Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
DELAPAN dekade sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia telah menapaki perjalanan panjang yang penuh dinamika. Ini bukan sekadar angka, melainkan tonggak sejarah penting dalam perjalanan panjang bangsa.
Delapan puluh tahun lalu, proklamasi kemerdekaan dibacakan sebagai simbol lepasnya bangsa ini dari belenggu kolonialisme. Namun, kemerdekaan sejati tak berhenti pada lepasnya kendali asing, tetapi pada kemampuan bangsa ini untuk berdiri tegak sebagai negara maju yang berdaulat dan mampu menyejahterakan seluruh rakyatnya.
Dari penjajahan menuju kemerdekaan, dari negara agraris menuju ekonomi digital, dari tantangan internal menuju posisi strategis di percaturan global. Namun, di usia 80 tahun ini, tantangan untuk menjadi bangsa maju tidak semakin ringan, justru kian besar, kompleks, dan serba tidak menentu.
Globalisasi, disrupsi teknologi, krisis iklim, ketegangan geopolitik, hingga ketimpangan sosial-ekonomi dalam negeri adalah contoh nyata tantangan zaman. Negara-negara yang ingin melangkah ke tahap negara maju dituntut untuk lincah beradaptasi, memiliki visi jangka panjang, serta mampu membangun fondasi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam situasi semacam ini, Indonesia tidak bisa bertumpu pada kekuatan satu pihak saja, baik pemerintah, swasta, akademisi, maupun masyarakat sipil, karena dunia berubah sangat cepat. Dibutuhkan semangat kolaboratif yang kokoh dan berkelanjutan. Kolaborasi lintas sektor dan lintas generasi menjadi kunci untuk menyatukan potensi, menyinergikan kekuatan, dan mempercepat lompatan kemajuan.
Menjadi negara maju bukan sekadar soal pendapatan per kapita atau pertumbuhan ekonomi tinggi. Negara maju adalah negara yang unggul dalam inovasi, adil dalam distribusi kesejahteraan, tangguh menghadapi krisis, serta mampu mengelola keragaman sosial budaya menjadi kekuatan.
Tantangan yang kita hadapi saat ini bersifat multidimensional. Di bidang ekonomi, kita harus bersaing dengan negara-negara yang jauh lebih mapan dalam hal teknologi dan inovasi. Di bidang sosial, masih dihadapkan pada tantangan kesenjangan dan eksklusi sosial yang masih nyata.
Dalam iklim demokrasi, tak kalah banyak yang harus dibenahi. Polarisasi dan fragmentasi dapat mengancam kohesi nasional jika tidak ditangani secara bijak.
Pemerintah tidak cukup hanya dengan regulasi. Dunia usaha tidak cukup hanya mengejar keuntungan. Masyarakat sipil dan akademisi juga tak bisa hanya berdiri di pinggir. Berbagi peran seluruh elemen bangsa adalah keniscayaan.
Tidak ada satu pihak yang bisa menyelesaikan semua ini sendirian. Hanya dengan semangat gotong royong, bangsa ini mampu berdiri di atas kaki sendiri, baik dalam ketahanan pangan, energi, teknologi, maupun kebijakan politik luar negeri.
Tanpa kolaborasi yang kokoh dan berkelanjutan, upaya menuju Indonesia Emas di usia kemerdekaan 100 tahun hanya akan menjadi omon-omon.
KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.
BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.
SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.
KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.
DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.
KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.
DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.
PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.
Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.
NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.
BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.
PENCABUTAN izin 28 perusahaan membuka peluang bagi pemulihan lingkungan pascabencana Aceh dan Sumatra.
PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir bukan sekadar fenomena singkat.
Korupsi tersebut adalah gejala dari penyakit sistemik yang belum juga disembuhkan, yakni politik berbiaya tinggi.
PEMBERANTASAN korupsi di Republik ini seolah berjalan di tempat, bahkan cenderung mundur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved