Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Ujian Kekuatan ASEAN

28/7/2025 05:00

KONFLIK lama Thailand-Kamboja yang kembali pecah sejak Kamis (24/7) tentu saja merupakan bahaya besar. Perang bukan hanya akan berdampak pada kedua negara, termasuk dengan banyaknya korban jiwa yang hingga kemarin sedikitnya telah mencapai 33 orang, baik di Thailand maupun Kamboja. Lebih dari itu, konflik berdarah tersebut juga akan berdampak pada stabilitas kawasan ASEAN.

Secara geografis saja, luasnya wilayah perbatasan yang saling bersinggungan membuat negara lain di kawasan semenanjung itu rentan terimbas. Pada bentrok saat ini pun hal yang ditakutkan tersebut sudah terjadi dengan jatuhnya peluru artileri Kamboja di Laos.

Memang tidak ada laporan korban, tetapi insiden semacam itu bisa menjadi bensin bagi perang yang lebih besar. Sekarang pun para provokator sudah mengembuskan rumor bahwa insiden itu adalah kesengajaan Kamboja demi memancing Laos masuk dalam konflik.

Di tengah situasi yang semakin memanas ini, peran ASEAN jelas sangat diharapkan. Namun, ironisnya, sejak awal dibentuk lebih dari setengah abad lalu, ASEAN memang dikenal tidak memiliki taji terhadap anggota sendiri. Jangankan untuk menengahi konflik, dalam mendorong nilai-nilai universal seperti penegakan HAM dan demokrasi pun, ASEAN harus diakui lemah.

Hal itu berpangkal pada prinsip non-intervensi yang menjadi salah satu prinsip utama dalam Piagam ASEAN. Harus diakui, prinsip non-intervensi itulah yang membuat negara-negara kawasan Asia Tenggara, yang sejatinya sarat konflik sejarah dan sosial, akhirnya mau bergabung dalam keanggotaan ASEAN.

Namun, harus diakui pula, di sisi lain prinsip itu sekaligus menjadi hambatan terbesar bagi ASEAN untuk maju dan memiliki kekuatan mengikat seperti organisasi-organisasi kerja sama di kawasan Eropa. Betapa pun seolah menciptakan kedamaian, prinsip lama ASEAN pada akhirnya membuat organisasi ini dikerdilkan oleh anggota sendiri.

Kelemahan tersebut bisa dilihat dalam konflik Thailand-Kamboja terkini. Upaya PM Malaysia Anwar Ibrahim sebagai pemegang Ketua ASEAN saat ini untuk menjembatani perundingan dicueki oleh Thailand dan Kamboja. Keduanya sama-sama menegaskan tidak ingin ada keterlibatan pihak ketiga.

Akan tetapi, sikap kedua negara itu justru berbeda 360 derajat terhadap upaya serupa dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Thailand langsung mengumumkan setuju untuk melakukan gencatan senjata dan memulai perundingan dengan Kamboja.

Ini seperti mengulang cerita lama sekitar 14 tahun lalu ketika ASEAN juga dipermalukan serupa dalam konflik Thailand-Kamboja. Kala itu Kamboja meminta bantuan Dewan Keamanan PBB untuk menjadi penengah. DK PBB kemudian menunjuk Indonesia yang memegang jabatan Ketua ASEAN untuk turun tangan. Namun, setelah pertemuan tiga negara di Bogor, Thailand kemudian menolak menjalankan hasil kesepakatan untuk penempatan observer dari Indonesia.

Berbagai peristiwa itu semestinya menjadi refleksi, bahkan tamparan bagi seluruh pemimpin negara ASEAN. Berbagai tantangan global saat ini, termasuk krisis sumber daya dan iklim, sesungguhnya membutuhkan kerja sama yang lebih erat, solid, dan kuat.

ASEAN, dengan sejarah akar yang kuat, semestinya memberikan peran lebih besar kepada sesama anggota. Terlebih penghormatan kedaulatan yang telah ditunjukkan selama 57 tahun sejarah ASEAN, semestinya itu menjadi modal untuk kepercayaan yang lebih erat terhadap kemampuan organisasi itu sendiri.

Kiranya di situlah Indonesia dapat memainkan peran. Sebagai salah satu pendiri ASEAN dan hingga kini menjadi salah satu negara yang disegani, Indonesia dapat mendorong wacana kerja sama yang lebih kuat dan adanya mekanisme penyelesaian konflik yang lebih jelas di antara negara-negara ASEAN.

Sebab, tanpa itu, ASEAN justru akan semakin kehilangan kehormatan sekaligus kemampuan menjadi organisasi yang seharusnya mampu menjaga kestabilan dan mendorong tumbuhnya kawasan tersebut.

 



Berita Lainnya
  • Timnas Futsal di Titik Awal Menuju Puncak

    07/2/2026 05:00

    KEBERHASILAN tim nasional futsal Indonesia menembus final Piala Asia Futsal 2026 menandai sebuah babak penting dalam sejarah olahraga nasional.

  • Ekonomi Mulai di Zona Terang

    06/2/2026 05:00

    KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.

  • Alarm Pengelolaan Sampah

    05/2/2026 05:00

    BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.

  • Jaga Regenerasi Bulu Tangkis Kita

    04/2/2026 05:00

    SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.

  • Meneruskan Ambang Batas Parlemen

    03/2/2026 05:00

    KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.

  • Tindak Aksi Kemplang Pajak

    02/2/2026 05:00

    DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.

  • Benahi Bursa Efek Indonesia

    31/1/2026 05:00

    KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.

  • Jangan Ulangi Kasus Hogi

    30/1/2026 05:00

    DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.

  • Memangkas BBM Subsidi Berbasis Keadilan

    29/1/2026 05:00

    PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

  • Menunggu Bukti Aksi Purbaya

    28/1/2026 05:00

    BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.

  • Gaji Kecil bukan Pembenar Aksi Korup

    27/1/2026 05:00

    Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.

  • Lalai Mencegah Bencana

    26/1/2026 05:00

    NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.

  • Akhiri Menyalahkan Alam

    24/1/2026 05:00

    BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.

  • Pencabutan Izin bukan Ajang Basa-basi

    23/1/2026 05:00

    PENCABUTAN izin 28 perusahaan membuka peluang bagi pemulihan lingkungan pascabencana Aceh dan Sumatra.

  • Mewaspadai Pelemahan Rupiah

    22/1/2026 05:00

    PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir bukan sekadar fenomena singkat.

  • Akhiri Biaya Politik Tinggi

    21/1/2026 05:00

    Korupsi tersebut adalah gejala dari penyakit sistemik yang belum juga disembuhkan, yakni politik berbiaya tinggi.