Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
EKS marinir TNI-AL yang kini jadi tentara bayaran Rusia, Satria Arta Kumbara, kembali membuat sensasi.
Pada Mei 2025, ia membuat rekaman video yang menunjukkan kebanggaannya bergabung dengan militer Rusia sebagai tentara bayaran.
Hanya dalam hitungan bulan, Juli 2025, ia kembali membuat video dan kali ini berisi penyesalannya atas konsekuensi dari keputusannya itu. Ia pun berharap dapat kembali menjadi warga negara Indonesia (WNI).
Kedua videonya itu menjadi sensasi, menjadi bahasan publik. Ada yang iba, ada pula yang memandangnya sinis. Menjadi tentara bayaran Rusia, kata Satria, dalam video pertamanya, ia putuskan tanpa paksaan untuk mencari nafkah di negeri orang.
Bagi Satria, gajinya saat menjadi anggota marinir TNI-AL jauh dari cukup untuk menghidupi keluarganya. Secara akal sehat, keputusannya itu dapat diterima banyak orang. Pindah kerja untuk mendapatkan gaji yang lebih besar tentu menjadi pilihan rasional di tengah beratnya impitan beban hidup.
Beban hidup itu yang menjadi satu-satunya hal yang memaksa Satria pindah ke negeri orang. Apalagi Indonesia merupakan sebuah negara yang menjamin kebebasan hak asasi warganya. Tiap warga berhak untuk menentukan sendiri jalan hidup mereka, negara tak boleh masuk ke urusan privat warganya.
Namun, keputusan rasional Satria itu tentu ada konsekuensinya secara hukum. Ia harus rela dikeluarkan dari kesatuannya. Ia pun harus mengikhlaskan hilangnya status kewarganegaraannya sebagai WNI secara otomatis.
Bukan cuma itu, Satria sejak awal harusnya paham bahwa keputusannya itu akan membuatnya berstatus stateless, alias orang yang tak punya status warga negara mana pun. Ia bukan lagi warga Indonesia. Ia juga bukan warga Rusia karena hanya menumpang hidup di sana.
Sulit dipahami jika Satria tak menyadari itu. Literasi konsekuensi menjadi prajurit TNI tentu telah dipelajarinya saat ditempa di kesatuannya dulu.
Literasi itu termasuk UU No 12/2006 tentang Kewarganegaraan RI yang menyebutkan WNI kehilangan kewarganegaraannya jika masuk ke dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari presiden.
Pasal 23 (e) UU tersebut bahkan lebih tegas lagi mengaturnya. Bahwa WNI kehilangan kewarganegaraannya jika yang bersangkutan secara sukarela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan dalam dinas semacam itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan hanya dapat dijabat oleh WNI.
Karena mengatur tentang kewarganegaraan, UU itu menjadi salah satu aturan pelaksana tujuan hidup bernegara. UU itu mengatur kewajiban negara dalam melindungi warganya, diatur pula kewajiban warganya terhadap negara.
Rasanya muskil dicerna kalau Satria tak menyadari bahwa keputusannya itu bisa berdampak pada kehilangan status kewarganegaraannya secara otomatis. UU No 12/2006 tentu menjadi materi dasar saat ia dididik menjadi prajurit dulu sebelum ditempa menjadi prajurit terlatih di marinir.
Karena itu, jika ia sekarang ingin kembali menjadi WNI, negara harus berhati-hati menyikapinya. Negara harus tetap punya sisi manusiawi dalam memandangnya, tapi negara juga tak bisa dengan mudah mengingkari hukum yang ada.
DPR juga telah mengingatkan, penyelesaian negara dalam kasus itu tak bisa hanya berlandaskan rasa iba. Negeri ini punya aturan hukum untuk dijalankan dan dipatuhi bersama, bukan untuk jadi bahan mainan.
Kasus Satria itu sekaligus bisa menjadi pelajaran semua warga, terlebih bagi prajurit TNI dan yang telah purnatugas, bahwa kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia bersifat mutlak. Tak ada tawar-menawar dalam urusan itu, apalagi jika hanya menyangkut urusan perut.
Di sini pula kita bisa belajar bahwa bagi prajurit pengawal bangsa, kesetiaan kepada bangsa dan negara tidak bisa dan tak boleh dijadikan coba-coba.
Korupsi tersebut adalah gejala dari penyakit sistemik yang belum juga disembuhkan, yakni politik berbiaya tinggi.
PEMBERANTASAN korupsi di Republik ini seolah berjalan di tempat, bahkan cenderung mundur.
PERTENGAHAN minggu ini, satu lagi kebijakan agresif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai berlaku. Mulai 21 Januari, Trump menghentikan proses visa dari 75 negara.
PASAR keuangan Indonesia sedang mengirimkan sinyal bahaya. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hebat sejak pergantian tahun.
SECERCAH harapan tentang akan hadirnya undang-undang tentang perampasan aset kembali datang.
TATANAN dunia yang selama puluhan tahun menjadi fondasi hubungan antarnegara kini berada dalam ujian terberat sejak berakhirnya Perang Dunia II.
POINT of no return, alias maju terus meski tantangan dan risiko yang akan dihadapi sangat besar.
KEBEBASAN berekspresi yang dilindungi oleh konstitusi menghadapi tantangan serius akhir-akhir ini.
BELUM dua pekan menjalani 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah dua kali unjuk taring.
KABAR yang dinanti-nanti dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang penetapan tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan 2024 akhirnya datang juga.
HAKIM karier dan hakim ad hoc secara esensial memiliki beban dan tanggung jawab yang sama.
Meski berdalih memberikan rasa aman kepada jaksa, kehadiran tiga personel TNI itu justru membawa vibes intimidasi bagi masyarakat sipil di ruang sidang tersebut.
SERANGAN Amerika Serikat (AS) ke Venezuela bukan sekadar eskalasi konflik bilateral atau episode baru dari drama panjang Amerika Latin.
DI awal tahun ini, komitmen wakil rakyat dalam memperjuangkan pemberantasan korupsi sejatinya dapat diukur dengan satu hal konkret
DALAM sebuah negara yang mengeklaim dirinya demokratis, perbedaan pendapat sesungguhnya merupakan keniscayaan.
REKONSTRUKSI dan rehabilitasi pascabencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara kembali menempatkan negara pada ujian penting.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved