Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
BERCANDA itu tidak dilarang. Bahkan, bercanda punya banyak manfaat untuk kesehatan fisik dan mental serta mengurangi stres. Bercanda juga diyakini dapat mempererat hubungan sosial.
Namun, apa jadinya kalau bercanda dilakukan dengan cara yang tidak tepat? Jika dilakukan oleh seorang pejabat, apalagi sekelas menteri, untuk urusan yang amat penting, candaan bisa menuai polemik dan bikin resah masyarakat luas.
Adalah Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid yang melakukan itu. Nusron menyatakan bahwa tanah yang menganggur atau tidak memiliki aktivitas selama dua tahun akan diambil alih oleh negara.
Menurut Nusron, pada dasarnya seluruh tanah di Indonesia adalah milik negara, sedangkan masyarakat hanya diberikan status kepemilikan atas tanah sehingga bisa diambil alih negara jika tidak dipergunakan.
Mengapa semua tanah milik negara? Karena, kata Nusron, para leluhur kita, kakek kita, tidak bisa membuat tanah, memiliki tanah. "Mbahmu, embah-embah kita tidak bisa membuat tanah. Jadi, semua tanah memang milik negara," kata Nusron dengan intonasi dan gestur serius, tidak tampak dia sedang bercanda.
Begitu urusan 'tanah embahmu' itu viral karena dianggap menyinggung rakyat, Nusron meminta maaf sembari menyebut pernyataannya itu hanya bercanda. Akan tetapi, tentu publik menyebut candaan tersebut tidak lucu.
Candaan Nusron yang tidak lucu, sekali lagi membuat publik meragukan kapasitas menteri. Apalagi, candaan Nusron dilontarkan di tengah jutaan rakyat yang masih bermasalah dengan urusan tanah mereka. Ada ratusan warga pemilik kebun sawit di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Pelalawan, Riau, yang tengah resah lantaran kebun sawit mereka disita negara dan diserahkan kepada BUMN. Ada juga 3,5 juta lahan sawit lainnya yang siap disita negara.
Candaan Nusron itu, jika memang benar ia sedang bercanda, dilontarkan di tempat dan momen yang sangat tidak tepat. Apalagi, publik kini kerap menghadapi hal-hal mengejutkan yang membuat mereka prihatin.
Pernyataan Nusron menunjukkan tidak adanya empati terhadap masyarakat. Nusron bisa berdalih bahwa itu hanyalah salah ucap atau sabqul lisan (keceplosan). Namun, di situlah intinya. Sabqul lisan itu lantaran memang tidak ada empati terhadap apa yang dirasakan masyarakat.
Nusron bukan satu-satunya menteri yang gemar membikin gaduh dan membuat repot Presiden Prabowo. Padahal, sebagai pembantu presiden, menteri mestinya justru meringankan tugas presiden, bukan sebaliknya. Menteri adalah pembantu presiden. Mereka harus meringankan tugas-tugas presiden sesuai bidang masing-masing. Sudah seharusnya mereka membuat kebijakan dan pernyataan yang menenangkan rakyat banyak sesuai permintaan Presiden Prabowo.
Para menteri dan pejabat juga harus menjaga perilaku mereka dan mampu menjaga lisan saat berkomunikasi dengan rakyat. Demonstrasi besar-besaran menuntut pengunduran diri Bupati Pati, Sudewo, juga bisa menjadi contoh pejabat yang tidak mampu menjaga lisan.
Banyaknya blunder yang dilakukan para pejabat sudah semestinya dijadikan sebagai momentum untuk mengevaluasi, sudah layakkah mereka menyandang status setinggi itu? Jika dibiarkan, tidak dievaluasi, blunder-blunder para pembantu presiden itu bisa menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintahan dan merusak wibawa Presiden.
Maka, lekaslah ambil tindakan. Jangan biarkan blunder pernyataan itu terus menumpuk hingga menutupi aksi penting yang sudah ditorehkan. Untuk mereka, para pejabat yang gemar membuat blunder lewat pernyataan, mulailah berhati-hati sebelum berkata-kata. Ingat, mulutmu harimaumu!
SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.
BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.
DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.
INGGINYA tingkat kepuasan masyarakat merupakan hal yang diidam-idamkan pemimpin.
LONJAKAN harga emas dunia seharusnya menjadi kabar baik bagi Indonesia.
WAJAH peradilan negeri ini sungguh menyedihkan. Kasus rasuah lagi-lagi memberikan tamparan keras.
KEBERHASILAN tim nasional futsal Indonesia menembus final Piala Asia Futsal 2026 menandai sebuah babak penting dalam sejarah olahraga nasional.
KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.
BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.
SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.
KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.
DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.
KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.
DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved