    04/2/2026 05:00

    SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.

  • Meneruskan Ambang Batas Parlemen

    03/2/2026 05:00

    KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.

  • Tindak Aksi Kemplang Pajak

    02/2/2026 05:00

    DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.

  • Benahi Bursa Efek Indonesia

    31/1/2026 05:00

    KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.

  • Jangan Ulangi Kasus Hogi

    30/1/2026 05:00

    DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.

  • Memangkas BBM Subsidi Berbasis Keadilan

    29/1/2026 05:00

    PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

  • Menunggu Bukti Aksi Purbaya

    28/1/2026 05:00

    BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.

  • Gaji Kecil bukan Pembenar Aksi Korup

    27/1/2026 05:00

    Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.

  • Lalai Mencegah Bencana

    26/1/2026 05:00

    NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.

  • Akhiri Menyalahkan Alam

    24/1/2026 05:00

    BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.

  • Pencabutan Izin bukan Ajang Basa-basi

    23/1/2026 05:00

    PENCABUTAN izin 28 perusahaan membuka peluang bagi pemulihan lingkungan pascabencana Aceh dan Sumatra.