Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Membangkitkan Pendidikan

02/5/2025 05:00

BUKAN perkara sulit untuk menebak bagaimana bentuk wajah bangsa ini dalam 10 tahun bahkan hingga 20 tahun ke depan saat negeri ini merayakan satu abad kelahirannya pada 2045 kelak, apakah masih sebagai bangsa yang inferior atau sudah bertransformasi diri menjadi bangsa superior yang bisa berdiri tegak sejajar dengan negara maju lainnya.

Membaca hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2024 mencapai 75,02, meningkat 0,63 poin atau 0,85% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 74,39. Dalam kurun waktu 2020-2024, IPM Indonesia rata-rata meningkat sebesar 0,75% per tahun. Seluruh dimensi pembentuk IPM meningkat, terutama standar hidup layak dan pengetahuan.

Pada dimensi pengetahuan, harapan lama sekolah atau HLS penduduk umur 7 tahun pada 2024 meningkat 0,06 tahun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dari 13,15 tahun menjadi 13,21 tahun. Adapun rata-rata lama sekolah atau RLS penduduk umur 25 tahun ke atas meningkat 0,08 tahun, dari 8,77 tahun menjadi 8,85 tahun pada 2024.

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa masyarakat Indonesia yang sudah masuk kategori dewasa rata-rata hanya mengenyam pendidikan formal selama 8,85 tahun, atau setara dengan kelas 2 SMP (sekolah menengah pertama). Masyarakat yang tinggal di perkotaan tentu akan sulit memercayai bahwa ternyata masih banyak anak Indonesia yang hanya mengenyam pendidikan paling tinggi hingga kelas 2 SMP. Namun, itu fakta yang ditemukan BPS.

Masalah tersebut terjadi bermula dari masih lebarnya kesenjangan pendidikan di berbagai wilayah, kualitas guru yang tidak merata, juga sarana dan prasarana yang belum maksimal. Hasil survei BPS itu jelas bikin hati terasa miris. Pasalnya, survei dilakukan saat Indonesia telah berumur 79 tahun, usia yang sudah bukan belia lagi.

Fakta tersebut masih jauh dari harapan para pendiri bangsa ini, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tertuang tegas dalam Pembukaan UUD 1945. Jika itu tolok ukurnya, jelas negeri ini masih harus berlari jauh dan bekerja ekstra keras. Apalagi jika ingin menjadikan bangsa ini meraih cita-cita Indonesia Emas pada 2045 kelak. Maka, seabrek pekerjaan di bidang pendidikan harus segera dikebut pemerintah.

Jika membaca hasil terakhir Penilaian Siswa Internasional atau Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, kita mesti segera bangkit bersama. Penilaian yang digelar Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tiap tiga tahun sekali itu menempatkan Indonesia di peringkat 69 dari 80 negara yang dinilai.

Dengan mata pelajaran matematika, sains, dan literasi siswa yang diukur sebagai parameter, Indonesia berada di posisi 12 terbawah. Sebaliknya, negara tetangga yang letak geografisnya hanya sepelemparan batu dari Indonesia, yakni Singapura, berada di peringkat pertama, diikuti Tiongkok, Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan.

Dari hasil penilaian 2022 tersebut, diketahui skor kemampuan membaca, matematika, dan sains mengalami penurunan. Hasil itu memperpanjang tren penurunan skor dari penilaian sebelumnya pada 2018.

OECD juga menemukan, 43,21% siswa Indonesia berada di skala sosioekonomi terbawah. Secara global, proporsi siswa Indonesia di skala itu merupakan yang terbesar ke-4 setelah Kamboja, Maroko, dan Guatemala.

Semua data tersebut jelas tak nyaman di hati. Apalagi di hari ini, tepat 2 Mei 2025, negeri ini memperingati Hari Pendidikan Nasional. Data-data itu dapat menjadi cermin untuk menakar kesungguhan bangsa ini menuju cita-cita kemerdekaan, yakni mencerdaskan bangsa. Sebelum orang lain yang menilai, cermin bisa dijadikan alat kita untuk mematut diri.

Apalagi bangsa ini sudah punya target, bukan lagi mimpi, menjadikan Indonesia Emas pada 2045 nanti. Namun, kita mafhum, menjadi emas atau tetap sebagai loyang di masa depan amat bergantung pada keputusan dan tindakan hari ini. Kita benar-benar bisa menjadi emas asal semua elemen bergerak bersama, bangkit bersama, bergotong royong bersama. Negeri ini tidak sedang melawan kemustahilan, karena pada hakikatnya kita punya modal sosial yang bisa digerakkan.

 



Berita Lainnya
  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Swasembada Energi semata demi Rakyat

    13/2/2026 05:00

    SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.

  • Makin Puas, makin Tancap Gas

    12/2/2026 05:00

    INGGINYA tingkat kepuasan masyarakat merupakan hal yang diidam-idamkan pemimpin.

  • Mewujudkan Kedaulatan Emas

    11/2/2026 05:00

    LONJAKAN harga emas dunia seharusnya menjadi kabar baik bagi Indonesia.